Dosa dan Petaka

Posted by

Seorang profesor mendatangi dokter. Profesor mengadukan dirinya yang susah sekali tidur. Tidak main-main, dia tidak bisa memejamkan mata dengan nyaman itu selama dua tahun. Akhirnya, profesor merasa ada yang salah dalam dirinya.

Dokter kemudian meminta profesor bercerita tentang aktivitasnya sehari-hari. Apa yang dialami profesor, suka maupun duka, berkah maupun masalah dalam pekerjaannya, harus diceritakan. Dan, profesor menurutinya.

Setelah menyimak semua cerita, dokter berkata, “Resep yang akan saya berikan ke Profesor sederhana.”

“Apa itu, Dokter?” timpal profesor.

“Profesor tidak usah bertanya tentang resep ini, tetapi lakukan saja,” kata dokter yang dijawab anggukan kepala oleh sang guru besar. “Profesor harus menemui orang-orang yang pernah Profesor sakiti, dan mintalah maaf kepada mereka.”

Profesor menundukkan muka, kemudian menjabat erat tangan dokter itu sambil berkata mantap, “Ya. Dokter benar. Segera saya akan lakukan.”

Rupanya profesor menyadari kesalahan dirinya, sehingga ketika dikasih resep begitu oleh dokter, dia langsung membenarkan.

Seminggu berlalu. Profesor menelepon dokter tadi. Profesor mengabarkan bahwa sepulang dari rumah dokter kapan hari, dia langsung menemui orang-orang yang pernah dia lukai hati mereka. Profesor minta maaf. Dan, kata profesor, sudah tiga hari ini dia bisa tidur. Nyaman dan pulas.

Kisah di atas saya dapat dari seorang dokter yang ahli thibbun nabawi (kedokteran nabi), ketika bertemu saya sehabis jamaah Ashar di masjid. Dokter yang juga saya kenal sering mengobati orang-orang tidak mampu secara gratis itu juga punya kisah lain.

Dalam kesempatan berbeda, sepasang suami-istri mengadukan penyakit mereka. Usia keduanya mendekati 60-an. Kali ini, yang dikeluhkan adalah jantung. Menurut suami-istri itu, hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan bahwa penyakit yang mereka derita termasuk parah. Kecil kemungkinan untuk sembuh. Tidak mau menyerah, mereka lantas mendatangi dokter yang berkisah ke saya ini.

Entah kenapa, dokter ahli thibbun nabawi itu juga terlebih dulu meminta mereka bercerita tentang aktivitas sehari-hari. Harus detail. Padahal, menurut dokter kita ini, cara pengobatan yang biasa dia lakukan tidak mesti begitu.

Pasangan suami-istri itu bercerita. Bergantian. Mulai aktivitas pekerjaan hingga keseharian mereka di rumah bersama anak-anak. Yang kelihatan sepele, diceritakan semua. Lengkap.

Dokter menyimak. Mungkin dirasa sudah lengkap, di akhir cerita mereka, dokter lalu berujar, “Bapak dan Ibu sebenarnya bisa sembuh.”

“Benarkah, Dokter?” sahut suami-istri itu hampir bersamaan.

“Insyaallah,” jawab dokter. “Tapi Bapak dan Ibu harus benar-benar melakukan resep dari saya ini.”

“Apa itu, Dokter,” kata suami, yang kemudian disusul kalimat istrinya, “Pasti kami lakukan.”

“Tolong nanti di rumah cari kertas buffalo. Tulis besar-besar di kertas itu kalimat: Jangan ada marah di sini. Kemudian, tempelkan di ruang makan, kamar tidur, dapur, atau tempat-tempat yang sering kalian masuki. Dan, penuhi apa yang kalian tulis itu. Berjalan sekitar dua minggu, lalu rasakan. Di samping juga ini akan saya kasih resep obat.”

Suami-istri itu saling memandang. Mereka seperti kaget dengan resep dokter tersebut. Kemudian, saat pamit, mereka mengucap terima kasih kepada dokter. Sambil menjabat tangan dokter, yang suami berkata, “Insyaallah yang dokter katakan benar adanya. Itulah masalah terbesar kami di rumah.”

Sebulan berjalan. Pasangan suami-istri itu kembali datang ke rumah dokter. Kali ini, suami-istri itu ditemani dua anak perempuan mereka yang berusia kisaran 30-an tahun.

Kepada dokter, salah satu anak itu bercerita bahwa di rumah orangtuanya penuh tulisan larangan marah. Dan, suasana rumah yang dulu penuh amarah, sekarang tidak lagi. Kebersamaan di antara anggota keluarga juga terjaga.

“Benarkah itu?” tanya dokter, yang direspons suami-istri itu dengan senyum. “Lalu, gimana dengan keluhan kalian?”

“Seminggu sebelum kami ke sini, kami periksa ke rumah sakit,” jawab istrinya. “Ternyata, menurut dokter yang menangani kami dulu, penyakit kami sekarang berkurang drastis. Katanya, ada harapan besar untuk sembuh.”

“Alhamdulillah.” Dokter kemudian memberikan resep obat lagi kepada pasangan suami-istri itu untuk dibawa pulang.

Pesan dari dua kisah tadi sangat jelas: kesehatan fisik sangat terkait dengan kebersihan batin. Kerap kali, penyakit-penyakit yang kita keluhkan berasal dari dosa dan kesalahan kita. Sudah banyak penelitian kesehatan yang membuktikan.

Barangkali inilah makna sinyalemen surah As-Syura/42: 30 bahwa apa saja musibah yang menimpa kita adalah disebabkan oleh perbuatan kita sendiri, tetapi Allah memaafkan sebagian besar kesalahan kita.

Karena itu, disamping pengobatan fisik yang ditempuh melalui jalur medis, terapi rohani adalah wajib. Misalnya, Allah memberikan resep dalam surah Al-Furqan/25: 70 bahwa orang-orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, keburukan mereka diganti Allah dengan kebaikan.

Kemudian, di surah Hud/11: 114, Allah memerintahkan kita untuk mendirikan shalat, karena sesungguhnya kebaikan dapat menghilangkan keburukan.

Makna “keburukan” dalam surah Al-Furqan dan Hud yang dikutip barusan bermakna kejahatan, dosa, dan kesalahan. Tetapi, tidak pula salah kita pahami sebagai penyakit dan segala hal tidak mengenakkan yang menimpa kita.

Tegasnya, ibadah dan amal saleh, serta menjalani hidup menurut resep agama, itulah yang membikin kita sehat. Maksiat akan mengundang petaka. Bahkan, marah saja potensial menimbulkan banyak penyakit. Apalagi jika terlalu sering dan lepas kontrol. Tidak heran apabila Rasulullah memberikan resep, “Jangan marah” hingga diucapkan tiga kali.

Akhirnya, kesehatan dan kebahagiaan hidup pasti milik orang-orang yang dekat dengan Allah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *