Belajar Ikhlas

Posted by

“Mending menyumbang seribu tapi ikhlas, ketimbang sejuta tapi pamer.” “Sudah bagus saya infak lima ribu, daripada enggak sama sekali.” Kita sering mendengar kalimat semacam itu, bukan?

Ada yang tidak beres dengan pemahaman kita. Ikhlas disalahartikan sebagai melakukan kebaikan secara ala kadarnya, asal-asalan. Lebih lucu, ikhlas bahkan kerap dimaknai sebagai sikap menolak imbalan atas sebuah jasa atau pekerjaan. Misalnya, kalau seorang mubalig berceramah, kok mau menerima amplop, berarti dia tidak ikhlas. Begitu menurut kita.

Saudaraku, ikhlas sesungguhnya terletak di ranah hati. Tidak ada hubungannya dengan menerima atau menolak suatu imbalan. Idenya, kalau kita sudah bekerja secara baik dan benar, maka imbalan yang kita terima adalah konsekuensi. Itu profesional namanya. Jika dikaitkan dengan dunia dakwah, ikhlas berarti peleburan ambisi pribadi demi kepentingan publik. Sikap mengalah demi kesatuan dan kerukunan umat, itu juga bentuk sikap ikhlas.

Bukan kepintaran kita yang membuat orang lain salut. Bukan kedudukan kita yang membuat orang lain kagum. Bukan kekayaan kita yang membuat orang lain heran. Bukan kerupawanan kita yang membuat orang lain terpesona. Bukan orasi kita yang membuat orang lain tergugah. Bukan. Sama sekali bukan. Semua yang ada pada diri kita tidak akan berarti apa pun, tanpa ketulusan hati kita, kelembutan sikap kita, keramahan tutur kata kita.

Apa gelar pendidikan kita, berapa nilai akademis kita, di mana sekolah kita, bagaimana kondisi keluarga kita, tidak akan menjadi pertanyaan orang. Semua itu penting, tetapi hanya buat kita. Bagi orang lain, tidak. Yang ingin dilihat orang lain adalah apa yang dapat kita lakukan untuk mereka. Hal ini sama dengan berapa rakaat tahajud kita, berapa juz tilawah kita, berapa sering puasa kita, berapa rutin jamaah kita, semua itu hanya penting dan membanggakan bagi kita. Yang ingin dilihat orang lain adalah bagaimana akhlak kita sehari-hari di masyarakat.

Lantaran itu, kita buktikan karya sambil menyatakan cita, kita letupkan cinta sambil membenamkan amarah, kita kobarkan kekitaan sambil mengikis keakuan, kita nomorsatukan kebersamaan sambil menomorsejutakan kepentingan. Dan, semua itu hanya mungkin kalau kita telah mampu berhias diri dengan pakaian ikhlas. Bukankah tantangan tersulit dalam hidup ini adalah menjadi pribadi yang menyenangkan bagi siapa saja, tidak melukai hati sesama, baik secara lisan maupun tindakan?

Kata bijak bestari, “Satu orang bernilai seribu, kalau memperjuangkan kemanfaatan sesama. Seribu orang bernilai satu, kalau hanya memperjuangkan kepentingan diri dan keluarga.” Tetapi, ingat ya! Kendati kita menyukai orang baik, umumnya kita membenci orang yang sok baik. Kita senang dengan orang pintar, tetapi muak melihat orang yang sok pintar. Kita juga salut kepada orang cakap, tetapi jengkel kepada orang yang merasa paling cakap.

Inilah alasan kenapa ajakan kepada kebaikan harus dilakukan dengan kelembutan. Kepada Firaun saja, Allah tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk mendakwahinya dengan bahasa yang lembut (QS Thaha/20: 44). Jadi, usahlah kita merasa paling hebat, selalu meneliti pekerjaan orang lain, menguping-nguping kesalahan mereka. Jangan-jangan kita merasa paling pintar, tetapi ternyata melakukan perbuatan yang justru lebih buruk dan hina tinimbang mereka yang kita sangka lebih awam.

Kembali ke inti masalah. Bagaimana supaya meraih ikhlas. Kita belajar pada Imam Malik. Salah satu kebiasaan guru Imam Syafii itu adalah membawa sapu tangan ke mana-mana. Lalu untuk apa? Kain itu beliau pakai sebagai alas sujud. Rupanya beliau sangat khawatir sekiranya muncul bekas hitam di dahi beliau, sehingga menimbulkan penilaian sebagai ahli sujud dari manusia.

Lho, “min atsaris sujud” itu ada dalam Alquran. Yang dimaksud “min atsaris sujud” di situ adalah semakin dekatnya hubungan kita dengan Tuhan. Kualitas sebenarnya, hanya kita dan Tuhan yang tahu. Jelasnya, tanda itu sifatnya rohani. Sama sekali bukan sekadar kapalan di dahi yang kasatmata, dan ditonton oleh semua orang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *