Cara Berpikir Toleran

Posted by

Tulisan ini saya susun dari hasil diskusi panjang dari salah satu kelas di Departemen Antropologi, yaitu Feminisme yang diampu oleh Suzie Handajani. Meskipun isu yang dibahas dalam kelas tersebut lebih condong pada isu-isu subordinasi atau dominasi terhadap perempuan, secara garis besar bentuk praktik ini juga dapat diadopsi ke dalam beragam bentuk diskriminasi lainnya.

Praktik-praktik,  seperti “diskriminasi”, “subordinasi”, “subaltern”, “marjinalisasi”, dll, sering kali dilakukan tanpa sadar oleh pelakunya dan, di sisi lain, malah kadang kala diterima-tanpa-perlawanan oleh si penerima praktik tersebut. Bila dipilah-pilah lebih jauh, si “pelaku” di dalam suatu proses dominasi [menghindari kata diskriminasi yang terkesan kasar] tentu saja berada di posisi si-pemilik-kuasa, sedangkan si “resipien” ialah kebalikannya. Ada beragam bentuk kuasa yang bisa dimanfaatkan untuk mendominasi orang lain, sesuai dengan konteks modal dan latar kultural lingkungannya. Namun, apapun itu, dominasi atau subordinasi, bagi saya, adalah suatu praktik yang menyeleweng dari pemahaman kesetaraan posisi makhluk Tuhan.

Untuk menghindari diri kita dari tindakan mendominasi, mendiskriminasi, atau mensubrodinasi seseorang, saya ingin merumuskan tiga poin di bawah ini.

Singular vs plural

“Singular” atau tunggal merupakan salah satu cara berpikir para pelaku dominasi. Orang-orang dengan pikiran seperti ini hanya memandang pihak yang ingin disubordinasi olehnya dengan satu identitas tunggal. Dalam kasus wanita pembawa anjing masuk ke dalam masjid, misalnya, mereka yang  cenderung tidak bertoleransi hanya akan memandang identitas perempuan ini sebagai seorang pembawa anjing [hewan yang air liurnya dimasukkan dalam kategori najis besar dalam agama Islam] ke dalam masjid [tempat suci untuk beribadah umat Muslim]. Identitas pembawa hewan najis inilah yang terus direproduksi oleh pemilik kuasa untuk mempersekusi di perempuan tadi dengan narasi sebagai seorang penista agama.

Padahal, jika mau berpikir secara terbuka dan luas, maka kita akan melihat identitas-identitas lainnya yang bisa membuat kita lebih toleran kepada perempuan tersebut yaitu, identitas penyandang disabilitas psikologis. Pemahaman mengenai identitas kedua ini seharusnya dapat membuat kita “melunak” dan lebih toleran atas tindakan perempuan ini. Akan tetapi, kenyataan mengenai kondisi disabilitas kejiwaan ini malah menjadi bahan untuk melanggengkan praktik dominasi kuasa pihak lain.

Selanjutnya, identitas ketiga, berdasarkan asumsi sebagian pihak, perempuan ini ingin mencari suaminya yang menikah dengan perempuan lain di masjid itu. Ini bisa dikerucutkan pada kesimpuan bahwa ia juga menjadi kelompok rentan dalam lingkup patriarki, yakni identitasnya sebagai perempuan.

Jika mau menimbang dua identitas lainnya (identitas yang plural), yang menunjukkan bahwa si pembawa anjing ini memiliki dua identitas berlapis sebagai kelompok rentan, maka kita seharusnya dapat mentoleransi identitas pertamanya yang dianggap sebagai penista agama. Selain alternatif dengan cara mempertimbangkan identitas rentan seseorang, kita juga dapat menerapkan toleransi dengan mempertimbangkan identitas keunggulan seseorang.

Statis vs progress

“Statis” atau tidak berubah merupakan ciri kedua pikiran orang yang tidak toleran. Di sini saya ingin memberi kasus sederhana, apabila ada satu orang yang dahulunya beragama Nasrani dan dalam masa kemudian ia memilih menjadi mualaf, menjadi Muslim, maka orang-orang yang cenderung berpikiran tidak toleran akan tertuju pada satu kondisi statis masa lalu mualaf ini dan terus mereproduksi wacana bahwa ia dahulu adalah Nasrani, meskipun sudah melakukan proses progresif memeluk Islam.

Dalam melakukan identifikasi orang-orang yang berpikiran statis maupun progres ini tidak boleh melupakan dasar identitas dan paham dasar mereka. Selain itu, bila ingin mengasah sikap toleransi, maka perlu bagi kita untuk menanamkan pemahaman bahwa seseorang dapat melakukan perubahan menuju “kebaikan” berdasarkan standar kebaikan kita.

Esensialisme vs konstruksi sosial

Ketika, “esensialisme” atau alamiah juga termasuk sikap orang yang tidak toleran. Pandangan ini lebih sering mendiskriminasi hal-hal terkait gender, dikotomi antara perempuan dan laki-laki. Tidak jarang kita akan mendengar orang dengan pandangan ini akan mengatakan, “kan, emang gitu”, “udah kodratnya”, atau “dari sananya begitu”. Misalkan saja perempuan yang sudah berusia 30 tahun namun belum kunjung menikah. Kondisi seperti ini rentan untuk mendapat persekusi di hadapan orang-orang yang berpikiran esensialisme. Argumentasi yang akan dilontarkan mereka biasanya akan berujung pada diskriminasi terhadap si perempuan yang menentang kondisi “alamiah” untuk menikah. Seakan-akan perempuan yang tidak menikah di usia kepala tiga menyalahi kondisi alamiah.

Perilaku seperti ini dapat diatasi dengan menerapkan pemahaman bahwa apa-apa yang kita pikirkan bisa saja adalah bagian dari konstruksi sosial, seperti kebiasaan menikah di usia remaja bagi perempuan. Tidak hanya itu, ada banyak sekali standar-standar kebaikan dalam hidup kita yang sebenarnya dikonstruksi oleh lingkungan sosial.

Ketiga hal-hal atau pemahaman yang dapat berujung pada intoleransi di atas terus direproduksi dan menjadi langgeng karena adanya the power of repetition (kekuatan pengulangan) dan the power of discourse (kekuatan wacana) yang dilakukan oleh pemilik kuasa suatu pemahaman. Berusaha mengasah diri bersikap toleran dan adil kepada sesame makhluk Tuhan dapat dilatih. Adillah sejak dalam pikiran.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *