foto: suara.com

Hidup Cuma Sekali: Mati Tanpa Arti atau Memberi Nyala Api?

Posted by

Oleh: Safiratul Khodijah

masa-kini.id-“Hidup cuma sekali.” Kalimat tersebut tidak asing lagi di telinga kita bukan? Seringkali kita mendengar kalimat tersebut di kehidupan kita. Diucapkan oleh teman, kerabat, dan siapa pun orang yang dekat dengan kita. Tanpa kita sadari, kalimat tersebut memiliki berbagai makna tergantung perspektif orang yang memaknainya. Ada yang memaknai sebagai pedoman hidup positif sampai negatif.

Terkadang “hidup cuma sekali” menjadi dalih bagi seseorang untuk sekedar menikmati hal-hal keduniawian. Karena “hidup cuma sekali” itu lah, wajib hukumnya untuk menikmati dunia sepuas-puasnya. Mirisnya lagi, kalimat itu pula lah yang terkadang menjadi dalil melegalkan maksiat di kalangan anak muda. Misalnya, mereka minum minuman keras, seks bebas, narkoba dengan dalih “Hidup cuma sekali, bro! Rugilah kalau tidak dinimati.” Filosofi itu seakan menjadi golden ticket supaya dosa seakan tak terhitung. Dengan meyakini filosofi itu, mereka merasa apapun hal yang dilakukan sah-sah saja sekalipun itu melanggar perintah agama.

Bagi para pengikut perspektif itu, “hidup” dimaknai hanya sebatas duniawi saja. Mereka lupa bahwa hidup yang sebenarnya adalah di akhirat kelak. Seperti salah satu kata dalam teori komunikasi, “hidup hanyalah panggung sandiwara”. Artinya adalah kita sebenarnya hidup di dunia yang semuanya palsu dan fana. Kenikmatan yang selama ini kita alami hanya gemerlap hidup yang sangat mudah redup. Kekekalan tak bisa kita temui ketika hidup di dunia. Hidup ini sudah cukup fana untuk dinikmati, akankah masih tetap berpegang teguh hanya untuk menikmati duniawi?

Sepantasnya bagaimanakah kita memakna kalimat “hidup cuma sekali” ? Saya sangat setuju dengan salah satu kutipan seorang walikota populer asal Bandung yaitu Bapak Ridwan Kamil. Beliau mengatakan seperti ini “hidup cuma sekali, jangan menua tanpa arti”. Hidup dalam kutipan tersebut dimaknai secara positif. Hidup dipandang sebagai perjalanan yang singkat, maka harus memberikan manfaat ketika menjalaninya.

Sebagai seorang makhluk sosial, sudah sepatutnya kita hidup untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Apa lah artinya hidup apabila tidak bermanfaat? Bermanfaat bagi orang lain bisa dimulai dari hal-hal kecil. Terkadang hal kecil inilah yang tanpa kita sadari dapat memiliki pengaruh besar pada diri orang lain.

Kutipan tersebut ternyata linier dengan salah satu filosofi jawa yaitu “urip iku urup”. Kalimat tersebut memiliki arti “hidup itu menyala” maknanya adalah hidup hendaknya memberi manfaat bagi orang di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang kita berikan tentu akan semakin baik bagi kita maupun orang lain. Namun, sekecil apapun manfaat yang kita berikan kepada orang lain, jangan sampai kita  menjadi orang yang meresahkan masyarakat.

Kedua kutipan tersebut memberikan kita inspirasi tentang cara memaknai hidup yang sebenarnya. Kita bukanlah apa-apa tanpa manusia yang lain. Kita dilahirkan di dunia ini bukan untuk berdiri sendiri, berkuasa dan semua hanya untuk diri sendiri, melainkan kita lahir untuk saling memberi, menolong, dan membantu sesama tanpa rasa pamrih.

Manfaat yang  kita berikan ibarat api yang menyala. Api bukan berarti bara yang membakar dan memusnahkan apa saja, tetapi api berarti cahaya yang selalu menyala dan menyinari setiap langkah manusia ke jalan yang benar. Oleh karena itu, dalam hidup kita harus punya nilai manfaat yang selalu memberi cahaya terang agar tiap langkah kita dan saudara-saudara kita dapat berjalan ke arah kebenaran.

Safiratul Khodijah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Yogyakarta.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *