Covid-19: Antara Peduli dan Bodoh Amat

Foto: suara.com

Oleh: Gilang Darmawan*)

Keganasan virus yang menyebar kebanyak negara ini menjadi wabah yang sangat menyeramkan bagi umat manusia, virus yang mulai menyerang pada tahun 2019 di Wuhan, China ini seakan menjadi senjata pemusnah umat manusia yang baru selain nuklir.

Pasalnya, kehadiran virus ini sangat luar biasa berdampak dan melumpuhkan banyak kegiatan dan kehidupan bermasyarakat. Persebaran virus ini tidak pandang bulu, manusia seperti apapun dari kasta bagaimanapun, jika mulai terisfeksi nyawanya akan terancam. Untuk Indonesia sendiri, data terakhir persebaran virus ini (sabtu, 21/3 2020) mencapai 450 orang dinyatakan positif terinfeksi, 38 orang meninggal dunia dan 20 orang sembuh dari wabah tersebut.

Tentunya ini bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja, akan tetapi disisi lain virus ini memaksa manusia untuk belajar mengabaikan. Kenapa begitu? persebaran covid-19 ini bermula ketika orang yang terjangkit secara tidak sengaja menyebarkan virus ini ditempat yang tidak bisa di sadari oleh indera manusia.

Orang terjangkitpun bahkan bisa saja dirinya tidak menyadari dirinya sudah terajngkit virus ini. Virus mulai menjangkit ketika orang yang terjangkit batuk atau memegang sesuatu yang disentuhnya, lantas virus tesebut kemudia di sentuh oleh orang lain.

Para ahli menyebutkan virus ini mulai bekerja ketika kita menyentuh virus dan kita menyentuh bagian muka atau mengucek mata, belum ada keterangan yang menyatakan virus ini bisa menyebar lewat udara.

Semenjak virus ini menyebar, social distance menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan. Sampai saat ini pemerintah sendiri telah membuat beberapa kebijakan terkait covid-19 ini, beberapa diantaranya adalah social distance ini, atau seberapa pentingnya kita mempunyai jarak waspada terhadap wabah ini meskipun terhadap teman, sahabat ataupun bahkan keluarga sendiri.

Mengabaikan dalam hal ini bukan berarti tidak peduli pada mereka yang terajangkit atau menjadi seorang yang anti-sosial dan berbuat bodo amat dengan relasi social, namun salah satu langkah saat ini yang bisa dilakukan selain mencari penawar virus ini adalah dengan usaha memutasi persebaranya, dengan cara social distance tersebut.

Beberapa usaha telah dilakukan pemerintah seperti meniadakan sementara pertemuan masyarakat berskala besar seperti festival, konser kegitan peribadahan dan lainnya, selebihnya adalah kesadaran masing – masing untuk tindak lanjut social distance tersebut.

Social distance yang terjadi membawa dilema tersendiri bagi beberapa orang. Ditengah ganasnya covid-19 ini, beberapa ternyata masih harus berjuang mempertahankan hidup. Kaum buruh dan perantau khususnya, mereka adalah korban dilematis yang terjadi.

Disamping mereka harus menunaikan kewajiban mereka juga harus langsung berhadapan dengan wabah ini langsung dilapangan. Mereka tidak bisa mengabaikan begitu saja kewajibannya, namun disisi lain juga harus sedikit berusaha mengabaikan bahaya yang menanti akibat pekerjaannya.

Tapi selain social distance, banyak juga cara menjaga diri dari wabah ini, selain menjaga kesehatan, makanan teratur, yaitu dengan merajinkan diri untuk bersih bersih, seperti cuci tangan, karena pada dasarnya covid-19 punya batas umur tergantung dimana ia hinggap.

Maka dari itu membersihkan diri menjadi sangat penting karena kita tidak pernah tau kita pernah meraba virus tersebut atau tidak.

*) Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *