HADJI AGUS SALIM: Si Jenius dari Kaki Singgalang

Posted by

Koto Gadang adalah sebuah Nagari[1] yang indah dan permai. Letaknya berada dalam cakupan wilayah Kecamatan Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Nagari yang berada di kaki Gunung Singgalang dengan panorama sawahnya yang bertingkat-tingkat ini menyimpan banyak sekali saksi kejadian dan peristiwa. Sebuah Nagari makmur yang berada di sebelah barat Fornt de Kock[2], Bukit Tinggi dan berbatasan langsung dengan Nagari Sianok ini merupakan daerah yang sangat subur.

Sebelum Indonesia merdeka, wilayah Koto Gadang berada dalam kekuasaan Governemen[3] Hindia Belanda. Karena Nagari Koto Gadang merupakan daerah yang sangat kaya dengan aneka ragam Sumber Daya Alamnya, maka penduduknnya pun memiliki beraneka-ragam pekerjaan, bersawah, berladang, beternak, perajin kayu dan ada sebagian yang menambang emas.

Dari Nagari yang memiliki pemandangan alam yang memesona, sekaligus Sumber Daya Alam yang tak habis-habisnya inilah kita dapat menyaksikan bangunan-bangunan yang tetata rapi dan di bangun dengan gaya arsitektur yang penuh dengan nilai karya seni. Ada rumah adat bergonjong yang menjadi identitas seluruh Nagari yang ada di Alam Minangkabau ini. Pun, ada pula bangunan-bangunan bersejarah—bekas peninggalan bangsa penjajah—yang sampai saat ini masih terawat, masih menandakan bekas-bekas keelokannya.

Tentu saja hal itu menjadikan Alam Minangkabau semakin tampak rupawan. Ditambah lagi dengan panorama alamnya yang memanjakan luasan cakra-pandang. Bukit Jirek nan hijau menghias hampir sebagian besar Nagari Koto Gadang. Pematang-pematang sawah yang bertanah gembur, dan jalanannya yang berkelok-kelok, menambah asrinya Nagari ini. Membuat siapa saja yang pernah mendatanginya merasa rindu untuk kembali, dan mengajak seseorang yang belum pernah mengunjunginya akan semakin tergerak untuk memuaskan rasa penasarannya.

Di tengah-tengah padatnya rumah penduduk, jika menelusur lebih jauh lagi memasuki wilayah Nagari ini, maka tentu akan ditemukan pemandangan yang menakjubkan. Hampir sebagian besar bangunan-bangunan bercorak dan beraksitekstur kolonial awal abad 19 masih terpelihara dengan eloknya. Hal itu tentu saja karena, pada masa penjajahan dulu Nagari Koto Gadang dan daerah-daerah alam Minangkabau yang lainnya dijadikan sebagai salah satu pusat peradaban dan ilmu pengetahuan. Selain Batavia[4], Semarang dan Surabaya.

Di salah satu daerah yang ada di Koto Gadang inilah salah seorang pahlawan, sekaligus peletak dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini dilahirkan. Namanya Agus Salim. Agus Salim dilahirkan pada tanggal 8 Oktober 1884. Ayahnya bernama Sutan Muhammad Salim, dan ibunya bernama Siti Zainab. Sejak kecil Agus Salim dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas dan memiliki daya ingat yang sangat tinggi. Lulus dari Europeesche Lagere School (ELS), dia sudah menguasai Bahasa Belanda dengan sangat fasih. Berkat kecerdasan dan kedudukan ayahnya yang bekerja sebagai Hoofdjaksa pada Governemen Hindia Belanda membuat Agus Salim kecil berpeluang meneruskan pendidikan di sekolah lanjutan bernama Hogere Burger School (HBS) yang ada di Batavia.

Lulus dari Hogere Burger School (HBS) dengan predikat Juara Nasional, membuatnya berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan pada salah satu sekolah kedokteran yang ada di Kerajaan Belanda. Sayang, cita-cita itu tidak pernah kesampaian karena Beasiswa yang dia ajukan ditolak oleh pemerintah Hindia Belanda. Kegagalannya meneruskan pendidikan kedokteran di Kerajaan Belanda tidak lantas meruntuhkan semangatnya. Berkat beberapa Bahasa Asing yang dikuasainya, dia beroleh kesempatan untuk bekerja pada salah satu Kantor Konsulat Belanda yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi.

Pada saat bekerja di Kantor Konsulat itulah ketertarikan Agus Salim pada pendidikan agama Islam semakin besar. Hal itulah yang kemudian mendorongnya memperdalam agama Islam dan Bahasa Arab pada salah seorang ulama kharismatik bernama Syaikh Ahmad Khattib Al-Minangkabawy. Selain itu, dia juga belajar agama Islam dari banyak ulama yang berasal dari Timur Tengah. Persentuhannya dengan pokok-pokok Islam modern yang diajarkan oleh Syaikh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afgany membuatnya tertarik pada dunia pergerakan dan politik Islam.

Sepulang dari Jeddah, kecintaannya pada dunia Islam dan pergerakan semakin menggila. Hal itulah yang kemudian menuntun langkahnya berkenalan dengan Raden Mas Tjokroaminoto dan Sarekat Islam. Tak lama berkenalan dengan Raden Mas Tjokroaminoto, pemuda Salim yang mula-mula mendapatkan mandat dari kepolisian Hindia Belanda untuk memata-matai organisasi radikal itu justru “mbalelo” dan menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan Sarekat Islam.

Kiprah Agus Salim di Sarekat Islam tidak dapat dianggap remeh. Karena dalam waktu singkat keberadaannya di Sarekat Islam langsung mendapatkan tempat istimewa di hati Raden Mas Tjokroaminoto dan beberapa petinggi Sarekat Islam yang lainnya. Pada tahun 1935 atau setelah hampir dua puluh tahun berjuang di Sarekat Islam, Agus Salim diminta untuk menjadi pimpinan puncak Sarekat Islam yang saat itu sudah berubah menjadi partai politik, bernama Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

Sayang, kedudukannya sebagai pimpinan puncak PSII tidak berlangsung lama. Dia terlibat perselisihan paham dengan beberapa pimpinan PSII di bawah pimpinan Raden Mas Abikoesno Tjokrosoejoso, yang membuatnya terpaksa hengkang dari kepengurusan PSII. Keputusan keluar dari PSII tak lantas membuatnya jauh dari dunia politik. Bersama-sama dengan Abdul Muthallib Sangadji dan Mohammad Roem, Agus Salim menjadi penggagas berdirinya Partai Pergerakan Penyadar, yang dalam waktu singkat mampu meraih simpati dari masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Menjelang Kemerdekaan Indonesia, Agus Salim didaulat menjadi salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bahkan namanya juga tercantum dalam daftar panitia sembilan bersama-sama dengan Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta yang bertugas membuat rancangan Undang-Undang Dasar bagi calon negara Indonesia. Kiprahnya terus berlanjut sampai Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah Indonesia merdeka, orangtua yang mendapat julukan, “The Grand Old Man” ini mendapatkan amanat dari negara untuk melakukan korespondensi dengan beberapa negara, agar bersedia memberikan pengakuan Kemerdekaan Indonesia secara de jure. Berkat kepiawaiannya dalam bermain kata-kata dan kecerdasannya melakukan diplomasi, akhirnya perjalanan politiknya membuahkan hasil yang gilang-gemilang. Secara berturut-turut, Kemerdekaan Indonesia mendapatkan pengakuan secara de jure dari Mesir, Lebanon, Suriyah, Iraq, Saudi Arabia dan Yaman.

Sukses melakukan perjalanan politik di Timur Tengah, Pak Tua yang lincah ini melanjutkan lawatannya ke Amerika Serikat. Dengan penuh percaya diri dia melangkah menuju Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) guna meneruskan misinya, agar Kemerdekaan Indonesia diakui oleh seluruh negara-negara dunia. Sekali lagi, laki-laki tua pecinta vegetarian ini pulang ke Indonesia dengan membawa segudang prestasi. Di tangan Agus Salim inilah, keberadaan republik yang masih seumur jagung ini berani tampil percaya diri di panggung dunia sebagai bangsa yang merdeka.

***

Beruntunglah Bangsa Indonesia pernah memiliki salah seorang putra terbaik seperti Agus Salim. Dia merupakan seorang tokoh yang memiliki banyak talenta. Pribadi yang brilian ini mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara. Pemikiran-pemikirannya yang modern, kecerdasannya yang pilih-tanding dan kepiawaiannya dalam menguasai sembilan Bahasa Asing mengantarkannya meraih kesuksesan besar melakukan misi diplomasi politik ke negara-negara adidaya dunia. Sehingga dalam waktu singkat, orok republik ini mendapatkan pengakuan kemerdekaan secara de jure dari seluruh negara-negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meskipun postur tubuhnya sangat kecil, tapi hal itu tak pernah menghalangi niat agungnya membebaskan negeri ini dari segala bentuk penjajahan.

Pada saat Indonesia baru saja merdeka, masih banyak sekali negera-negara besar, terutama negara-negara yang ada di benua Eropa merasa enggan untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Lebih-lebih lagi negara Jerman. Saat itu Jerman merupakan negara yang sangat kuat, sehingga cenderung menganggap remeh kemampuan bangsa-bangsa Asia, terutama Indonesia yang baru saja terbebas dari belenggu penjajah. Bahkan Bangsa Jerman yang saat itu mengaku sebagai bangsa paling tinggi kedudukannya di antara bangsa-bangsa yang ada di dunia tidak bersedia mendengarkan pidato-pidato diplomasi dari negara-negara lain jika tidak disampaikan dengan menggunakan Bahasa Jerman.

Saat itu Agus Salim telah menduduki jabatan sebagai Menteri Luar Negeri pada Kabinet Amir Sjarifuddin. Selaki lagi Pemerintah Indonesia mengutus Agus Salim untuk melakukan misi diplomasi ke negara-negara Eropa, khususnya Jerman, yang tak kunjung bersedia mengakui kemerdekaan Indonesia. Tugas negara itu ditunaikan dengan segera. Mengetahui jika Pemerintah Jerman tidak akan pernah menerima diplomasi politik yang disampaikan dengan Bahasa Asing, maka Agus Salim langsung menyusun naskah pidatonya dengan menggunakan Bahasa Jerman.

Pada saat diberi kesempatan berpidato di hadapan pejabat penting negeri nazi itu, Agus Salim menyampaikan pidatonya dengan Bahasa Jerman yang fasih. Membuat semua orang yang ada di ruangan seumpama pasewakan agung itu terheran-heran. Para petinggi Jerman yang awalnya menganggap remeh Bangsa Indonesia akhirnya bersedia mengakui kemerdekaan Indonesia. Kepiawaian dan kecerdasan Agus Salim berpidato dengan Bahasa Jerman kembali membuka mata dunia, bahwa dia merupakan salah seorang Bapak Bangsa yang memiliki banyak kelebihan.

Kecerdasan dan jejak-jejak kedalaman intelektualitas Agus Salim menyebar ke segala bidang keilmuan. Baik di lingkungan pendidikan, sosial-budaya, pemikiran-pemikiran Islami dan seni berdiplomasi. Dia adalah seorang anak bangsa, yang menurut Buya Hamka, sangat langka. Sehingga dalam jangka waktu se-abad Indonesia hanya memiliki satu orang yang kecerdasannya tiada banding seperti Agus Salim. Hal itu dibuktikan dengan para pejabat tinggi negara-negara besar yang terkagum-kagum saat mendengarkan pidato-pidato Agus Salim diberbagai kesempatan, karena kepiawaiannya dalam mengolah kata-kata.

Perjalanan Agus Salim dalam meniti kehidupan ini sungguh penuh liku. Berasal dari keluarga pegawai pemerintah yang mapan dan hidup berkecukupan, sebakda pernikahannya dengan Zainatun Nahar, dia justru mengambil jalan hidup mandiri. Jauh dari fasilitas orangtua yang berada. Bermula dari menjadi pegawai pada pemerintah bentukan penjajah, sampai keputusannya menentang pemerintah merupakan perjalanan panjang yang tak hanya menguras banyak energi dan pikiran. Tapi juga menguras air mata.

Sejak memutuskan bergabung dengan Sarekat Islam, karir politiknya melejit. Begitu juga dengan kepiawaiannya dalam menulis, yang semakin mendapatkan tempat tersendiri di hati para penggemarnya. Khususnya bagi para pemuda terpelajar yang sedang menggeliat, ingin bangkit dari rongrongan bangsa penjajah. Banyak hal yang bisa disematkan untuk menyebut Bapak Bangsa kita yang satu ini. Agus Salim.

Semangatnya dalam belajar, kesungguhannya dalam berjuang, antusiasnya dalam berkiprah dan keseriusannya dalam memperjuangkan pokok-pokok ajaran Islam menempanya menjadi pribadi yang matang dalam segala hal. Dia adalah seorang leader dan seorang ulama yang patut dijadikan sebagai contoh dalam keteladanan. Kesederhanaan hiodupnya juga dapat dijadikan sebagai cermin bagi pemimpin-pemimpin bangsa, bahwa memimpin adalah menderita, sebagaimana filosofi yang diyakininya.

Tak heran jika pada akhirnya rakyat Indonesia menempatkan Agus Salim sebagai seorang pejuang, sekaligus pemimpin yang merakyat. Setiap kalimat-kalimat yang mengalir lembut dari lisannya merupakan nasehat-nasehat kebenaran. Menadah dan menjadikannya sebagai pusaka merupakan jalan pilihan yang paling tepat. Setiap perbuatannya adalah contoh-contoh kebaikan yang menyata. Sekalipun dia tidak pernah memberikan nasehat, selagi dia belum melakukannya sendiri.

Pendek kata, segala perkataan dan perbuatan Agus Salim merupakan anutan yang dapat digugu dan tiru. Lebih-lebih bagi pemimpin-pemimpin bangsa saat ini, yang selayaknya berkaca pada sosok Agus Salim yang jenaka ini. Jika mereka ingin menjadi seorang pemimpin yang akan dikenang sepanjang masa. Memimpin adalah menderita. Keyakinan yang menjadikan Agus Salim sebagai pemimpin luhur yang memegang prinsip kenabian. Sehingga jabatan tak pernah membuatnya silau akan dunia. Harta tak pernah membuatnya lupa menunaikan kewajiban-kewajibannya. Tersebab dia memilih hidup miskin sepanjang hidupnya, demi cita-citanya memberi yang terbaik untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. []


[1] Nagari adalah istilah yang digunakan oleh orang-orang Alam Minangkabau untuk menyebut desa atau kelurahan.

[2] Fornt de Kock adalah Benteng pertahanan milik Governemen Hindia Belanda yang di bangun oleh Kapten Bouer pada tahun 1825, letaknya berada di atas Bukit Jirek, Bukit Tinggi.

[3] Governemen adalah istilah yang digunakan untuk menyebut Pemerintahan Hindia Belanda

[4] Pada tahun 1619 Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen berhasil merebut Kota Jayakarta yang sebelumnya bernama Sunda Kelapa dari kekuasaan Kasultanan Banten. Kemudian sekitar tahun 1621 nama Jayakarta dirubah menjadi Batavia dan sekitar tahun 1942 Jepang merubah nama Baravia menjadi Jakarta.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *