Pancasila, Nasibmu Kini

Posted by

masa-kini.id – Selamat Hari Lahir Pancasila! Hari ini barangkali kita akan banyak membaca kalimat ini bertebaran di media-media sosial, baik sekadar berupa status, meme, maupun narasi padat seperti reportase, esai dan opini. Masih adanya ucapan selamat ini tentu menggembirakan, karena menandakan Pancasila belum hilang dari ingatan kita, baik secara individu maupun kolektif. Adanya ucapan selamat ini juga menandakan kepedulian kita pada Pancasila masih ada. Meskipun kian hari kian menipis.

Sesungguhnya ada hal yang lebih penting lagi mendesak ketimbang ucapan selamat tersebut, yaitu seberapa serius kita menghidupkan dan menghidupi Pancasila. Seperti yang kita rasakan dan lihat sehari-hari, nilai-nilai Pancasila kian teralienasi dan meluruh dari kehidupan bangsa ini. Jika benar Pancasila merupakan jati diri bangsa, berarti meluruhnya nilai-nilai Pancasila menjadi indikator meluruhnya jati diri bangsa ini. Jika demikian, berarti kita tengah bergerak kehilangan jati diri.

Parahnya, walaupun kesadaran makin teralienasinya Pancasila ini telah tumbuh, tapi ternyata belum dibarengi upaya serius untuk mencarikan jalan keluarnya. Sebaliknya, yang kita rasakan dan saksikan saban hari justru peluruhan nilai-nilai Pancasila ini makin menjadi-jadi saja. Kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang makin subur, menjamurnya kasus penyalahgunaan NAPZA, perjudian, pesta minuman keras, tawuran, dan banyaknya kekerasan atas nama agama menjadi bukti hal ini. Selain itu, jurang ketimpangan kesejahteraan sosial-ekonomi yang masih saja menganga juga turut memperparah.

Baca juga : Quo Vadis Haluan Ideologi Pancasila?

Berbeda dengan awal-awal kelahirannya dan beberapa dekade lalu, Pancasila kini tak lagi mampu memperlihatkan kesaktiannya. Ia tak ubahnya aksesoris yang dipajang di dinding atau karya seni klasik yang dipamerkan di kotak kaca etalase museum. Padahal, sebagai sebuah ideologi, mestinya Pancasila memainkan peran sebagai motor penggerak sekaligus cita-cita pembangunan bangsa ini. Segala program pembangunan, baik fisik maupun ruhani bangsa Indonesia, haruslah berlandaskan nilai dan filsafat Pancasila. Tiap Sila yang dirinci dalam butir-butirnya haruslah diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Bukan berhenti pada memori hapalan kepala.

Sayangnya, hal itu masih jauh panggang dari api. Alienasi Pancasila berikut distorsi nilai-nilainya telah menjalar di hampir semua sektor kehidupan kita. Oleh karena sila-sila Pancasila saling bertaut secara organis, distorsi terhadap satu sila telah berdampak pada sila lainnya. Nilai ketuhanan dalam sila pertama, telah mengalami penyempitan dan kembali terkotakkan berdasarkan identitas keagamaan. Toleransi antarumat beragama terasa makin mahal. Sebaliknya, kecurigaan dan syakwasangka di antara mereka kian menguat seiring banyaknya konflik sosial keagamaan yang terjadi belakangan ini.

Baca juga : Agama di Negara Pancasila

Nilai kemanusiaan pada sila kedua juga mengalami hal yang tak jauh berbeda. Egoisme dan individualisme telah memangkas nilai-nilai kemanusiaan dari benak kita. Prioritas kita ini adalah keuntungan diri dan kelompok saja dan abai terhadap kepentingan bersama. Sikap demikian ini diperparah oleh konsumerisme yang kian mengagama sebagai dampak dari kapitalisme yang terus kita dewakan.

Buntut dari distorsi nilai ketuhanan dan kemanusiaan itu berdampak pada kian rapuhnya rasa persatuan dan kesatuan kita. Bisa kita lihat di media sosial hari ini, kita begitu mudahnya kebakaran jenggot saat ada yang menyinggung identitas kita sedikit saja. Tanpa melakukan tabayun, kita langsung mengumpat, menghujat, dan memvonis yang lain sebagai musuh. Padahal, sangat besar kemungkinan pendiskreditan itu dilakukan oleh oknum tak bertanggungjawab yang seidentitas dengan kita.

Bila rasa persatuan dan kesatuan telah terdegradasi dan memudar, tentu akan sulit─jika enggan berkata mustahil─menegakkan nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam sila keempat. Prinsip kesamaan derajat yang mendasari demokrasi tidak akan terlaksana manakala mata dan hati kita terbutakan oleh sikap diskriminatif akibat perasaan superioritas atas yang lain.

Sikap diskriminatif tersebut menjadi dinding penghalang yang tinggi lagi tebal bagi penegakan nilai keadilan yang terkandung dalam sila kelima. Bagaimana mungkin terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, jika diskriminasi menjadi fondasi kita dalam bersikap. Mustahil lahir program-program yang berorientasi pada kesejahteraan bersama, jika yang diperkaya hanya diri sendiri dan golongan.

Alienasi dan distorsi ini menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi kita bersama. Sudah saatnya kita tidak lagi memposisikan Pancasila sebagai monumen kenangan yang hanya dipajang di dinding atau etalase sejarah. Pancasila itu statis, kitalah yang membuatnya dinamis. Satu-satunya jalan adalah dengan menghidupakannya dalam kehidupan sehari-hari. Penafsiran kontekstual atas sila-sila Pancasila harus terus kita lakukan. Sektor pendidikan sudah saatnya berhenti mengajarkan Pancasila sebatas hapalan saja. Pancasila harus diinternalisasikan kedalam diri siswa melalui proses habituasi dan keteladanan.

Baca juga : Islam dan Pancasila

Sektor industri sudah saatnya kembali menjadikan Pancasila sebagai landasan utamanya, bukan malah menjadikan kapitalisme sebagai ruh dalam setiap kegiatannya. Kesejahteraan bersama misalnya, harus menjadi prioritas. Relasi pekerja dan pemilik modal harus dibangun berlandaskan prinsip kesetaraan sebagai manusia. Sehingga posisi keduanya adalah sebagai mitra, bukan tuan dan budak.

Hal yang sama berlaku pada sektor-sektor lain seperti pertanian, perdagangan, transportasi, sosial, dan budaya. Saatnya kita kembali kepada jati diri kita sendiri. Hanya dengan demikian, kita akan memiliki pondasi yang kukuh menghadapi tantangan-tantangan globalisasi yang perubahannya demikian akseleratif.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *