Dapur Umum Berbasis Lazismu (I)

Lingkungan masyarakat yang dengan taat dan disiplin melakukan pembatasan sosial, membatasi pertemuan dan memilih tinggal di rumah memiliki daya batas ekonomi.

Bagi yang memiliki stok dana dan bahan makanan, tidak masalah. Mereka memanfaatkan stoknya selama di rumah. Tetap tenang, bisa bekerja, belajar dan beribadah di dalam rumah.

Akan tetapi bagi yang biasanya mengais rejeki di pinggir jalan, dengan arus dana jangka pendek, mereka mendapatkan uang masuk harian akan tertekan dengan kondisi ini. Hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pemasukan harian akan menghadapkan mereka pada masalah mendasar: menipis atau hilangnya kemampuan untuk membuat stok dana dan stok makanan.

Mereka adalah warga komunitas yang perlu mendapat pertolongan langsung dan pertolongan yang bersifat harian pula. Ajaran Islam membuka kemungkinan dibukanya katup pengaman ekonomi dengan instrumen jaring pengaman ekonomi dengan menggunakan fasilitas amal sholeh berupa zakat, infaq, shodaqoh, wakaf tunai.

Orang orang miskin yang kesrakat hidupnya ini memenuhi syarat untuk mendapat fasilitas dana atau bahan makanan atau makanan matang dari dapur umum lokal. Menolong orang miskin dan fakir, dalam konteks ini sudah merupakan kewajiban kifayah bagi ummat Islam.

Harus ada yang bergerak untuk menolong mereka kalau kita ingin memfungsikan agama dalam kehidupan sehari-hari. Itu substansi funsionalisasi agama. Adapun untuk menjalankan dan untuk mempraktekkan ajaran Islam secara konkret, aktual dan faktual diperlukan instrumen.

Dalam hal ini misalnya LAZISMU, atau Baitul Mal milik masyarakat atau masjid. Tentu agar efektif dan efisien diperlukan basis data yang lengkap valid yang dapat mengungkap kebutuhan komprehensif anggota masyarakat yang memerlukan pertolongan ini.

Data ini diolah supercepat sebagai basis untuk merumuskan dan mempraktekkan rencana kegiatan nenolong warga masyarakat yang membutuhkan. Kalau dalam waktu singkat persiapan sudah dilakukan ( persiapan dana, bahan mentah, peralatan, tim pengolah dan tim distribusi) diperlukan tim komunikasi atau sosialisasi di masyarakat. Intinya, produk dapur ini dibagikan ke rumah penduduk dan penduduk diminta sabar menunggu di rumahnya masing masing, tidak perlu mengantre dengan risiko menimbulkan kerumunan.

Untuk memudahkan komunikasi, sosialisasi dan pelaporan pembagian produk dapur umum dapat dilakukan dengan melalui WAGrup misalnya. Oke? Siip?

Jadi intinya: Semangat dan pesan dari ayat dalam Al-Qur’an, khusus nya dalam surat Al Ma’un perlu direaktualisasi kembali. Iki wis wayahe, tumandang, dan orang Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai wong kang mrantasi ing gawe.

Atau cerdas dalam mengatasi masalah sosial ekonomi sebagai dampak pembatasan sosial sekarang ini. Demikianlah ide sederhana saya, kalau ada yang salah mohon dimaafkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *