Dialektika Islam: Ummah, Syariah, Dakwah

Dialektika adalah istilah yang sangat populer baik dalam pembicaraan teknis terminologis dalam studi filsafat–tentang suatu sistem tertutup yang berkembang hanya dengan menggunakan komponen-komponen internalnya sendiri, maupun penggunaan logis common sense dalam pembicaraan keseharian–yang biasanya mengacu kepada upaya mencari jalan keluar dari konflik atau dilema secara win-win solution.

Istilah ini umumnya dianggap berasal dari filosof Jerman Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Dialektika sendiri banyak dipahami merupakan rangkaian tiga komponen yang saling silang sekaligus saling topang secara berkelanjutan: “Tesis” (pernyataan atau tindakan) yang akan memancing munculnya “Antitesis” (kritik, penolakan), yang kemudian diatasi dengan “Sintesis” (perpaduan), yang selanjutnya akan menjadi tesis baru dan akan memancing antitesis dan melahirkan sintesis–demikian seterusnya.

Istilah ini menjadi kontroversial, dan karenanya menjadi semakin terkenal, ketika pemikir Jerman yang lain Karl Heinrich Marx (1818-1883) mengadopsinya dan mentransfernya dari diskursus logika ke ranah politik: yaitu pemahaman bahwa sejarah manusia selalu diwarnai antagonisme politik-ekonomi antara kelompok penguasa dan yang dikuasai, yang berujung pada penindasan oleh kelompok pertama dan penderitaan dari kelompok kedua: di zaman kuno antara para bangsawan dan rakyat jelata, di abad tengah antara tuan tanah dan petani penggarap, di era modern antara pengusaha dan buruh. Marx mencoba menyelesaikan apa yang dia sebut sebagai “pertentangan kelas” ini menggunakan rumus dialektika dan melahirkan gagasan tentang “masyarakat komunis”: masyarakat tanpa kelas, sehingga tidak ada lagi pertentangan kelas. Semua kepemilikan proses produksi diserahkan kepada negara, sehingga semua orang akan menjadi buruh negara.

Pemahaman tentang dialektika seperti di atas tampaknya sudah sedemikian meluas, dan tidak banyak yang tertarik untuk menelisik lebih jauh. Padahal kenyataannya, konsep dialektika tiga unsur (trias) ini bermula dari pemikiran filsuf Jerman sebelumnya yaitu Immanuel Kant (1724-1804). Ketika menjelaskan tentang logika kategori, yaitu upaya untuk membedakan sesuatu dari sesuatu yang lain, Kant mengatakan bahwa kategori tidak hanya terdiri dari dua unsur–”A” dan “Non-A”–melainkan tiga, yaitu ditambah lagi dengan perpaduan antara “A+Non-A”.

Dalam penjelasan sederhana, logika dialektika yang dicetuskan oleh Kant ini merupakan solusi terhadap logika dikotomis yang populer kala itu: baik dualisme Manichean yang antagonistik (siang vs malam, baik vs buruk, pemenang vs pecundang) maupun dualisme  Aristotelian yang komponensial (bentuk vs isi, metode vs tujuan, syariat vs hakikat). Karena, faktanya, realitas ketiga yang melampaui dikotomi memang ada: misalnya pagi dan petang yang merupakan perjumpaan siang dan malam, perjanjian damai dalam peperangan yang menjadikan kedua kubu sama-sama sebagai pemenang, atau negara yang di saat yang sama adalah alat (untuk menciptakan kesejahteraan) sekaligus tujuan (sebagai tatanan politik).

Logika dialektis Kant ini selanjutnya diadopsi dan dikembangkan oleh filsuf Johann Gottlieb Fichte (1762-1814) yang merumuskan konsep “kesadaran diri” (Selbstbewußtsein) sebagai sintesis antara “Subjek” dan “Objek”: yaitu kesanggupan menjadikan subjektivitas diri sendiri sebagai objek telaah dan evaluasi sebagai titik tolak perkembangan peradaban. Filsuf lain yang juga mengolah logika dialektika adalah Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling (1775-1854), dalam pemikiran tentang karya seni sebagai sintesis peradaban untuk mengatasi antagonisme antara hukum alam yang pasti dan imajinasi manusia yang tanpa batas. Seniman mampu mengolah nada, bentuk, warna atau gerak yang terikat oleh hukum-hukum alam yang pasti untuk mengekspresikan ide/rasa/selera/nafsu manusia yang abstrak dan tanpa batas. Pemikiran reflektif dan kreativitas seni adalah fondasi peradaban.

Namun memang Hegel merupakan pemikir yang memiliki rumusan trias dialektika paling detail dan terstruktur, baik pada level logika maupun politik. Pada level logika Hegel memperkenalkan istilah “Aufheben” (menyimpan: menghilangkan sekaligus mempertahankan) sebagai proses terjadinya sintesis, yaitu proses menghilangkan aspek-aspek yang tidak selaras dan mempertahankan aspek-aspek yangs selaras sehingga dua hal yang pada awalnya saling bertentangan bisa menjadi satu realitas baru yang padu. Sementara pada level politik Hegel menjelaskan tentang Negara sebagai sintesis antara (hak/identitas) Individu dan (kolektivitas) Masyarakat: negara adalah sistem kolektivitas yang dibangun untuk menjamin hak-hak dan identitas individu.

Meskipun, pemikiran politik Hegel yang menjulang juga menyebabkan konsep dialektika menjadi sasaran tembak banyak kritik. Salah satu yang paling terkenal adalah kritik dari filsuf Inggris kelahiran Austria, Karl Raimund Popper (1902-1994), perumus teori “falsifikasi”, yang menyatakan bahwa logika dialektik telah menjadi inspirasi munculnya ideologi Fasisme yang menempatkan “Negara” sebagai kebenaran absolut dimana masyarakat dan individu harus tunduk dan meleburkan identitas.

***

Dialektika adalah rumusan logika yang sangat kuat untuk menjelaskan berbagai persoalan kehidupan, termasuk gerakan dakwah Islam. Terlebih lagi karena diskursus dakwah masih sering terjebak dalam logika dikotomis, baik yang versi idealis maupun kontekstualis.

Logika idealis adalah cara pandang yang menganggap bahwa Islam sebagai ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad bersifat final dan universal, serta relevan untuk menjawab persoalan kehidupan manusia di semua tempat dan di sepanjang zaman. Sementara logika kontekstualis adalah cara pandang yang melihat bahwa manusia hidup dalam konteks temporal dan historis yang beragam, yang harus dijadikan dasar untuk memahami dan menafsirkan ajaran Islam.

Meskipun sekilas terlihat serupa namun dua cara pandang di atas tidaklah sama, dan perbedaan yang ada memiliki konsekuensi cukup serius, yang berujung pada dua cara beragama yang cukup kontras. Kelompok idealis, karena menekankan dimensi universalitas diatas kontekstualitas, ketika diterjemahkan di dalam konstruk kehidupan beragama, akan memiliki corak normatif di mana yang menjadi acuan adalah nash dan semua orang memiliki “hak” yang sama untuk merujuknya. Singkatnya cara berislam yang tanpa mazhab.

Sementara logika kontekstualis yang lebih menekankan historisitas ketimbang universalitas Islam, ketika diterjemahkan ke dalam kehidupan beragama akan melahirkan corak keberagamaan yang konstruktivis: tidak semua orang yang memiliki “kapasitas” yang sama dalam memahami agama. Sebagaimana dalam berbagai aspek kehidupan, diperlukan persyaratan tertentu untuk memiliki otoritas dalam memahami dan mengajarkan agama. Singkatnya cara berislam yang menekankan untuk mengikuti mazhab.

Jika dicermati, perdebatan dua kelompok ini bersifat asimetris: yang satu berbicara tentang “kesetaraan hak” untuk, yang lain berbicara tentang “perbedaan kapasitas” dalam, memahami nash. Persis seperti dua orang yang berdebat tentang dua merek motor, yang satu mengunggulkan merek H karena irit, yang yang lain mengunggulkan merek Y kencang. Debat kusir yang tidak akan selesai karena memang tidak nyambung, sehingga semua argumen yang dibangun hanyalah rasionalisasi yang dicari-cari untuk mendukung keyakinan yang sudah dimiliki.

Disamping perbedaan di atas, kedua corak beragama ini juga memiliki kesamaan: yaitu sama-sama dikotomis dalam melihat Islam, antara Syariah vs Ummah, meskipun dari arah berlawanan. Kelompok normativis menempatkan Syariah sebagai acuan, dan menganggap bahwa umat harus dibentuk dan dibangun sesuai nilai-nilai Syariah. Sementara kelompok konstruktivis menempatkan umat sebagai acuan, dan menganggap Syariah bersifat universal yang untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan keseharian perlu dirumuskan dalam bentuk yang lebih operasional, yaitu Fiqih.

Di sinilah logika dialektika memiliki potensi untuk mencari solusi dikotomi antara Syariah dan Ummah. Salah satu versi logika dialektis adalah rumus atau “konkrit-abstrak-absolut”. “Konkrit” merujuk kepada situasi atau kondisi nyata yang sedang dihadapi, yaitu kondisi kehidupan Umat; “Abstrak”, merujuk kepada realitas konseptual, yang tidak lain adalah normativitas Syariat; sedangkan “Absolut” mengacu kepada totalitas upaya, dalam hal ini untuk di satu sisi memahami realitas Ummah dan di sisi lain mendorong ke arah normativitas Syariah–yang tidak lain adalah realitas Dakwah. Sehingga dialektikanya menjadi: Ummah-Syariah-Dakwah.

Dengan logika ini, perbedaan struktur keberagamaan kedua kelompok yang saling bertentangan di atas dapat disatukan dengan mendudukkan keduanya sebagai realitas dakwah. Secara institusional keduanya merupakan hasil dari satu usaha dakwah yang sama untuk menyeru kepada Islam. Dalam sejarah Islam di Nusantara, logika konstruktivis kelompok kontekstualis lahir dari proses dakwah yang bersifat top-down, ketika para pendakwah menyerukan Islam kepada para ningrat dan bangsawan, sehingga dengan menekankan dimensi hierarkhis kehidupan beragama mereka dapat menghadirkan Islam sebagai sumber otoritas yang menyediakan kepastian dan kedamaian. Sementara logika normativis kelompok idealis berkembang dalam konteks ketika para pendakwah menyerukan Islam secara bottom-up kepada kelompok-kelompok yang sedang menjalani proses mobilitas sosial vertikal, baik melalui perlawanan maupun pendidikan, dan dengan menekankan dimensi kesetaraan hak dapat menghadirkan Islam sebagai sumber semangat perubahan.

Jeruklegi Yogyakarta, 16 Dzulqaidah 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *