Abdul Malik Fadjar: Mengajak Berpikir Rasional, Profesional, Tanpa Meninggalkan Spiritual

Posted by

Banyak orang menilai, saya dekat dengan Pak Malik Fadjar. Penilaian itu tidak salah, saya sejak pertengahan tahun 1970-an kenal beliau dan langsung dekat. Waktu itu, beliau menjadi Sekretaris Fakultas Tarbiyah IAIN Malang, sedangkan saya masih menjadi mahasiswa tingkat doktoral di kampus itu.

Ketika itu saya menjadi dekat dengan Pak Malik Fadjar karena saya dianggap memiliki kelebihan di bidang statistik. IAIN ketika itu bekerjasama dengan Ford Foundation melakukan kegiatan penelitian bersama. Kebetulan waktu itu menggunakan survey yang datanya kuantitatif dan lebih tepat dianalisis dengan statistik. Orang IAIN waktu itu belum banyak mengenal statistik, sehingga saya selalu diikutkan karena kemampuan saya di bidang itu. Saya merasa tidak sulit mengerjakan analisa statistik karena saya memiliki bekal kemampuan hitung-menghitung yang saya peroleh sejak dari SMA. Umumnya mahasiswa IAIN berlatarbelakang pesantren atau madrasah, umumnya tidak terlalu  tertarik dengan data kuantitatif atau mengolah data berupa angka.

Waktu itu, pada tahun 1975,  saya sudah bekerja di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) diajak oleh Prof. Masyfu’ Zuhdi sebagai Rektornya. Pergaulan saya dengan Pak Malik Fadjar terputus, karena beliau bertugas belajar ke Amerika Serikat. Namun setelah pulang kembali, Pak Malik Fadjar justru lebih aktif di Universitas Muhammadiyah Malang. Beliau dipercaya menjadi Dekan FISIP. Di kampus ini, saya semakin dekat dengan beliau.

Pilihan rasional yang selalu dipegang oleh Pak Malik Fadjar, tampak sekali dalam memilih kawan untuk mengembangkan lembaga pendidikan dan bahkan ketika beliau menjabat sebagai Rektor, Dirjen, maupun Menteri. Hal demikian kayaknya sederhana. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari tidak banyak orang mampu menjalankannya. Biasanya orang lebih memilih teman dekat satu kampung, sesama organisasi, aliran, atau bahkan keluarga, tatkala akan menempatkan orang pada posisi tertentu. Pak Malik Fadjar tidak demikian. Sekalipun seseorang itu memiliki hubungan dekat jika dianggap bukan ahli di bidangnya atau tidak punya kemampuan tidak akan dipilih. Beliau lebih memilih orang lain yang tidak memiliki hubungan apa-apa tetapi memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Jiwa nepotisme tidak dimiliki oleh Pak Malik Fadjar.

Mengambil sikap tidak nepotis tersebut menjadikan Pak Malik Fadjar memiliki teman dari berbagai kalangan yang bermacam-macam. Sekalipun beliau menjabat sebagai tokoh Muhammadiyah tingkat pusat, tetapi kawan-kawannya berasal dari lintas kelompok, organisasi, dan juga agama. Pak Malik Fadjar dekat dengan tokoh-tokoh NU, Al-Washliyah, dan bahkan dengan berbagai agama. Sekadar beda organisasi, kelompok, dan bahkan agama tidak menghalagi untuk berkomunikasi, berteman, juga bekerjasama. Pilihan-pilihannya lebih rasional dan profesional.

Sikap Pak Malik Fadjar yang demikian tersebut tidak berarti tidak memiliki tantangan. Orang-orang yang merasa dekat dengannya, artinya telah lama menjadi kawan, sesama Muhammadiyah, atau sesama asal daerah dan lain-lain oleh karena tidak memiliki kemampuan dan kemudian tidak diberi posisi strategis yang diinginkan, akan kecewa. Menganggapnya Pak Malik Fadjar tidak ingat kawan atau kelompoknya sendiri. Pak Malik Fadjar tampak sangat tidak suka jika orang datang minta saudaranya diangkat jadi pegawai, diberi jabatan dan semisalnya. Beliau menunjukkan ketidaksukaannya terhadap orang yang titip, karena orang yang dititipkannya itu dianggap pasti tidak berkualitas. Andaikan pintar dan punya kelebihan seseorang pasti dicari dan bahkan diperebutkan.

Orang yang menentang Pak Malik Fadjar sebagai dampak dari pilihan-pilihan rasional dan profesional, justru dari orang dekatnya, dan bahkan yang paling banyak dari orang Muhammadiyah sendiri. Beliau selalu mengatakan berulang-ulang, bahwa instusi pendidikan jangan dikelola seperti mengelola  ormas. Ormas biasanya dikelola dengan pendekatan subyektif, tertutup, dan juga irrasional. Orang dekat atau berasal dari jama’ah atau kelompoknya sendiri lebih diutamakan dibanding orang dari kelompok lain. Begitu pula, beliau lebih mengutamakan sistem daripada kekuatan orang perorang. Sistem disebutnya harus dibangun secara kokoh. Beliau mengingatkan, agar maju jangan mengikuti managemen tukang cukur. Tukang potong rambut tidak mementingkan sistem, tetapi orang dan bahkan tidak di-manage. Semua pekerjaannya ditangani sendiri, yaitu mulai buka bedak, mengasah gunting, memotong rambut, membersihkan, dan juga menerima upah, diurus sendiri. Itulah manajemen tukang cukur yang tidak pernah usahanya menjadi maju dan berkembang. Karena itu usaha apa saja, jangan menggunakan manajemen tukang cukur.

Sikap rasional dan profesional Pak Malik Fadjar tidak berarti beliau mengabaikan aspek yang bersifat spiritual. Pak Malik juga dekat dengan kiai pesantren. Beliau akrab dengan kiai-kiai sepuh. Ketika menjadi menteri agama, selalu menyempatkan diri datang ke pesantren-pesantren. Dengan para kiai, Pak Malik Fadjar bisa ngomong panjang hingga berjam-jam. Ketika Gus Dur kembali dari Baghdad, Pak Malik segera datang ke rumahnya. Sekalipun Gus Dur tidak punya ijazah, beliau diangkat oleh Pak Malik Fadjar menjadi dosen tingkat doktoral di IAIN Malang. Gus Dur orang yang memiliki kekayaan spiritual dan intelektual, tanpa bukti-bukti formal, dijadikan kawan dekat dan diminta menjadi dosen, sekalipun sebelumnya Gus Dur ketika itu masih ingin menjadi mahasiswa tingkat doktoral dan bukan menjadi dosen tingkat doktoral. Mungkin juga tidak banyak orang tahu, bahwa di rumahnya di Malang pada saat-saat tertentu diselenggarakan kegiatan membaca surat yasin dan tahlil. Menyebut kegiatan ini untuk menunjukkan bahwa Pak Malik tidak mengabaikan kegiatan yang bersifat spiritual. Kini sejak Senin malam, 07 September 2020 pukul 19.00, Pak Malik Fadjar telah menuju keabadian. Tinta emas beragam karya telah diukir dan jadi kenangan indah sepanjang masa. Selamat jalan sahabatku. Surga telah menantimu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *