Corona Di Mata Kaum Rebahan

Foto: SMPN 10 Surabaya

Sudah berhari-hari, tanpa petemuan, aku hanya berdiam diri menjadi anak rumahan. Kini aku sudah menikmatinya, tak pernah membantah apa kata pemerintah. Gak usah ngeyel, mari rebahan, biar pemerintah bekerja ciptakan perubahan.

Berkat corona kaum-kaum rebahan bertambah. Stereotip negatif-nya sudah berubah, lebih baik di rumah daripada kluyuran gak jelas. Artinya rebahan lebih dianjurkan dibandingkan aktivitas luar. Jadi lebih baik ikuti gayaku, rebahan, tak pernah lepas akan bayang-bayang teknologi internet.

Rasanya, gak membahas corona gak ada daya tariknya blas. Bosan sih, gimana enggak, tiap menit dijejali infomasi jumlah korban, himbauan atau apalah sejenisnya. Tapi, yang jelas kubaca kok, apalagi untuk kaum rebahan sepertiku, layar ponsel pintar tak pernah kubiarkan memudar. Be positif lah, mereka (:pemerintah) perhatian, ingin terbaik buat masyarakat.

Meskipun ada korban corona disembuhkan, tetap saja perbandinganya tidak setara korban meninggal. Langkahnya dirasa tepat, lihatlah negara yang terlebih dahulu terpapar corona virus. Aku sepakat, tindakan social distancing dilakukan oleh pemegang wewenang. Eh, abis diganti physical distancing ding. Tidak perlu bilang apalah arti sebuah nama. Mereka sedang memperhitungkan nilai estetik dari sebuah istilah. Entahlah, terpenting bentuk tindakan tak lupa ‘tuk lebih dipertimbangkan.

Oya, tulisan ini tidak beresensi sama sekali, tujuannya cuma menunjukan eksistensi. Sebagai newbie golongan rebahan, gak ada salahnya baca. Berbagi pengalaman, supaya menjadi kaum rebahan berdedikasi tinggi. Ambil baiknya, semisal buruk semua langsung tinggal saja.

Jangan anggap remeh, tugasku rebahan urusan corona tak ketinggalan. Aku tetap stay cool, meski menakutkan banyak faedah indah bersemayam. Asalkan nurut aja sama pemerintah. Semua akan lebih baik jika tidak membantah, dan berakhir selaras yang diharapkan penjuru negeri. Makanya tak perlu mencari dalih untuk ngeyel pemerintah. Gak usah gengsi, berkacalah, ketakutan pasti tersimpan di dalam hati bukan? Banyak untungnya dibandingkan rugi.

Bukti nyata, ada penerapan gaya baru di bidang pendidikan. Belajar di rumah mengembalikan kewajiban orang tua yang mulai lalai dengan buah hatinya. Setidaknya Corona memberikan kesempatan untuk quality time bersama keluarga. Sekaligus merealisasikan program Kemendikbud. Pasti masih ingatlah tentang kebijakan merdeka belajar. Terlebih bonus terbaru yakni ditiadakannya ujian nasional.

Bukan berarti pula diam tanpa upaya. Pencegahan corona jangan lupa diikuti bersama rasa ikhlas. Hal yang tidak boleh diabaikan demi kemaslahatan umat. Mulai dari cuci tangan pakai sabun, mengkonsumsi makanan sehat bergizi dan sebagainya. Kalau bukan corona, gak mungkin rajin basuh tangan, palingan nyabun yang lain. Tiap hari makan junkfood atau jajan sembarangan.

Soal social distancing (physical maksudnya) sedikit susah sih. Apalagi kata Aristoteles, manusia adalah zoon politicon. Makhluk sosial yang demen berkumpul dan bermasyarakat. Memiliki hubungan dan keterkaitan satu sama lain. Pasti kamu akan merasakan sedikit kepenatan dengan keterbatasan ruang lingkup aktivitas.

Tenang, selama kuota tak terbatas, setidaknya kamu terselamatkan. Internet mempermudah penerapan physical distancing kok, tanpa mengurangi silaturahmi distancing.

Mungkin kamu akan kuat menjaga jarak untuk bertemu, tapi gak tau kalau soal menanggung rindu.

Tidak ada salahnya bagi pencari nafkah di luar rumah. Gak ada larangan, terus dilanjutkan. Anjurannya tidak memerintahkanmu berhenti makan. Tetap pertimbangkan himbauan dan perkuat dengan kewaspadaan. Demikian pula tenaga kesehatan, aku paham, merekapun dalam ketakutan. Kekuatan dan keteguhan hatinya melebihi kaum rebahan. Apapun akhirnya, keyakinanku jasa tiada tandingannya. Semoga senantiasa dalam lindungan yang esa. Aamiin.

Sudah sepatutnya masyarakat menumbuhkan rasa kesadaran tinggi. Berkaca negeri Italia, menggunakan lockdown system. Hasilnya justru berbanding terbalik, korban berjatuhan malah semakin meningkat. Bukan pengambilan solusi yang tidak efektif. Alasan kegagalan lahir atas perilaku manusia itu sendiri. Makanya, pencegahan apapun tergantung kedisiplinan dan kebersamaan pelaku yakni masyarakat. Sesuai kadar dan takaran masing-masing.

Tinggal rebahan #dirumahaja apa susahnya sih?

Gagal Paham

Informasi bak dua mata pisau dengan ketajaman serupa. Melilit kemudian mematikan, tetapi bisa pula melegakan. Tak bisa disalahkan, informasi datang sendirinya tanpa melihat arah tujuan. Era telah berkembang, perlu dibarengi pemikian terbuka dan berimbang. Sehingga, terhindar dari jerumus kesalahan dalam pemahaman.

Seperti halnya, kejadian pandemi corona yang melanda berbagai negara. Akses infomasi melahirkan kemudahan guna melihat perkembangan. Internet menghubungkan seluruhnya tanpa ada batasan. Artinya, apapun diperoleh dengan mudahnya, terlebih seputar corona.

Pernah sekali aku menemukan berkaitan bahan konsumsi untuk mengindari terjangkitnya corona. Informatif, memberikan pemahaman baru dengan langkah terbaik. Begitulah keinginannya, banyak orang terperdaya, dibagikan sana-sini di spot-spot medsos. Cobalah, liat seberapa valid informasinya. Sayang tidak ada jaminan sumber terpercaya. Penyebaran hoax dirasa tak terbendung di tengah status waspada corona. Jangan ketakutanmu menjadi sumber kepanikan berjama’ah.

Belum lagi share-share-ran orang terpapar corona. Bukan masalah, toh butuh kepastian info untuk memancing kehati-hatian. Hanya kalau berbagi itu yang pasti-pasti, data pemerintahmu loh gak kiro gorohi (gak mungkin bohong). Aku bersama orang di pasar tak banyak tahu. Saat ada info mengancam kami panik tak beraturan. Itulah yang sejauh mungkin dihindari.

Potret orang mantelan maskeran di status atau pemberitaan, itu bikin panik tauk, Lebih indah melihat fotomu di rumah bahagia bersama keluarga.

Pertimbangkan pula komentar. Berkomentar dengan cara pandang kemanusiaan bukan cuma nyinyir tak pakai bibir. Membuat konklusi corona sebagai karma buruk atas tindakan masa lalu. Sampai menganggap remeh dengan perisai agama. Pastinya berhubungan langsung dengan Tuhan, tapi komentarnya mbok ya jangan sok tegar.

“Hidup dan mati ditangan Tuhan, semua yang bernyawa pasti akan dipanggil Allah. Jadi gak usah takut corona, takutlah pada Allah semata”.

Kata-kata nan indah, berbau motivasi untuk berserah pada pencipta. Lha mikiro!!!. Aku sebel membawa konsep agama dengan frame anti-realistis. Iya, mati sebuah kepastian. Kalau gak jelas sebabnya, gakpapa. Nah, kalau asalnya dari corona. Gak mikir imbas ke keluarga dan orang yang kamu cinta? Aku setuju, harus takut sama Allah. Tapi, gak mikir ya ibadah butuh sehat atau sudah fiks tanpa dosa? Ya kali, mati corona terus sudah kavling di surga.

Kuncinya, rebahan selain santuy butuh perilaku santun. Gunakan pikiranmu sebelum gerak jempolmu. Lebih baik diam! Fatwamu tidak dibutuhkan kalau cuma menanam kebimbangan.

Para newbie perlu mengerti, kaum rebahan wajib menyaring infomasi. Kaum rebahan anti berpikir cethek harus lebih visioner. Landasan kemanusiaan menjadi dasar kuat. Sehingga tak terjebak dalam kubangan informasi tak bisa dipercaya.  Memberikan komentar terbaik tanpa meremehkan bahaya corona. Jangan sampai hoax-hoax berterbangan jauh lebih berbahaya dari corona. Bukan memberikan angin segar malah memperkeruh melahirkan kecemasan masal.

Kecemasan oleh Sigmund Freud terbagi tiga kategori. Salah satunya, Reality or Objective Anxiety. Dimana kecemasan bersumber ketakutan atas ancaman yang hadir dalam realita. Lebih lanjut, kecemasan ini akan menuntun perilaku-perilaku menghadapi bahaya.

Perilaku menghadapi bahaya itulah yang dibutuhkan dari kecemasan akibat corona. Tidak menutup kemungkinan menghasilkan tindakan ekstrim. Orang ketakutan dengan kebakaran bisa sampai tidak berani menyalakan korek.

Jadi, mengalami kecemasan adalah sebuah kewajaran. Bentuk ikhtiarnya, cobalah bungkus dengan kemasan terbaik. Alhasil tindakan buah kecemasan menjadi terarah. Hentikan framing-framing penebar ketakutan. Lebih dewasa, tidak bermaksud menolak informasi, minimal bersama kita tahu diri. Stay ikhtiar bangun ketenangan melalui tawakkal. So simple.

TERGERAK

Ter-untuk negeri,

Secara hakiki sepenuhnya kuasa Ilahi

Hidup pasti menyoal ikhtiar,

Bukan mati dengan cara koar-koar

Tak cukup hanya berdiam,

Tanpa menghadirkan perlawanan

Kita bukanlah manusia tanpa rasa,

Makhluk berdaya nihil upaya

Ketakutan dan kecemasan,

Senjata mematikan menuju perubahan

Ingatlah…

Buih laut terus menepi, tak berhenti

Mendampingi senja menguning

Berjalan tak hanya diam

‘Tuk lihat keindahan tanpa fatamorgana

AR.

Malang, 24032020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *