Bunga

Posted by

Bunga adalah lambang keindahan. Dalam berbagai tradisi dan budaya, manusia menggunakan bunga untuk menyimbolkan makna dan rasa yang tidak terlukiskan oleh kata-kata. Bahasa memang bisa mengungkapkan sejuta rasa dan makna, tapi kehadiran bunga dalam tradisi tegur sapa manusia adalah bukti bahwa ada sesuatu yang tidak bisa disampaikan oleh kata-kata dan hanya bisa diungkapkan dan dipahami melalui bunga.

Laki-laki mengirim bunga kepada perempuan untuk menyampaikan rasa yang tak mampu ia wakilkan pada kata dan kalimat. Sebaliknya, perempuan menangkap dari bunga makna dan rasa yang hanya bisa ia resapi tapi tak mampu ia urai dalam kata. Bunga seakan membisikkan padanya lebih dari apa yang bisa diutarakan oleh seorang laki-laki.

Bunga juga adalah alat komunikasi yang disepakati semua orang dari latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda. Saat berkunjung ke Iran di penghujung 2018 silam, saya dan rombongan peneliti Sejarah Islam dari UIN Sunan Ampel disambut oleh para akademisi kota Qom Iran dengan cara yang unik: masing-masing kami diberi sekuntum bunga wawar.

Lewat sekuntum mawar tersebut, mereka yang tidak paham bahasa Indonesia menyambut kami dengan hangat dan menyampaikan apa yang tidak bisa mereka katakan. Demikian pula kami yang tidak paham bahasa Parsi, lewat bunga itu bisa merasakan sambutan mereka yang sarat keakraban dan persaudaraan. Dengan beberapa kalimat bahasa Arab atau bahasa Inggris, sebenarnya kami dan mereka bisa saling berbasa basi, tapi, sekali lagi, bunga menghadirkan di antara kami suasana yang tidak mampu dihadirkan oleh kata dan kalimat.

Begitulah bunga. Ia adalah penyampai yang sempurna bagi makna dan rasa dalam benak dan hati manusia yang tak mampu diurai, digambarkan, dan disampaikan oleh kata-kata.

Tapi, dibalik itu semua, bunga juga adalah lambang sempurna bagi kesementaraan dan kefanaan. Mekar, mengembang, dan tampak indah memukau di pagi hari, bunga akan segera layu dan bahkan gugur pada sore harinya, atau pada pagi berikutnya.

Karakter ‘memukau tapi fana’ inilah yang menjadikan bunga sebagai representasi kenikmatan dunia dalam Al-Qur’an. Dengan istilah “zahratul hayaatid dunya”, Allah dalam Surat Thoha: 31 menggunakan bunga untuk menggambarkan kenikmatan dunia yang sementara dan fana yang harus dijauhi.

Allah berfirman, “Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan Rasul-Nya agar jangan tergiur dengan perhiasan dan kenikmatan dunia. Tidak hanya agar jangan tergiur, Allah bahkan mengingatkan Rasul-Nya agar tidak mengarahkan pandangannya kepada hal-hal “bungawi” tersebut.

Para ulama umumnya menafsirkan “zahratal hayaatad duniya” sebagai
“ziinatal hayaatad duniya” atau hiasan kehidupan dunia. Ia mencakup segala bentuk kesenangan, kenikmatan, kecintaan, kebanggaan, serta kecenderungan duniawi yang memalingkan manusia dari Allah.

Artinya, semua kenikamatan di dunia ini, betapapun indah dan menggiurkan, hakikatnya sementara, fana, dan tidak abadi. Harta, tahta, keluarga, pengaruh, popularitas, kekuasaan, kecantikan, kegantengan, kepintaran, semuanya adalah bunga. Suatu saat begitu membanggakan, membahagiakan, dan menggiurkan bak bunga yang sedang mekar dan harum. Tapi kemudian berakhir dan sirna, laksana layu dan gugurnya sekuntum bunga di sore hari.

Keabadian dalam kenikmatan dunia hanyalah sebatas usia dan hidup kita. Semua serta merta akan sirna dan berakhir ketika kematian menjemput kita. Kematian mengakhiri kuasanya penguasa, kuatnya orang kuat, pintarnya orang pintar, kayanya orang kaya, dan tenarnya para pesohor.

Maka, nilai dan harga dari segala nikmat dunia adalah sejauh mana ia menyelamatkan pemiliknya di akhirat kelak. Apalah arti kekuasaan dunia kalau kelak kekuasaan itu tidak menyelamatkan kita di hadapan Allah, atau bahkan menjerumuskan kita ke dalam murka-Nya. Begitu juga kepintaran, kekayaan, ketenaran, pengaruh, dan segala macam kebanggaan dunia, semua tak ada nilainya kalau tidak menghantarkan kita kepada rida Allah SWT.

Oleh karena itu, jangan sampai kenikmatan dunia yang sementara ini melalaikan kita dari kehidupan akhirat yang abadi. Sebaliknya, semua kenikmatan dunia itu harus kita gunakan untuk menyiapkan akhirat kita yang gemilang. Muslim dan mukmin sejati adalah mereka yang menggunakan segala bentuk nikmat dunianya untuk mencarai nikmat akhiratnya.

Semoga kita bisa merawat bunga-bunga hidup kita ini, kembang-kembang dunia kita ini, untuk tidak saja menjadi hiasan kita kini, tapi juga menjadi hiasan di rumah akhirat kita kelak. Amin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *