Belajar Bersyukur

Posted by

Seorang guru mengendarai sepeda motor barunya menuju sekolah tempat ia mengajar. Itu kali pertama roda sepeda motornya itu menyentuh aspal. Benar-benar baru. Sepanjang jalan hatinya berbunga penuh syukur. Tak henti-hentinya ia mengucapkan alhamdulillah. Sepeda motor yang lama ia idamkan akhirnya bisa juga ia miliki.

Di parkiran sekolah, ketika ia turun dan memarkir sepeda motornya, tanpa sengaja ia bertemu seorang siswa yang juga sedang memarkir sepeda motor barunya. Merek, jenis, tipe dan warnanya sama persis dengan miliknya. “Sepeda motor siswa ini sama persis dengan milikku,” ia bergumam dalam hati. Tiba-tiba, ia merasa sepeda motor barunya itu menjadi biasa dan tidak spesial lagi, karena ternyata siswapun memakainya. Perasaan itu semakin menguasainya ketika siswa tadi menyapanya, “Apa kabar, Bapak?Ternyata selera kita sama. Sepeda motor kita sama persis.”

Sebaliknya, siswa tersebut hatinya berbunga, karena sepeda motor barunya persis sama dengan milik gurunya. “Seragam boleh siswa, tapi tunggangan kelas guru,” gumamnya bangga. Perasaan itu terus menghiasi hatinya, sampai kemudian ia berehenti di lampu merah dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Ia berhenti di samping seorang penjual sayur yang sepeda motornya persis sama dengan miliknya. “Ternyata, sepeda motorku kelas tukang sayur,” gumamnya dalam hati. Tiba-tiba, ia merasa sepeda motornya tdak lagi spesial seperti saat bertemu gurunya di parkiran tadi. Ia kini bahkan merasa orang tuanya tega dengannya, karena membelikannya sepeda motor kelas tukang sayur.

Ilustrasi diatas mungkin pernah terjadi dalam hidup kita. Kasusnya mungkin bukan sepeda motor, tapi hal apa saja dalam hidup kita. Intinya, kita kehilangan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah karena cara pandang kita yang salah terhadap nikmat tersebut. Sang Guru kehilangan rasa syukurnya hanya karena sepeda motornya sama dengan milik siswanya. Sang siswa pun, yang semula bersyukur karena sepeda motornya sama dengan milik gurunya, akhirnya kehilangan rasa syukurnya karena ternyata sepeda motornya sama dengan yang dipakai tukang sayur.

Kita bersyukur ketika nikmat yang kita miliki terasa spesial dan istimewa. Dan ketika nikmat itu suatu saat terasa biasa dan tidak istimewa, hilanglah dari kita rasa syukur itu. Artinya, syukur itu tergantung pada cara kita memandang dan merasakan sebuah nikmat. Artinya pula, untuk senantiasa bersyukur, kita harus selalu mampu melihat dan menemukan sisi spesial dan istimewa dari tiap nikmat yang kita miliki dan tidak pernah menganggapnya biasa atau tidak bernilai.

Sebenarnya, tidak ada nikmat Allah yang bisa dianggap biasa dalam hidup kita. Semuanya luar biasa, semuanya spesial, semuanya istimewa. Kalau tampak dan terasa sebaliknya, sekali lagi, itu tentu karena cara pandang kita yang salah. Kita tidak menyadari betapa berharga dan bernilainya nikmat yang kita miliki tersebut. Mungkin karena nikmat tersebut juga dimiliki oleh banyak orang atau mungkin karena nikmat itu begitu mudah kita peroleh. Karena cara pandang negatif tersebut, kita kemudian menganggap nikmat Allah sebagai hal biasa sehingga kemudian lalai untuk untuk mensyukurinya.

Padahal, bersyukur adalah kewajiban kita sebagai hamba atas begitu banyaknya nikmat Allah yang tiada sesaat pun pernah dan sempat lepas dari kita. Allah sendiri sudah menegaskan bahwa nikmat-Nya tidak terhitung (An-Nahl: 18). Nikmat yang tidak terhitung disini tidak hanya yang tampak tapi juga yang tidak tampak, tidak hanya yang kita sadari tapi juga yang tidak kita sadari. Apa yang kita ketahui, sadari dan identifikasi dari nikmat Allah adalah hanya sebatas pengetahuan kita yang terbatas. Nikmat Allah jauh melampui itu semua.

Atas nikmat-Nya yang tak terhingga itu, Allah memerintahkan kita untuk senantiasa bersyukur. Sedemikian agung ajaran tentang syukur ini, Allah sendiri mensifati diri-Nya sebagai Zat Yang Maha Bersyukur atau As-Syakuur (Faathir: 30 dan 34). Allah Bersyukur disini dalam pengertian memberi pahala atas sekecil apa pun bentuk ketaatan yang dilakukan hamba-Nya.

Apakah manusia mensyukuri sekecil apa pun nikmat yang diberikan Allah? Sebagian iya, sebagian tidak. Untuk yang bersyukur, Allah mensyukuri syukurnya itu dengan menambah nikmat-Nya kepadanya. Untuk yang tidak bersyukur (kufur), Allah akan menyiksanya dengan azab yang pedih (Ibrahim: 7).

Lalu, bagimana cara pandang dan sikap yang positif yang akan menuntun kita mensyukuri setiap nikmat Allah? Salah satunya adalah dengan membayangkan seandainya nikmat itu tidak kita miliki, atau hilang dari kita. Pak Guru dan Siswa dalam ilustrasi diatas, mestinya tetap bersyukur seandainya mereka membayangkan mereka tidak punya sepeda motor. Alangkah susahnya: berangkat ke sekolah dan kembali ke rumah naik angkot. Lama dan sangat tidak nyaman. Kalau seperti ini cara berpikirnya, Sang Guru tetap bersyukur walaupun sepeda motornya sama dengan siswanya. Dan Si Siswa pun tetap bersyukur walaupun sepeda motornya sama dengan penjual sayur.

Cara pandang yang lain adalah dengan melihat kebawah atau kepada orang lain yang tidak memiliki nikmat seperti yang kita miliki. Pak Guru dalam ilustrasi tadi, pasti merasa bersyukur seandainya sempat berpikir bahwa begitu banyak guru yang belum memiliki sepeda motor. Dan Si Siswa tadi pasti tetap bersyukur seandainya ia melihat dan membayangkan teman-tamannya yang harus berangkat dan pulang sekolah dengan ojek atau angkot karena tidak mampu punya sepeda motor.

Cara lain memandang nikmat agar tumbuh rasa syukur adalah melihat sisi istimewanya. Pak Guru tadi mestinya tetap bersyukur karena sepeda motornya dia beli dengan hasil keringatnya sendiri, tidak seperti siswanya yang dibelikan orang tuanya. Si Siswapun mestinya tetap bersyukur karena walaupun masih sekolah ia sudah dibelikan sepeda motor oleh orang tuanya. Ia tidak sampai harus bekerja dulu, seperti gurunya dan tukang sayur itu, untuk memiliki sepeda motor.

Bersyukur, sekali lagi, berawal dari sikap dan cara pandang yang positif terhadap nikmat Allah. Ini tentu tidak mudah, tapi bisa kita pelajari. Dan belajar bersyukur adalah proses seumur hidup, yang bisa kita lakukan setiap saat, karena setiap saat kita menikmati nikmat Allah. Semoga kita dimampukan untuk menjadi hamba yang setiap saat bersyukur. Aamiin.

Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *