Catatan Ringan dari Madrid (7)

Posted by

Peace With No Borders: Religions and Cultures in Dialogue. Acara tahunan yang diselenggarakan Komunitas Saint ‘Egidio ini sudah berlangsung sejak 1983. Bukan waktu yang singkat. Bukan pula gawe yang gampang. Sedikit sekali organisasi non pemerintah yang bisa menyelenggarakan acara akbar tingkat dunia sebesar Saint ‘Egidio.

Karena diselenggarakan tiap tahun, pertemuan tahunan ini punya makna dan pengaruh luas. Yang utama adalah curah pikir. Forum dialog. Peserta dialog berlatar belakang Agama, budaya, politik, dan tingkat ekonomi yang berbeda. Tetapi mereka bisa bertemu tanpa ada rasa kaku.

Mengapa? Mereka adalah orang-orang yang terbuka. Pembicara dan pendengar yang baik. Pembelajar yang tulus berbagi dan meninba ilmu. Pencinta damai yang berangkat dengan niat, pikiran dan hati yang damai. Yang senior tidak merasa superior. Yang kaya tidak jumawa.

Forum dialog Saint ‘Egidio juga menjadi arena reuni. Sebagian sudah berpartisipasi berpuluh kali. Pak Din Syamsuddin salah satunya. Nama beliau sangat populer. Lewat beliau, dunia mengenal Indonesia, Islam, dan Muhammadiyah. Tidak berlebihan jika Pak Din dinobatkan sebagai duta besar dialog antar Agama dan peradaban.

Sebagai yunior saya bangga dan bahagia dengan peran serta Pak Haedar dan Ibu Noor. Dua “sejoli” Muhammadiyah-Aisyiah ini mulai mendunia. Beberapa kali Pak Haedar tampil dengan gagasan Islam Berkemajuan dan gerakan Muhammadiyah dalam bahasa Inggris. Ini adalah bagian dari langkah besar internasionalisasi Muhammadiyah dan Wasatiyah Islam.

Dalam forum resmi Pak Haedar selalu menulis makalah. Maklum. Penulis produktif. Kalau di pesawat, Pak Haedar nulis. Sementara saya nonton. Harap tahu saja. Saya kan “sufi”: suka film maksudnya.

Forum Saint ‘Egidio juga menjadi sarana rekreasi. Peserta bisa berwisata ke beberapa kota dan negara. Tahun lalu di Bologna. Tahun ini di Madrid. Tidak tahu dimana tahun berikutnya.

Acara Saint ‘Egidio bukan forum akademik. Sebagian besar peserta tidak bisa bahasa Inggris. Mereka adalah praktisi. Tokoh lapangan. Semua tampil percaya diri karena ada penerjemah. Di luar forum mereka toh asyik bercengkerama meski ada kendala bahasa. Tidak tahu bicara apa. Mereka tertawa bersama. Mungkin tertawa karena bahagia. Atau, bisa jadi, menertawakan diri sendiri.

Bahasa bukanlah kendala untuk kita hidup bersama. Kita bisa berbicara walaupun tanpa kata-kata. Sampai jumpa. Sayonara. Hasta la vista Madrid.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *