Abdul Malik Fadjar

Posted by

Oleh: Ahmad Erani Yustika*)

Saya masuk kampus Universitas Brawijaya pada 1991 dan saat itu sudah mendengar nama populer: Abdul Malik Fadjar. Pada masa tersebut pria bertubuh jangkung ini sudah menjadi Rektor UMM (Universitas Muhammadiyah Malang). Harus diakui, kiprah dan namanya lebih bergema ketimbang rektor-rektor kampus lainnya di Malang, bahkan dibanding kampus negeri (PTN) sekalipun. Saya kira sebagian penjelasannya ialah: ia pendidik yang rajin menulis gagasan, tokoh pergerakan (Muhammadiyah), dan kaya pergaulan. Singkatnya: ia noktah besar dunia pendidikan dan pergerakan.

Mahasiswa UMM amat mujur karena sosok perokok berat ini begitu dekat dengan mahasiswa, apalagi para aktivis. Mereka begitu gampang bertemu Pak Malik: dalam suasana yang jauh dari formalitas. Saya sendiri mendapatkan berkah bersua beliau sebab berkarib dengan kawan-kawan aktivis UMM. Bahkan, karena putra ketiganya adalah sahabat sekelas (yang kemudian menjadi kolega dosen di FEB UB), saya kerap mencicipi makan di rumahnya. Di situlah beberapa laku kesehariannya yang bersahaja saya ketahui, termasuk kedoyanannya makan kerupuk.

Pada periode 1995 – 1998 ketika Orde Baru memasuki senjakala, ia menjadi salah satu aktor penting, termasuk menuntut agar Presiden Soeharto mengundurkan diri. Pak Malik menjadi lokomotif diskusi, rapat-rapat, dan aneka kegiatan untuk perubahan bangsa. Namanya makin mekar pada kancah nasional, terutama karena akarnya di pergerakan (sejak mahasiswa), berkhidmat di jamiyah, dan kedalaman pengetahuan. Kami tempo itu menasbihkan beliau sebagai “suara” Malang pada masa pancaroba politik.

Singkat kisah, setelah medio 1998 itu, ia menjadi figur sentral nasional: petinggi Muhammadiyah, menteri, sekaligus pendidik. Saya sesekali masih sempat sarapan rawon di rumahnya di Tebet (Jaksel) dan bertemu dalam beberapa kesempatan. Terakhir bersua dengannya saat mengantar (alm) Dawam Rahardjo ke peristirahatannya (TMP Kalibata, Mei 2018), juga masih dengan gaya yang sama: sederhana, rileks, dan ramah. Tak ada pengawalan atau simbol posisi sebagai pejabat lainnya, padahal ketika itu beliau masih menjabat sebagai Wantimpres.

Usai itu tak pernah berjumpa lagi, sampai mendengar berita pedih pada Senin malam (7/9/2020): Pak Malik mangkat. Setelah menelpon putra sulungnya, saya langsung menuju rumah duka ketika jenazah masih di rumah sakit. Esoknya turut mengikuti prosesi penyerahan jenazah ke negara (setelah disalatkan di masjid dekat rumahnya). Semasa hayat, hidupnya disibukkan memproduksi teladan, bukan citra lewat ucapan. Wendell Holmes Jr. bilang: “The man of action has the present, but the thinker controls the future.” Pak Malik menggenggam keduanya. Selamat jalan, Guru.

*) Guru Besar Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *