Air Mata Senja

Posted by

Oleh: Arni Arta*)

Senja baru saja dimulai. Kilau oranye dipadu semburat tipis mega menjadi perpaduan temaram. Kepulan asap kopi panas yang meliuk menyelinap dari teras rumah hendak memadukan diri bersama pesta langit kali ini. Seorang wanita duduk dengan sepasang biji bola mata yang menelisik setiap lekukan yang terkepul, sembari tangannya tidak lepas berotasi didalam cangkir. Langit senja ini menjadi lapis kedua selain genteng teras yang menaunginya. Ia menghirup napas dalam-dalam, dan menghembuskannya seiring satu putaran sendoknya terlewati. Saatnya putaran itu berhenti. Ia mendentingkan sendoknya untuk menandaskan tetesan terakhir cairan pekat tersebut. Sebentar lagi, lidahnya akan bergumul dengan cairan hitam yang memikat ini. Ia berdecap, sesaat setelah kopi itu menyentuh titik pusat sensitifnya terhadap rasa pahit. Pangkal lidahnya menggeliat. Ia menyunggingkan seulas senyum beberapa detik. Kadang, rasa pahit dan hubungan roman itu mirip. Pusat pahitnya berada di pangkal.

Lapisan putih dan oranye ini selalu membuatnya bangga. Seperti namanya, ‘Senja’. Keadaan seperti ini membawanya pada sosok Adit. Pria yang sejak saat itu selalu membuatnya termenung tatkala menatap kilau oranye saat senja.

“ Langit ini milikmu.” lelaki itu berkata sembari mendongak. Matanya menerawang, ia seperti mencoba menyingkap spektrum warna yang telah menjelma menjadi lukisan alam di sana.

“ Bagaimana mungkin?”

“ Karna kau Senja, seperti temaram ini.” ia mengangkat tangannya, seakan hendak menggapai gelayut itu.

Tidak ada yang spesial dari seorang Adit bagi Senja. Sosoknya yang pendiam dan tidak banyak bicara, seperti pria itu bangga menyimpan semuanya sendiri. Orang sering berkata, lelaki dengan pembawaan pendiam akan lebih menarik tinimbang yang banyak bicara. Namun, hal itu adalah dogma yang ditolak mentah-mentah oleh Senja. Tidak ada yang menarik dari lelaki yang susah diajak bercerita. Tak terkecuali dengan Adit, sama seperti pria pendiam di luar sana, Senja tidak merasakan adanya rasa penasaran seperti yang dikata orang umumnya.

Pertemanan mereka merupakan hubungan dari dua kutub kepribadian yang bertolak belakang. Senja dengan kelakarnya bersanding dengan kakunya Adit. Perbedaan kapasitas berbicara ini yang menyebababkan Senja lebih mendominasi pembicaraan. Namun, Adit akan menjawab panjang jika Senja mulai bertanya. Maka saat itu tiba, Senja adalah komentator yang baik bagi Adit.

Bayangan tentang Adit selalu dibawa oleh gelayut di langit sana. Terpeta dengan jelas sosoknya di awang-awang. Begitupun kali ini, dan Senja hanya menyunggingkan senyum tatkala mengingatnya lalu bibirnya mendecap bersama bubuk kopi yang tidak larut.

Jika  ini masih dulu, mungkin sekarang ia sedang bersama Adit di perpustakaan kota. Mereka akan membolak-balik puluhan komik lalu menghabiskan waktu bersama, berjalan dan menyapa aspal jalanan Kota Yogyakarta . Layaknya saat itu, di kala senja juga. Sewaktu sang surya sudah bersiap lengser sementara dari singgasananya. Kemudian memberikan parade singkat pada langit sore. Meninggalkan jejak sinarnya berupa warna oranye yang menggantung.

“ Senja, aku ingin menjadi pemilik temaram itu. Biarkan aku memiliki ketenangan dalam kilau itu.  “ pria itu mengatakannya, sebuah pernyataan yang menantikan jawaban. Berkatalah ia dengan mantap dan aura kesungguhan terpancar dari kedua biji bola matanya. Adit mengeluarkan setangkai bunga mawar.

Wanita mana yang kuasa untuk menolak hal semacam itu? Begitupun dengan Senja. Parasnya kemudian berpadu dengan semburat pink pada kedua pipinya. Ia menunduk dan temaram senja menyiramnya. Keanggunan putri senja dibawah taburan temaram. Perpaduan senja yang menarik.

Lalu dengan anggukan malu-malu, terjalinlah ikatan tersebut. Di bawah temaram senja, Senja menemukan tambatan perasaan. Nuansa klasik hubungan roman.

Ia kembali menyeruput kepekatan dari kopinya. Cangkir itu tandas…

** *

 Tidak ada kepulan asap yang menguar dari sebuah cangkir sore ini. Tidak ada kepulan hangat yang meliuk-liuk dari teras. Teras rumah itu terlihat kosong. Si empunya rumah tidak lagi sedang mengenyakan diri pada bangku anyaman bambu yang setia berpasang dengan meja yang juga dari anyaman bambu. Tinggalah genteng dan langit di sini menaungi ruangan kosong dan tampak hampa.

Sosok yang biasa mengisi kekosongan tersebut sedang memadukan diri bersama pesta senja hari ini. Kakinya menuntunnya untuk menyusuri trotoar Jalan Mataram yang semakin hari kian akrab dengan alas kakinya. Sesekali ia mendongak, menengadahkan wajahnya sehingga berhadapan dengan langit di atasnya. Saat itulah sinar wajahnya berubah.Gadis itu menjelma menjadi sosok misterius di bawah senja. Kilau oranye seakan mengubah kepribadiannya, jadi sedikit kalem. Ia berjalan lambat-lambat. Langkahnya seolah diseret, namun  tidak terseok.

Ada sedikit penyesalan yang kadang ditampiknya saat melihat senja, atau yang dia artikan saat menatap bayang Adit pada awang-awang. Senja ini miliknya, senja bersama ilusi sosok tersebut. Hebat ! Ia pemilik senja dan ilusi kesedihan. Gadis itu menerawang.

Ia lelah, lelah menatap senja. Kakinya belum berhenti melangkah, namun bola matanya berhenti menengadah. Tapi, sebentar lagi kaki itu juga akan berhenti. Sebuah kedai kopi berjarak beberapa meter lagi dari tempatnya berdiri. Sebentar lagi ia akan menambatkan langkahnya pada tempat tersebut.

***

“ Jadi, kita bertemu lagi.” kata seorang laki-laki.

“ Entah takdir atau kekhilafan kakiku hingga aku melangkah ke tempat yang sama.” Senja tertawa kecil, sembari mengaduk minumannya.

“ Kelakarmu masih sama.”

“ Aku bukan Power Rangers yang bisa berubah setiap saat Adit.”

Kini lelaki itu berganti menyunggingkan senyum tipis. “ Semua berakhir di sini… Maaf.”

“ Tidak mengejutkan, setiap ending berasal dari permulaan kan?” wanita itu menghela napas sebentar sebelum ia melanjutkan “ Jangan merasa bersalah, perasaan memang mudah berubah. Begitupun aku, suatu hari nanti mungkin perasaan yang lalu juga tak akan pernah sama lagi.” ia kemudian mendongak, matanya dihadapkan pada langit di atasnya.

“ Senja ini masih milikmu.” Adit ikut mendongakkan kepalanya.

“ Tentu saja, yang ini akan selalu menjadi milikku.”

Sejenak, teras kedai tersebut terasa lengang. Masing-masing beradu dengan emosinya.

“ Mungkin kau pernah berfikir aku bermain.” Adit memelankan suaranya.

“ Dan aku masih penasaran dengan kemungkinan itu.”

“ Itu tidak mudah… untuk pergi.” setitik sorot penyesalan berkilauan dari bola matanya.

“ Lantas mengapa kau melakukan sesuatu yang sulit?”

 Tak ada sahutan. Adit termenung atas kalimat Senja. Kalimat yang juga menjadi pertanyaanya sendiri.

“ Maaf… Jangan bahas lagi!” Katanya, ia menarik nafas panjang seakan mencari jawaban tersebut harus melalui pertimbangan yang sulit.

“ Kau yang memulai.” Senja menyeruput minumannya.

“ Baiklah… bagaimana kabarmu?”

“ Seperti yang kau lihat, hidupku masih berjalan…” Senja diam, lantas menatap telak pada bola mata Adit. “ Aku baik-baik saja.” ia memberi tekanan pada kalimat terakhir.

“ Aku pernah berfikir untuk kembali.”

Kalimat barusan seolah memberikan tusukan tersendiri terhadap Senja. Wanita itu menatap lurus ke dalam mata Adit. Hatinya gusar, mudah saja Adit mengatakan hal seperti itu. Pernyataan Adit barusan seolah memberikan secercah sinar lagi untuk Senja, namun ia sendiri masih ragu. Senja memberikan pandangan bertanya, namun yang keluar adalah pernyataan

“ Tapi kau tidak kembali..” ia kemudian menunduk.

  “Ya, karena…..” suaranya terputus.

Seseorang anak lelaki berusia enam tahunan berlari mendekat. Kaki kecilnya beradu dengan lantai kedai ini dan menimbulkan gemuruh kecil. Kompak mata keduanya teralihkan. Masing-masing menanti kedatangannya dengan pandangan ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Roni hati-hati! Jangan lari!” suara seorang wanita yang ditaksir seumuran dengan Senja. Langkahnya ringan dengan membawa nampan berisi cangkir kopi.

 Kaki kecil itu berhenti, tepat di belakang Adit. Kemudian, ia segera mengalungkan tangan kecilnya pada leher Adit dari belakang…

“ Ayah…”

Pelan, rintik hujan menggusur semburat oranye. Temaramnya perlahan menjadi kelabu. Langit senja, bersama hujan. Hujan ini seolah menjadi air mata senja yang bepacu dalam nestapa.

Senja jangan redup! Temaramnya harus tetap berkilau.

 Apakah senja masih menjadi miliknya? Tentu. Lantas ilusi itu? Ilusi itu belum hilang, ia masih menjadi pemilik senja dan ilusi kesedihan. Apakah Senja hari ini menangis? Coba tengok sudut matanya. Ada air mata Senja lainnya.

                                                            ***

 Pintu kedai menganga. Mempersilakan masuk hawa dingin dari luar sana. Hawa dingin yang dibawa kelabu. Aura suram langit mendesak berbaur dengan kucuran air panas dari teko. Seorang wanita tengah berdiri menghadap seorang bocah berumur enam tahunan. Bocah itu menunduk…

“Roni… berapa kali Ibu bilang, jangan panggil Om Adit seperti itu!”

Hujan dan malam mengusir senja hari ini. Namun senja akan kembali esok, selalu dengan temaramnya yang menenangkan.

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi UNY

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *