Fenomena Kurban

Posted by

Kurban adalah ibadah kuno dan klasik seusia anak Adam menghuni kolong langit ini. Dilanjutkan kurban Nabi Ibrahim dan diabadikan dalam ajaran yang dipraktikkan Nabi Muhammad saw.

Ibadah kurban itu bermula dari bimbingan Tuhan untuk memberikan solusi atas konflik antara kedua anak Nabi Adam yang populer dengan sebutan Kabil dan Habil.

Kabil dan Habil berkurban sesuai dengan niat dan motivasi masing-masing. Allah swt menerima kurban sang adik, Habil, dan tidak menerima kurban si kakak.

Muncullah rasa iri dan dengki, hingga mencapai puncak amarah. “Akan kubunuh kau!”, kata Kabil. Habil pun menjawab dengan tenang, “Jika engkau mengayunkan tangan untuk membunuhku, sekali-kali aku tak akan melakukannya. Bertobatlah, Kakak…”

Kabil telah dikuasai nafsu amarah. Ia pun menumpahkan darah untuk pertama kali di bumi ini. Tiba-tiba ia bingung, hendak diapakan jenazah saudaranya yang telah terkapar meregang nyawa.

Tuhan mengajari Kabil mengebumikan saudaranya. Dua ekor burung gagak bertarung di angkasa; yang satu terkapar jatuh di tanah. Gagak pembunuh pun menggali tanah untuk menimbun kawannya.

Kurban Nabi Ibrahim demikian menggetarkan.

Nabi Ibrahim berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?”
Putranya, Ismail, dengan teguh hati menjawab, “Wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan atasmu. Insyaallah akan engkau saksikan aku termasuk orang yang tabah hati dan sabar…”

Nabi Ibrahim lulus! Allah mengganti Ismail dengan sembelihan berupa domba yang besar.

Menyembelih hewan kurban adalah simbol memotong aliran pengaruh setan pada nadi kehidupan.

Seorang sahabat berkomentar demikian. Begitukah Ustadz? Penjelasannya seperti apa, apakah hewan mirip setan, dalam hal apa? Atau sebaliknya, setan mempunyai karakteristik seperti hewan? Hewan yg mana? Barangkali Ustadz punya rujukan tentang kemiripan hewan dan setan? Ini penting untuk kita ilmiahkan, apalagi bagi pegiat lingkungan hidup.

Tentang fenomena kurban, itu bukan masalah hewannya.
Memotong leher hewan kurban adalah memotong aliran darah di tubuh hewan itu. Yang demikian itu mengandung makna simbolis perintah menghentikan pengaruh setan dalam aliran darah kita.

Nabi Muhammad saw pernah bersabda, bahwa setan dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan bergerak dalam aliran darah manusia.

Dari segi ilmu, hikmah kurban, antara lain, memelihara keseimbangan ekosistem.

Andaikata tidak ada tuntunan kurban, niscaya populasi sapi dan kambing khususnya, akan tidak terkendali, dan menghabiskan sayur mayur serta tumbuh-tumbuhan yang mesti dikonsumsi manusia.

Kita niscaya berbagi rezeki dengan hewan, sebagaimana umat Nabi Saleh yang harus berbagi air dengan untanya.

Ibadah kurban adalah pendidikan kesungguhan, kejujuran, kebaikan hati, dan keikhlasan. Dengan berkurban manusia mempertahankan eksistensinya sebagai makhluk terbaik dan paling potensial di muka bumi.

Manusia adalah makhluk luar biasa.
Manusia bisa menjadi baik melebihi malaikat dan bisa menjadi buruk melebihi setan.
Bukan menuduh siapa-siapa.

Manusia niscaya jujur, bahkan kepada diri sendiri sekalipun.

Akal manusia itu luar biasa. Bisa untuk membenarkan yang benar. Bisa untuk menyalahkan yang salah. Bisa untuk membenarkan yang salah. Bisa untuk menyalahkan yang benar. Bukan menunjuk akal siapa-siapa.

Selamat Hari Raya Idul Adha.
Mari berkurban dengan saksama.

Bukittinggi, 1 Agustus 2019

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *