Berjamaah di Ruang Virtual

Posted by

Oleh: Diko Ahmad Riza Primadi

Teknologi semakin canggih. Gaya dan kebiasaan hidup manusia banyak mengalami perubahan. Manusia dahulu mengetahui dunia hanya sebatas ruang dan waktu yang tampak secara kasat mata, di depan, di belakang, di samping, di bawah, dan di atas rumah mereka. Saudara atau teman mereka hanya sekelompok orang yang pernah ditemui secara langsung lewat tatap muka tanpa ada penghalang layar kaca berukuran mini. Yang saat ini dibawa ke mana-mana oleh manusia yang mengaku dirinya manusia modern. Marah jika dicap manusia tak beradab, anti kebudayaan, namun bangga jika disebut anak zaman now, walaupun kurang berbudaya.  

Pada tahun 1937, seseorang sosiolog Amerika, Read Bain menuliskan hahwa technology includes all tools, machines, utensils, weapons, instruments, housing, clothing, communicating and transporting devices and the skills by which we produce and use them. Teknologi meliputi semua alat, mesin, perkakas, senjata, perumahan, pakaian, transportasi, komunikasi dan seluruh keterampilan yang memungkinkan kita menghasilkan semua itu. Hingga detik ini, definisi yang diutarkan oleh Bain masih cukup lazim dipakai oleh kaum terpelajar, terkhusus bagi ilmuwan sosial. Yang lebih baru, para kaum terpelajar telah meminjam dari para filosof Eropa “technique” untuk memperluas makna teknologi ke berbagai macam bentuk nalar instrumental. Seperti dalam karya Foucault tentang ”techniques de soi” yang diterjemahkan sebagai “technologies of the self” atau teknologi diri.

Kehadiran teknologi secara luas dalam kehidupan manusia menjadi tantangan tersendiri bagi norma-norma tradisional yang sudah ada jauh sebelum teknologi tercipta. Norma-norma luhur kehidupan nenek moyang tidak serta merta mampu diterjemahkan dengan pikiran, namun harus ditimbang dengan perasaan. Pantas dilakukan atau tidak. Bukan bisa atau tidak. Hal ini tentu berbeda bagi Muhammadiyah. Sebagai gerakan yang mengemban misi Islam berkemajuan tentu tidak tertalu memperdulikan tentang masalah ini. Tidak mau ambil pusing. Menurut Din Syamsuddin, Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode lalu dalam sebuah seminar virtual beberapa waktu yang lalu, ia mengatakan, “berkemajuan bukan suatu paham yang bersifat statis, namun ia mengikuti dinamika waktu, bahkan bisa mendahuluinya”. Menerima kehadiran teknologi secara kaffah.  

Banyak hal di dunia ini yang tak mampu dijangkau oleh kecanggihan teknologi abad 21. Posisi dan peran teknologi tidak sepenuhnya bisa menggantikan apa-apa yang ada di dalam diri manusia. Manusia hidup dengan perasaan. Sedangkan teknologi hanya hadir untuk memudahkan kehidupan. Diharapkan dapat memuaskan sedikit perasaan dan mengurangi banyak pegal-pegal.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi telah banyak memudahkan kehidupan manusia. Teknologi telah merubah tatanan dunia sebelum dan setelah pandemi datang menyerang. Teknologi komunikasi menjadi alternatif utama ditengah kehidupan yang kacau. Tanpa adanya teknologi komunikasi, mungkin ruang dan waktu akan terhenti secara penuh. Waktu berhenti beroperasi di bumi. Ruang menjadi kosong tak berpenghuni.  

Untuk mencegah waktu malas berjalan, manusia berlomba-lomba melakukan segala upaya perlawanan. Mengusir malapetaka dari Tuhan. Menyiramnya dengan cairan bernama disinfektan, memakai masker, menjaga jarak fisik. Dan yang tak kalah penting adalah mengaktifkan aplikasi, WhatsApp, Instagram, Twitter, Facebook, YouTube, Grab, Gojek, Zoom, dan segudang aplikasi di dalam Play Store yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu, karena tidak penting.   

Manusia hari ini masih suka memperdebatkan tentang amalannya. Diterima oleh Tuhan atau malah sebaliknya. Ada manusia yang takut amalannya tidak sempurna. Sehingga kurang sabar. Sibuk mencari Tuhan di dalam masjid-masjid yang mereka bangun dengan megah. Agar bisa bertemu dengan Tuhan. Namun setelah keluar justru menjadi menjadi hakim agung Kementerian Ketuhanan.

Ada juga yang membangun jamaah secara virtual dengan memanfaatkan aplikasi komunikasi massa. Menyelenggarakan kajian, seminar, pelatihan, belajar, dan lain sebagainya secara online. Merawat silaturahmi sebagai obat rindu untuk kemudian hari. saling menyemangati untuk tidak bertemu sementara waktu. Karena badai pasti berlalu. Namun yang menjadi keprihatinan kita bersama, akankah kehadiran teknologi akan semakin mendekatkan manusia dengan Tuhannya. Atau justru teknologilah yang menjadi Tuhan mereka. Karena teknologi belum sepenuhnya mampu saling mendekatkan secara perasaan.

Diko Ahmad Riza Primadi, Reporter Suara Muhammadiyah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *