Ada Yang Lebih Menakutkan Tapi Bukan Tuhan

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya (Ali Imran ; 145)

Covid-19 sudah menelan banyak korban. Hingga tulisan ini dibuat, 11.310 korban tercatat di seluruh dunia. Ditemukan di 64 lebih negara termasuk China sebagai poros pertama merebaknya corona. Kejadiannyai merupakan bukti begitu menakutkannya virus yang satu ini.

Berbagai negara sudah melakukan antisipasi terhadap menyebarnya pandemi Covid-19. Salah satunya Indonesia, negara ini tidak lagi santuy menghadapi ancaman corona virus. Belum lepas dari ingatan ketika awal mula corona virus merebak di Wuhan, China. Lantas, diikuti viralnya prediksi corona dalam iqra’ jilid 1 karangan As’ad Humam. Sampai dengan munculnya lagu koplo corona (komunitas rondo merana) yang sehari langsung di-takedown dari youtube.

Jangan pake hukum kausal dalam memahami ini. Camkan itu!!!

Usai covid-19 mampir di Indonesia. Ketakutan hadir di setiap penjuru negeri. Padahal, kemungkinannya sudah bisa dimengerti ketika pertama kali muncul virus ini. Tapi, respon sudah pasti menunggu virus hadir terlebih dahulu. Tidak bermaksud mengatakan tidak antisipatif. Faktanya, semenjak hadir, indikasi terpapar corona virus tak begitu banyak. Namun akumulasi korban meninggal punya prosentase tinggi. Wajar saja, soalnya tidak ada yang tahu pasti keberadaannya.

Sepakat dengan yang dikatakan @maiyahID dalam tweet-nya.

Virus itu seperti telek burung. Jatuhnya random, setiap orang berpotensi ke telek an, dan tidak ada satupun yang bisa memastikan dirinya tidak ke telek an.

Sesuatu yang random membutuhkan ikhtiar, jodoh misalnya (alah mblo mblo). Usahanya, sebaiknya dilakukan jauh sebelum telek burung jatuh. Lah kalau sudah jatuh? Pastikan saja, jangan sampai tertimpa tangga pula. Itulah yang terlihat dilakukan oleh pemerintah bangsa ini.

Sayangnya, itu hanya part mikro dari ikhtiar. Biar lebih paham makro-nya pakai saja Ar-Ra’d ayat 11. Perubahan besar hanya akan terjadi ketika individu punya kemauan untuk merubahnya. Salah satunya dengan penerapan yang dihumbaukan yakni social distance.

Himbauan untuk melakukan social distance sudah menyebar luas di masyarakat. Antisipatif memang, untuk meminimalisir terjadinya penularan covid-19.

Saya akan mencoba curhat tentang apa yang saya alami. Anda baca terlebih dahulu agar tidak gagal dengan istilah jaga jarak.

Seperti halnya adam lainnya, saya punya kewajiban sholat jum’at. Setelah sholat kebiasaan berjabat tangan dengan jama’ah selalu dijalankan. Akan tetapi, himbauan itu membuatnya tidak berlaku. Saya mengalami penolakan, mirip ukhti-ukhti ketika diajak berjabat tangan. Oke tidak masalah, kan kita juga tak saling mengenal. Baiklah ukhti, sekarang kita putus!!!

Positif thinking-nya, kita meniru pejabat yang sedang mencontohkan untuk menghindari kontak fisik. Tidak salah, namun penting untuk paham berkaitan dengan social distance sebelum mencoba untuk menerapkan. Cara melakukannya ialah dengan menjaga jarak atau mengindari pertemuan dalam skala besar. Makanya, sekolah diliburkan, diskusi dan pengajian ditunda. Lha jumatan? Kita berada di shaf yang sama. Bila ke telek an, otomatis anda sudah tercium baunya dan kena corona dong.

Diluar ketakutan akan corona virus masih banyak pengambilan langkah yang perlu diperhitungkan. Dukungan masyarakat begitu diperlukan guna menekan penyebaran virus menakutkan ini. Perlu digaris bawahi upaya individu oleh pihak masyarakat. Status darurat virus corona rasanya tidak akan berhenti dalam waktu singkat. Upaya masif pemegang wewenang perlu dipahamkan dalam lingkup masyarakat luas. Apalagi ketika nantinya diambil jalan lockdown, sama halnya negara terpapar lainnya.

Ibu-ibu pedagang di pasar tidak mungkin membatasi jaraknya. Masyarakat grassroot hidup bermodal kedekatan sosial.

Lebih Berbahaya dari Corona

Pembahasan mengenai corona sedang gencar-gencarnya. Penanganan dan pecegahan versi kesehatan terus diupayakan guna menekan angka kematian akibat corona virus. Siapa tahu bisa membantu menghindarkan diri dari virus yang ‘katanya’ berbahaya ini.

Sebagai orang yang tidak paham sama sekali masalah kesehatan, saya akan membagikan beberapa tips  perihal konsep sakit. Tips ini diberikan buah dari pemahaman terhadap penjelasan Emha Ainun Najib yang dikemas di. nu.or.id. Pengatahuan ini dirasa penting, dikarenakan, pencegahan secara kesehatan sudah selesai sesuai ajuran.

Pertama, sakit tidak bisa mereposisi Tuhan dalam hidup. Keyakinan yang harus ditanamkan, sakit merupakan hak mutlak dari Tuhan. Tidak ada keberpihakan dari-Nya terhadap sehat sakitnya manusia. Makanya kita sebaiknya sadar posisi. Kehadiran sakit bisa ditempatkan sebagai pendidikan atau hukuman. Porsinya bukan penghakimanmu pada yang lain, tetapi atas dirimu sendiri.

Kedua, konsep sakit kemudian mati hak prerogative Tuhan. Mematikan dan menghidupkan berkaitan kehendak-Nya. Ketika ada upaya untuk selalu sehat bukan diartikan agar tidak cepat sakit atau mati. Dipahami dengan akal sehat, bahwa itu merupakan bentuk kesetiaan terhadap Tuhan pemilik makhluk.

Ketiga, gencar melakukan ikhtiar. Ketika sehat, selalu menjaga kesehatan dan sakit segeralah merawatnya. Meskipun pengambil keputusan tetap di tangan Tuhan, semua itu perlu diupayakan. Di mata Tuhan rumus kesehatan tidak dapat berlaku. Anda hanya berusaha, tidak bisa berposisi menyembuhkan. Tugasmu hanya menanam, Tuhan-lah yang akan menyemainya.

Prinsip sudah dipegang, ketakutan akan sakit tidak hilang. Hanya saja, menjadi lebih tenang dan gak berlebihan. Corona hanyalah sakit biasa, tidak menutup kemungkinan untuk disembuhkan. Justu yang lebih berbahaya adalah manusia dengan egonya. Informasi-informasi hoax dan menebar ketakutan melalui media sosial. Buah tangan manusia bersama ego menjadi  ancaman melebihi corona virus.

Bila dibuka, media sosial penuh dengan berbagai informasi obat guna mengatasi Corona virus. Akan tetapi, apakah bisa dikonfirmasi kebenarannya? Malahan itu menjadi sumber kepanikan masyarakat.

Dari situlah, penting dalam memahami ego yang tertanam dalam diri manusia. Ego memiliki tanggungjawab terhadap realitas. Oleh karena itulah perlu disaring, demi menemukan porsi tepat sehingga tidak ada dirugikan.

Akhinya, formula terbaik penangkal virus corona dihasilkan melalui perubahan cara pandang. Kepedulian terhadap pandemi Covid-19 bersama perlu ditunjukan. Jadikan ikhtiar sembari tawakal sebagai spektrum pencegahan corona virus. Semoga semuanya cepat terselesaikan dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *