Hidup Bersama Allah, Mengapa Tidak

Posted by

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah swt yang sebaik-baiknya (QS At-Tin/95:4). Sejak dalam kandungan pun manusia telah dibaiat untuk bersaksi bahwa Allah swt adalah Tuhannya, agar kelak di akhirat tidak berkata bahwa ia lengah. (QS Al-A’raf/7:172).

Sudah sangat pada tempatnya bila manusia selalu menghubungkan diri dengan Sang Pencipta kapan saja dan di mana pun ia berada, baik dalam suka maupun duka. Allah swt pun menyediakan waktu-waktu tertentu untuk beraudiensi dengan-Nya melalui shalat dan dzikir untuk mengingat Dia. (QS An-Nisa`/4:103; Thaha/20:14).    

Tak seorang pun menginginkan musibah menimpa dirinya. Sungguhpun demikian adakalanya musibah tak terhindarkan, baik karena kealpaan manusia atau karena peristiwa alam yang di luar kemampuan manusia untuk mengantisipasi dan mengatasinya. Cara yang terbaik untuk menjaga keseimbangan hidup serta kondisi jasmani dan rohani pada saat tertimpa musibah adalah dengan mengembalikan segalanya kepada Allah swt. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un – sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. (QS Al-Baqarah/2:156).

Al-Quran mengabadikan pengalaman Nabi Muhammad saw bersama sahabat karibnya, Abu Bakar, ketika mereka bersembunyi di dalam gua di tengah perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah. Sebagian sejarawan meriwayatkan bahwa ketika mereka berada di dalam gua Tsur, untuk menghindari kejaran orang-orang kafir, Abu Bakar tersengat kalajengking yang sangat ganas. Dalam usaha menahan diri dari mengaduh kesakitan Nabi Muhammad saw menatap rona wajah Abu Bakar yang pucat pasi. Nabi Muhammad saw pun menenteramkan sahabatnya dengan berkata, “La tahzan innallah ma’ana – Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah swt bersama kita.” (QS At-Taubah/9:40).

Sejarawan yang lain menuturkan, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq tampak kusut masai bukan karena digigit serangga atau karena takut dirinya dipergoki dan dibunuh oleh orang-orang kafir, melainkan mengkhawatirkan keselamatan Nabi Muhammad saw. Apa yang akan terjadi pada agama yang sedang tumbuh ini bila Nabinya binasa. Allah swt benar-benar bersama mereka.      

Manusia memang harus selalu mengingat asal-usulnya agar dapat menjalani hidup di dunia yang hanya sekali ini dengan saksama. (QS An-Nisa`/4:1). Bagaimana mungkin manusia mengingkari Tuhannya padahal semula ia mati kemudian Allah menghidupkannya lalu Dia mematikannya, kemudian menghidupkannya kembali, lalu kepada-Nya ia dikembalikan (QS Al-Baqarah/2:28).

Alangkah durhakanya bila manusia menyekutukan Tuhan yang telah menciptakan dan mengilhami kedua orang tuanya untuk mengasuhnya sejak kecil hingga dewasa. Itulah sebabnya setiap anak manusia niscaya bersyukur kepada Allah swt dan kepada kedua orang tuanya. (QS Luqman/31:12-14).

Kadang manusia alpa melakukan tindakan yang tidak semestinya, sengaja maupun tak sengaja. Untuk itu ia harus mengakui kesalahannya dan memohon ampun kepada Allah swt. “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Al-A’raf/7:23).

Siapa yang bersalah niscaya memohon kepada Allah sepenuh hati agar Dia tidak menjatuhkan sanksi atas dirinya. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah/2:286). 

Setiap manusia niscaya meyakini bahwa Allah swt benar-benar Maha Esa dan Maha Kuasa atas segala. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia Mahatinggi lagi Mahabesar. (QS Al-Baqarah/2:255).

Untuk meneguhkan hati, orang-orang beriman niscaya selalu mengingat firman Allah swt, Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman), dan orang-orang yang kafir pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah/2:257).

Secara spiritual manusia niscaya menggapai cahaya Allah yang terpancar ke seluruh mayapada. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nur/24:35).

Agar hidup ini mudah dijalani manusia niscaya memohon kemudahan kepada Allah swt.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyi` lana min amrina rasyada – Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (QS Al-Kahfi/18:10).

Dambaan setiap manusia adalah kehidupan yang baik di dunia maupun di akhirat dan selamat dari api neraka. Itulah yang harus dimohonkan manusia kepada Tuhan dengan sepenuh hati, Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirat hasanah wa qina ‘adzabannar – Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS Al-Baqarah/2:201).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *