Hujan

Posted by

Hujan merupakan fenomena alam sehari-hari. Zaman masih kecil dulu, hati saya girang kala melihat hujan. Sambil berlari keluar rumah, mata saya berusaha memandang ke langit. Dalam pikiran awam waktu itu, langit akan terbuka ketika hujan turun dan segera tertutup kembali manakala hujan reda.

Saintis dan ilmuwan juga mengkaji hujan. Setelah radar cuaca atau weather surveillance radar (WSR) ditemukan, manusia jadi tahu bahwa proses terjadinya hujan dimulai dari awan. Awan cumulonimbus terbentuk ketika angin mendorong sejumlah awan kecil menjadi gumpalan awan dan terjadilah hujan.

Namun, jauh sebelum itu, Al-Quran telah menjelaskan proses hujan turun. Dalam surah Ar-Rum ayat 48, Allah berfirman, ”Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.”

Subhanallah. Penjelasan Al-Quran tersebut persis sesuai dengan pemantauan radar cuaca. Jadi, hujan terjadi melalui tiga tahap. Pertama, pembentukan hujan dijelaskan lewat ”Allah, Dialah yang mengimkan angin…” Tahap kedua dijelaskan dalam ”…lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal…” Tahap ketiga, ”… lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya.”

Sungguh Allah SWT Mahakuasa atas segala sesuatu.

Dalam bahasa Arab, kata hujan mempunyai dua redaksi utama, yaitu al-mathar dan al-ghaits. Dua istilah itu berbeda namun bermakna sama, yaitu hujan atau air hujan. Perbedaan di antara keduanya ialah bahwa al-mathar itu bentuk tunggal, namun berkonotasi pada hal-hal yang negatif, yakni hujan yang berdampak mendatangkan kerusakan seperti banjir, longsor dan sejenisnya.

Bahkan, pada beberapa ayat dalam Al-Quran, al-mathar dimaknai sebagai azab yakni berupa hujan batu yang ditimpakan kepada umat yang berbuat zalim (dosa).

“Wa amtharna ‘alaihim matharan (dan Kami hujani mereka dengan hujan batu). Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu.” (QS Al-A’raf [7]: 84).

Simak pula terjemahan ayat senada berikut:

“Maka, ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata: Inilah awan mumthiruna (yang akan menurunkan hujan kepada kita). (Bukan) Tetapi itulah azab yang kamu minta disegerakan datangnya.” (QS Al-Ahqaf [46]: 24).

Berbeda dengan itu, al-ghaits dimaknai sebagai bentuk jamak dari al-mathar, namun al-ghaits dikategorikan sebagai hujan yang membawa berkah, misalnya kesuburan tanaman atau disebut pula dengan hujan rahmat.

Perhatikan terjemahan firman Allah di bawah ini:

“Dan Dia-lah yang menurunkan ghaits (hujan) setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Pelindung, Maha Terpuji.” (QS Asy-Syura [42]: 28).

Firman Allah yang lain:

“Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi ghaits (hujan) (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” (QS Yusuf [12]: 49).

Demikian pemaparan singkat tentang hujan. Semoga bermanfaat. Mudah-mudahan pula setiap hujan yang turun kepada kita adalah hujan yang senantiasa membawa berkah dan rahmat. Amin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *