Corona Virus Disease-19 Mengajarkan Kesabaran

Kepada mahasiswa, saya mengenalkan aplikasi Lafzi untuk mencari ayat Al-Qur’an. Ketik saja “Lafzi”. Setelah keluar Lafzi, mari kita ketik “minal khaufi wal ju’i” yang artinya ketakutan dan kelaparan. Ditemukan 2 ayat, yaitu surat Al-Baqarah (2): 155 dan An-Nahl (16): 112.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah (2): 155).

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat. (An-Nahl (16): 112).

Ternyata Allah memberikan cobaan dan ujian kepada kita, dengan sedikit ketakutan. Takut virus corona. Semua disarankan berdiam diri di rumah untuk mengurangi penyebarannya. Ada kekhawatiran kita akan kelaparan karenanya. Kita pun menjadi kekurangan harta karena pekerjaan menjadi sedikit terganggu. Jiwa kita pun terombang-ambing dan dihantui ketakutan adanya Positif (terbukti terinfeksi covid-19), ODP (orang dalam pengawasan), dan PDP (pasien dalam pengawasan).

“Penduduknya telah mengingkari nikmat-nikmat Allah”, apakah itu termasuk kita?

Tak ada pilihan, kecuali kita harus bersabar. Lantas pertanyaan berikutnya adalah: Apakah sabar itu?

Nah, mari kita kembali ke aplikasi Lafzi. Klik “Shabr” yang artinya sabar. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Al-Baqarah (2): 45).

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah (2): 153).

Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata, “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf (12): 18).

Ya’qub berkata, “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf (12): 83).

Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekalian tidak akan sanggup sabar bersama aku.” (Al-Kahfi (18): 67).

Dia (Khidhr) berkata, “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.” (Al-Kahfi (18): 72).

Khidhr berkata: ”Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (Al-Kahfi (18): 75).

Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (Al-Kahfi (18): 78).

Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. (Al-Kahfi (18): 82).

Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. (Al-Balad (90): 17).

Kecuali orang-orang tyang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al-Ashr (103): 3).

Dan kamu tidak menyalahkan kami melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami. (Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (Al-A’raf (7): 126).

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabarnmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (An-Nahl (16): 127).

Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. (Al-Ma’arij (70): 5).

Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami tergadap orang-orang kafir.” (Al-Hadid (57): 22).

Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 23 Maret 2020 M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *