Buya Syafii Tak Goyah oleh Caci Maki

masa-kini.id-Pada 24 September 2020, sebuah meme pernyataan Buya Syafii terkait peristiwa di tahun 2015, sampai ke gawai di tangan Buya. Merespons pesan tersebut, Buya Syafii meluruskan sekadarnya, “Tentang kutipan di atas harus disebutkan sumbernya dan dalam situasi yang bagaimana, agar tidak menimbulkan salah tafsir. Maarif.” Kutipan Buya Syafii yang kerap direproduksi untuk suatu kepentingan politik sama sekali tidak sesuai maksud Buya ketika mengucapkan pernyataan itu.

Seorang Buya Syafii sering menuai hujatan. Orang yang menuduh umumnya tidak mengenal Buya secara dekat, dan hanya mendapat informasi yang parsial dan tercerabut dari konteks peristiwa. Buya Syafii kerap tidak ambil pusing untuk meluruskan atau membangun citra dirinya di mata publik. Namun, ketika berita-berita itu telah punya daya rusak, terutama merusak hubungan silaturahim Buya Syafii dengan banyak orang oleh karena berita fitnah, tentu ini mengecewakan. Buya ingin memperbanyak kawan, bukan mencari lawan.

Bermula dari peristiwa tahun 2015 yang menghebohkan. Ketika kasus “penistaan agama” Basuki Tjahja Purnama mencuat, Buya Syafii termasuk salah satu yang menentang arus. Buya menyatakan bahwa Ahok tidak menista Al-Qur’an dalam kalimatnya itu, namun Buya memperingatkan bahwa mulut Ahok memang berbisa dan perlu berhati-hati. Posisi Buya ketika itu memang sangat tidak populer di saat banyak tokoh yang “terkesan moderat” sekalipun menyatakan bahwa Ahok bersalah dan berhasil mengundang amarah massa.

Kasus ini terus membesar dan mengancam integrasi nasional ketika disulut oleh persoalan politik yang bersenyawa dengan keyakinan agama. Legitimasi Majelis Ulama Indonesia semakin menguatkan satu pandangan mutlak dalam melihat kasus ini. Dari sini, ada yang menuduh Buya tidak punya komitmen pada agama. Padahal, yang mereka bela adalah tafsir atas agama, bukan agama itu sendiri. Tafsir berkelindan dengan horison dan subjektivitas penafsir yang punya latar belakang, pengalaman, dan kepentingan tertentu.

Sepanjang sejarah, pemaksaan tafsir tunggal kerap menjadi sumber tragedi, apalagi jika dimanfaatkan oleh politisi atau institusi yang mendaku sebagai juru bicara Tuhan. Betapa sering sesama muslim bersimbah darah oleh karena pemaksaan tafsir tunggal. Ada banyak contoh yang bisa dirujuk, sejak periode klasik sampai sekarang. Banyak ulama yang harus dipenjara dan bahkan dibunuh karena suatu tafsir yang dikemukakan dianggap berbeda dengan otoritas keagamaan saat itu.

Jika para pencaci ini melihat rekam jejak Buya Syafii secara lebih detil, akan terlihat bahwa Buya Syafii tidak seperti yang mereka tuduhkan. Buya punya komitmen tinggi pada Islam, sebagai agama dan sumber nilai. Komitmen pada Islam ini berbeda dengan komitmen pada institusi islam, partai islam, atau bahkan tokoh islam tertentu. Buya tidak terikat pada Islam yang terlembagakan sebagai realitas sejarah yang penuh liku. Di sini, Buya menginginkan umat Islam untuk beragama dengan mempergunakan akal sehat dan hati yang jernih, supaya bisa menjadikan Al-Qur’an sebagai al-furqan.

Ahmad Najib Burhani dalam Menemani Minoritas (2019) merekam beberapa ujaran yang sangat kasar, “Mulai dari sebutan orang tua gila, pembela penista, si tua, sudah bau tanah, kecebong, koplaxx, antek, tai kucing, semakin tua semakin sesat, si pikun utek liberal, kerak neraka, cari makan, dasar orang tua… tobat orang tua, semakin tua semakin kehilangan akal, agen PKI kedok ulama, intelelek kok guoblok, ulama syu, berbicaranya lantang, tapi telinganya tuli, pandangannya buta, dan juga sebutan yang sudah sering dialamatkan kepadanya, yakni liberal.”

Mereka menuduh Buya Syafii liberal dan bahkan dianggap sebagai sosok yang didanai Barat untuk menghancurkan Islam. Sekali lagi, mereka tidak mengenal Buya Syafii secara dekat. Padahal, Buya getol mengkritik peradaban Barat yang kering dari pancaran sinar wahyu. Bagi yang mengikuti tulisan atau ceramah Buya Syafii, akan terlibat benang merah yang diperjuangkan Buya: peradaban harus dibangun dengan napas ketuhanan. Bagi Buya, Barat bukan role model untuk diikuti, ada banyak kemajuan palsu dari Barat yang mesti dikritisi.

Dalam Resonansi “Ujaran Kebencian dalam Catatan Ahmad Najib Burhani” di Republika, 12 Maret 2019, Buya Syafii mengeluarkan uneg-unegnya. Tanpa maksud menyalahkan, Buya menyatakan, “Berat dugaan saya bahwa mereka yang mengumbar ujaran kebencian itu bukan orang lain, melainkan seagama dengan saya, termasuk yang berasal dari suku saya, Minangkabau, yang kabarnya manusia beradat dan beradab tinggi. Apakah memang saya sudah tersungkur kepada posisi hina, tunamartabat seperti yang dituduhkan itu, biarlah sejarah yang akan menilai.”

Buya justru mengajak mereka yang berbeda pandangan untuk saling berbicara dari hati ke hati. Saya termasuk salah satu yang menyaksikan beberapa kali Buya Syafii bertemu dengan beberapa tokoh, dan setelah pertemuan, mereka menjadi paham. “Semoga semuanya ini hanya akan bersifat sementara, pada ujungnya nanti sila Kemanusiaan yang adil dan beradab akan kembali jadi panglima dalam cara kita bergaul, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Indonesia terlalu besar untuk dikorbankan oleh mereka yang busuk hati, sempit dada, dan bernapas pendek.”

Buya Syafii sebenarnya tidak pernah menanggapi para pencacinya. Namun, beberapa kolega justru merasa bahwa para pencaci perlu diberi pelajaran. Pada Agustus 2019, misalnya, Tim Advokat Buya, Ihsan melaporkan seseorang ke Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, atas dugaan ujaran kebencian. “Diam Buya ASM ternyata tidak membuat netizen jera atau sadar, semakin hari makin banyak netizen yang menghujat Buya dengan kalimat yang sangat keterlaluan, bahkan ucapan yang tidak dibolehkan dalam agama manapun dan budaya manapun,” tuturnya. Tak berapa lama setelah dibuat laporan, Buya Syafii bertemu dengan si terlapor dan memaafkan sosok tersebut. Perkara selesai.

Di belantara dunia maya, semua orang menjadi setara. Antara seorang presiden sebagai pucuk tertinggi negara dengan rakyat jelata bisa saling berbalas komentar di media sosial. Antara seorang ulama berkaliber dunia dan seorang biasa dapat saling berbalas-balasan komentar. Ruang demokrasi yang tumbuh di media sosial pada akhirnya justru menciptakan tirani-tirani baru, melahirkan orang-orang yang sok berkuasa dan merasa besar sendiri. Memang, semua manusia setara dan itulah yang diperjuangkan oleh Buya Syafii. Namun dalam berelasi, ada etika atau akhlak yang harusnya menjadi bingkai.

Kita cermati akhlak Buya Syafii kepada mereka yang mencaci. Misalnya sebuah pesan WA yang dikirim kepada seorang yang menganggap Buya berubah. “Terima kasih sekali. Bukan berubah, tapi memahami agama dari jendela kemanusiaan yang nyaris tanpa batas. Untuk memahami perkembangan pemikiran ini mohon dibaca literatur Islam yang agak berat: (1) Fazlur Rahman, “Islam”, Bandung: Mizan, 2017; (2) Ahmad Syafii Maarif, “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”, Bandung: Mizan, 2015. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, diterbitkan oleh Leiden Univ. Press, 2019; (3) Fazlur Rahman, “Tema-Tema Pokok al-Qur’an”. Bandung: Mizan, 2017; (4) Agus Salim, “Pesan-Pesan Islam”. Bandung: Mizan, 2011; (5) Aksin Wijaya, “Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia”. Bandung: Mizan, 2018.”

Setelah menyebut beberapa bacaan, Buya melanjutkan pesannya tentang perlunya mendobrak kebekuan berpikir, “Dengan membaca perkembangan pemikiran Islam mutakhir dari para penulis yang diakui publik, kita akan lebih jernih melihat misalnya seorang Ketua MUI Sumbar itu.  Jika bacaan tentang Islam tidak ada tambahan yang segar, umat ini akan tetap terkapar di buritan peradaban. Buku-buku lain yang bagus masih banyak, seperti karya-karya Prof Azyumardi Azra. Tafsir Hamka jika dibaca lebih teliti, kita akan menemukan pemikiran-pemikiran revolusioner, seperti menyebut Sokrates, Kong Hu-chu, Lao Tse, Budha Gautama sebagai nabi. Sekali lagi terima kasih. Maarif.” Alih-alih menanggapi ujaran kebencian, Buya Syafii justru berbagi bacaan dan membangun dialog wacana.

Terakhir, perlu dipahami bahwa ketika Buya Syafii membela seseorang, bukan berarti Buya setuju dengan pandangan ideologinya. Ketika Buya Syafii membela Ahok bukan berarti Buya setuju seluruhnya pada Ahok. Sama halnya ketika berkali-kali Buya Syafii membela Abu Bakar Baasyir, bukan berarti Buya setuju dengan ideologi ustaz Abu, meskipun Buya sampai berhadap-hadapan dengan pemerintah Australia dan Amerika Serikat yang keberatan dengan hasil persidangan Mahkamah Agung. Jejak digital pernyataan Buya Syafii tersebut bisa dengan mudah ditelusuri di internet. Buya Syafii mengaku kecewa jika pengadilan Indonesia berada di bawah bayang-bayang hukum negara manapun, termasuk negara adidaya Amerika Serikat. Hukum, menurutnya, harus benar-benar independen dan kredibel, sesuai dengan fakta objektif. Ketika masih menjabat ketua umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii sempat didatangi Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Ralph Boyce, yang meminta Buya melobi para petinggi Polri dan Mahkamah Agung supaya memperpanjang masa penahanan Abu Bakar Ba’asyir. Permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Buya Syafii.

Sekali lagi, ini tentang keberpihakan pada nilai yang diyakini. Buya tidak asal membela karena rasa-merasa secara emosional atau karena ikut-ikutan kerumunan atau karena suatu kepentingan jangka pendek. Buya hanya membela nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan yang tercederai. Buya Syafii telah kenyang pujian paling beradab hingga celaan paling biadab. Semuanya tak lagi mampu menggoyahkan integritas dan prinsip yang diyakininya. Apa yang dilakukan Buya Syafii merupakan manifestasi dari prinsip seorang merdeka, senior citizen yang sudah selesai dengan dirinya.

Muhammad Ridha Basri, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, beberapa kali membersamai keseharian Buya Syafii.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *