Antisipasi Fenomena Virus COVID-19

Oleh: Fanny Reizal Qisthian*)

Dunia global tengah dibuat kacau dengan adanya kemunculan virus corona atau COVID-19. WHO pun juga sudah menetapkan persebaran virus ini sebagai pandemi global. Beberapa negara bahkan juga merasakan hal yang sama. Menurut data, tercatat sebanyak lebih dari 150 negara terdampak.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data terbaru pada 18 Maret 2020 Katadata.co.id terdapat 227 kasus dengan keterangan 197 dirawat, 11 sembuh, dan 19 meninggal. Dengan begitu dapat dinyatakan tingkat rasio sembuh 4.8% dan rasio meninggal 8.4%. Angka itu bisa menjadi angka yang sangat berisiko apabila tidak ditangani dengan baik.

Persebaran virus corona ini dinilai cepat namun masif. Sehingga tidak bisa dideteksi dengan mudah. Oleh karena itu, WHO menyatakan apabila virus ini bisa menular dengan cara yang sama dengan virus sejenisnya, yaitu SARS dan MERS. Center for Desease Control and Prevention (CDC) menyebutkan juga jika virus ini tergolong baru, karakteristiknya belum diketahui dengan pasti.

Sebagaimana virus, bisa menyebar melalui perantara udara maupun kontak fisik. Virus ini bekerja dengan menginfeksi jaringan paru-paru. Penderita akan mengalami gejala awal seperti  batuk, bersin, demam, dan sesak dada. Inilah yang dijadikan indikasi awal seseorang terinfeksi COVID-19.

Di beberapa tempat umum, mengantisipasi persebaran virus ini dengan deteksi sejak awal. Biasanya langkah yang dilakukan dengan menggunakan alat pendeteksi suhu tubuh (thermal scanner). Apabila ada yang terdeteksi memiliki suhu tubuh tinggi. Maka, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dapat dimungkinkan dimasukkan ke dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Pemahaman mengenai status seseorang terhadap virus corona atau COVID-19 ini sangatlah penting. Karena ditakutkan apabila tidak memahami dengan baik hanya akan menimbulkan keresahan semata. Status dibagi menjadi tiga: 1) Orang Dalam Pemantauan (ODP), 2) Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan 3) Suspect.

Orang Dalam Pemantauan (ODP) merupakan status yang belum menunjukkan gejala sakit secara mendalam, biasanya hanya karena diindikasikan demam. Pada umumnya, status ini diberikan karena seseorang sempat berpergian ke negara episentrum corona atau sempat melakukan kontak fisik dengan orang yang diduga positif terinfeksi.

Pasien Dalam Pengawasan (PDP) menunjukkan gejala terjangkit virus COVID-19 berlanjut seperti batuk, pilek, demam, dsb serta sudah menjadi pasien dalam pengawasan. Sedangkan Suspect diberikan saat seseorang pernah melakukan kontak fisik dengan penderita positif corona. Sehingga harus diteliti lebih lanjut menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Genome Sequencing.

Rekam jejak penderita positif COVID-19 sangatlah penting ditelusuri dan diinformasikan ke publik. Masyarakat akan menjadi tahu dimana saja tempat-tempat yang memang sudah darurat. Persebaran virus ini pun akan sangatlah jelas perkembangannya jika ada transparansi. Di sisi lain, tetap melindungi data privasi penderita terinfeksi.

Memahami gejala, persebaran, dan antisipasi menanggulangi terjangkit ialah langkah yang harus dilakukan. Semua ini harus diawali dari diri sendiri dengan meminimalisir persebaran dan mencegahnya.

Membiasakan menggunakan masker dan hand sanitizer serta mencuci tangan haruslah dibiasakan. Kebiasaan ini akan mengurangi kemungkinan tertular. Namun, akan lebih baik mengurangi intensitas interaksi, bahkan kontak fisik dengan orang asing. Istilah ini populer dikenal dengan sebutan social distancing.

Senada dengan itu, pemerintah Indonesia juga sudah menetapkan kebijakan Lockdown dengan menghimbau masyarakat agar mengisolasi diri. Sehingga kemungkinan pihak-pihak yang tertular maupun menularkan akan semakin kecil. Jikalau ada yang merasa mengalami gejala-gejala infeksi seharusnya langsung memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat.

*) Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *