Generasi Qurani Membentuk Moral dan Karakter Bangsa

Posted by

Pendidikan merupakan usaha untuk mendewasakan anak manusia agar kehidupannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Pendidikan dimulai sejak lahir, bahkan rangsangan-rangsangan kependidikan sudah dapat dilakukan sejak bayi dalam rahim, dan berkelanjutan sepanjang hayat dikandung badan.

Mendidik berarti membangun karakter untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul lahir dan batin yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai luhur kehidupan. Pendidikan meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Rasulullah saw bersabda, “Al-‘Ilmu bitta’allumi wal hilmu bittahallumi – Sesungguhnya ilmu itu dicapai dengan belajar, dan murah hati serta pemaaf itu dicapai dengan berbuat demikian.”

Pendidikan agama merupakan cara terbaik untuk menanamkan akhlak yang mulia dan mengajarkan budi pekerti halus pada seseorang, membentuk mental yang luhur, dan membangkitkan naluri yang peka dalam dirinya yang akan menjadi pengontrol tindak tanduknya, pendorong untuk beramal saleh, dan mencegah perbuatan yang tidak patut. Kepekaan naluri dan kesadaran jiwa yang demikian itu merupakan intisari dan hakikat iman serta bibit akidah yang mantap, tanda kehendak Allah, dan ridha-Nya bagi seseorang.

Rasulullah saw bersabda, “Idza sa`atka sayyi`atuka wa sarratka hasanatuka fa anta mu`min – Jika engkau merasa resah karena berbuat dosa, dan merasa puas, serta senang karena berbuat kebaikan, maka engkau adalah seorang mukmin.”

Rasulullah saw juga bersabda, “Idza aradallahu bil ‘abdi khairan ja’ala lahu wa’zhan min nafsihi – Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang hamba-Nya, maka dibangkitkanlah pada dirinya naluri pengingat.” (HR ad-Dailami).

Tabiat dan watak yang baik selalu mengarah ke jurusan yang baik dan enggan menyimpang dari jurusan dan tujuan yang baik itu. Rasulullah saw bersabda, “Al-birru ma ithma`anna ilaihil qalbu wa ithma`annat ilaihinnafsu. Wal itsmu ma haka fin-nafsi wa taraddada fish-shadri wa karihta an yaththali’a ‘alaihinnasu – Kebaikan ialah amal yang diterima oleh hati dan jiwa dengan tenteram dan puas, sedangkan dosa dan maksiat adalah apa yang merisaukan di dalam dada dan engkau tidak suka orang mengetahuinya.”

Pada awal kehidupan manusia lahir tanpa pengetahuan apa pun, lalu berinteraksi dengan lingkungan melalui pancaindra dan sedikit demi sedikit transformasi pengetahuan berlangsung. Allah swt membekali manusia dengan empat petunjuk, yakni naluri, indera, akal dan agama.

Allah melahirkan kamu dari rahim ibumu sementara kamu tidak mengetahui apa-apa; dan Dia membuat untukmu pendengaran, penglihatan dan hati, supaya kamu bersyukur. (QS An-Nahl [16]: 78).

Fakta menunjukkan, bahwa sejak manusia lahir ia telah dapat mendengar. Berbeda dari fungsi penglihatan, ketika lahir mata bayi telah terbuka, tetapi untuk beberapa hari belum berfungsi untuk melihat. Adapun hati, ia baru berfungsi beberapa waktu kemudian. Hati adalah pusat segala rasa cinta kasih, hati nurani, kecerdasan, dan intelek.

Alquran merekomendasikan manusia untuk hidup berbangsa, supaya saling mengenal, bukan saling membenci.

Hai manusia, Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah, ialah yang paling bertakwa. Allah Maha Tahu, Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat/49: 13).

Ayat tersebut mengandung pesan agar bangsa-bangsa di dunia berpacu meraih kemuliaan di hadapan Allah swt dengan meraih puncak prestasi dan puncak ketakwaan kepada-Nya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang ingin menjadi orang paling mulia, hendaklah bertakwa kepada Allah; siapa yang ingin menjadi orang paling kuat, hendaklah bertawakal kepada Allah; siapa yang ingin menjadi orang paling kaya, hendaklah lebih yakin terhadap apa yang di tangan Allah daripada apa yang ada pada tangannya. (HR Hakim).

Seseorang berkata kepada Rasulullah saw, “Siapakah orang yang paling utama?” “Orang yang bersih hatinya dan jujur lisannya.” Mereka berkata, “Kami tahu lisan yang jujur, maka apakah yang dimaksud dengan hati yang bersih?” Nabi menjawab, “Yaitu orang yang bertakwa; suci dari dosa, tidak melampaui batas, dan tidak dengki.” (HR Ibnu Majah).

Rasulullah saw bersabda, “Aku mengetahui sebuah kata.”Usman pun berkata, “Sebuah ayat yang bila semua manusia memilikinya maka cukuplah. Mereka bertanya, “Ayat apa?” Rasulullah bersabda, “Siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah memberikan jalan keluar – QS Ath-Thalaq/65: 2.” (HR Ibnu Majah).

Dalam bidang apa pun prestasi tak akan dapat diraih individu maupun kelompok dalam semalam. Ia membutuhkan proses latihan, kesabaran, dan ketekunan yang lama. Bangsa yang ingin maju harus giat belajar, bekerja keras, dan berusaha sungguh-sungguh untuk meraih kemajuan hidup yang dicita-citakannya. Kekuatan, kemajuan, dan kejayaan suatu bangsa tergantung pada usahanya.

Bagi manusia ada malaikat yang bergiliran di depannya dan di belakangnya. Mereka menjaganya dengan perintah Allah. Sungguh, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu bangsa sebelum mereka mengubah dirinya sendiri. Jika Allah hendak menjatuhkan hukuman kepada sesuatu bangsa, tak ada yang dapat menolaknya, juga tak ada yang melindungi selain Dia. (QS Ar-Ra’d/13: 11).

Allah swt tidak akan mengubah keadaan suatu bangsa, selama mereka tidak berusaha mengubah sebab-sebab kemunduran mereka, dan Allah swt tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada-Nya.

Itulah, karena Allah tak pernah mengubah nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, jika mereka tidak nasib mereka sendiri. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Tahu. (QS Al-Anfal/8: 53).

Allah swt menurunkan Alquran sebagai Kitab Pendidikan paling agung sepanjang zaman. Dengan Al-Quran Allah swt mendidik manusia sepanjang masa agar senantiasa hidup damai, jujur, adil, rendah hati, sederhana, tanggung jawab, sejahtera, bermartabat, toleransi, saling menghargai dan mencintai, kerjasama, bersatu, bebas, membawa maslahat bagi seluruh makhluk, dan bahagia di dunia dan akhirat.

Ibadah dalam arti penyembahan ialah suatu tindakan tertinggi serta sikap rendah hati yang luar biasa dalam ibadat. Keimanan akan menghasilkan segala amal saleh. Inilah kesempatan yang diberikan kepada manusia: maukah ia mempergunakan dan melaksanakan kemauan bebasnya? Kalau ia lakukan itu, maka seluruh kodratnya akan berubah. Dalam segala tingkah laku mereka jujur dan ikhlas, begitu juga dalam janji dan kata-kata. Mereka menjadi manusia teladan dalam masyarakat. Dalam kehidupan batin mereka bersungguh-sungguh dan mendalam, diimbangi oleh sikap dan cara hidup lahir.

Ibadah mereka kepada Allah dapat tercermin dari kecintaan mereka kepada sesama manusia, sebab mereka selalu siap bersedekah. Disiplin diri mereka sangat tinggi, sehingga setiap pagi hari yang pertama kali mereka lakukan dengan segala kerendahan hati ialah mendekatkan diri kepada Allah.

Iman yang hakiki ialah keinginan yang begitu kuat untuk menjauhi segala larangan Allah dan melawan hukum-Nya dengan berusaha sungguh-sungguh mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan berjuang demi Allah. Keimanan yang sesungguhnya tercermin oleh rasa hormat yang sama dengan rasa cinta, sebab rasa cinta itu takut berbuat sesuatu yang tidak akan menyenangkan pihak yang dicintainya.

Orang yang beriman berpegang teguh kepada ajaran Allah, mentaati Allah dan Rasul-Nya, memelihara batas-batas ketentuan Allah, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka selalu konsisten, rendah hati, dan dapat dipercaya.

Orang yang beriman mengikuti Alquran dan memiliki kesadaran sejarah, sehingga dapat mengambil pelajaran dari pengalaman umat terdahulu, dan mampu mengambil pelajaran dari fenomena alam; tabah, dapat menahan diri, dan sabar dalam penderitaan, kesengsaraan, dan suasana kacau.

Katakanlah, “Inginkah Aku kabarkan kepadamu berita yang lebih baik daripada semua itu? Bagi mereka yang bertakwa kepada Allah, ada taman-taman, di dalamnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di sana, dan pasangan-pasangan yang suci bersih serta keridhaan Allah. Allah Maha Melihat semua hamba-Nya. Yaitu mereka yang berdoa: “Tuhan, sungguh kami beriman, ampunilah segala dosa kami dan jauhkan kami dari azab neraka.” Mereka itu orang yang tabah, dapat menahan diri, yang jujur dalam kata dan perbuatan, yang taat beribadah, yang menafkahkan harta di jalan Allah, dan yang berdoa memohon pengampunan sebelum fajar tiba. (QS Ali Imran/3: 15-17).

Allah swt mendidik manusia menghindari keburukan, menahan amarah, dan tidak meneruskan perbuatan dosa.

Mereka yang menafkahkan hartanya di waktu lapang atau dalam kesempitan; dapat menahan amarah dan dapat memaafkan orang. Allah mencintai orang yang berbuat baik. Dan mereka yang bila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri segera mengingat Allah dan memohon ampunan atas segala dosanya; dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa demikian padahal mereka tahu. (QS Ali Imran/3: 134-135).

Alquran mengajari manusia memperbaiki diri, tidak khawatir dan tidak sedih.

Hai anak-anak Adam, jika rasul-rasul datang kepadamu dari kalangan kamu sendiri menyampaikan ayat-ayat-Ku, maka mereka yang bertakwa dan memperbaiki diri, tak perlu khawatir, tak perlu sedih. (QS Al-A’raf/7:35).

Allah membimbing manusia menepati janji, benar dan jujur dalam kata dan perbuatan, mengerjakan amal kebaikan dan mengajak kepada kebaikan serta berlaku adil.

Kebaikan itu bukanlah karena menghadapkan muka ke timur atau ke barat; tetapi kebaikan ialah karena beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, Kitab dan para nabi, memberikan harta benda atas dasar cinta kepada-Nya kepada para kerabat, anak yatim, fakir-miskin, orang dalam perjalanan yang memerlukan pertolongan, mereka yang meminta, dan untuk menebus budak-budak; lalu mendirikan shalat dan membayar zakat; memenuhi janji bila membuat perjanjian, dan mereka yang tabah dalam penderitaan dan kesengsaraan dan dalam suasana kacau. Mereka itulah orang yang benar, dan mereka itu yang bertakwa. (QS Al-Baqarah/2:177).

Hai orang-orang beriman, jadilah penegak keadilan, sebagai saksi-saksi karena Allah, dan janganlah kebencian orang kepadamu membuat kamu berlaku tidak adil. Berlakulah adil. Itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Allah tahu benar apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Maidah/5:8).

Alquran mengajarkan kepada manusia agar bersatu dan memelihara hubungan baik antar sesama, mengerjakan amal kebaikan dan mengajak kepada kebaikan.

Janganlah seperti mereka yang bercerai-berai dan berselisih paham sesudah menerima keterangan yang jelas. Mereka itulah yang akan mendapat azab yang berat. (QS Ali Imran/3:105).

Mereka bertanya kepadamu tentang pembagian rampasan perang. Katakanlah: “Rampasan perang demikian kepunyaan Allah dan Rasul-Nya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan perbaikilah perhubungan antara kamu; taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu orang beriman.” (QS Al-Anfal/8:1).

Manusia niscaya menciptakan kedamaian dalam kehidupan bersama dan memperkokoh tali hubungan antar sesama.

Orang-orang beriman sesungguhnya bersaudara; maka damaikanlah kedua saudaramu yang berselisih, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al-Hujurat/ 49: 10).

Jangahlah nama Allah dijadikan suatu alangan dalam sumpahmu untuk berbuat baik dan bertakwa serta membawai perdamaian antara manusia; Allah Maha Mendengar, Maha Tahu. (QS Al-Baqarah/2: 224).

Mereka selalu diliputi kehinaan di mana pun mereka berada, kecuali bila mereka berpegang pada tali janji dari Allah dan tali perjanjian dari manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan selalu diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa sebab; soalnya karena mereka durhaka dan melanggar batas. (QS Ali Imran/3: 112).

Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia ini, dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab api.[]

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *