Idulfitri Saat Pandemi

Posted by

Oleh: Tris Retno Kumolo

masa-kini.id – Idulfitri tinggal menghitung hari. Namun, perayaan hari raya umat muslim ini akan sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Adanya pandemi Covid-19 mengharuskan banyak aturan dan protokol kesehatan dikeluarkan guna memutus penyebaran rantai virus Korona. Hal itu tentu mengakibatkan perayaan idulfitri dirayakan dengan cara yang berbeda.

Protokol kesehatan terus digalakkan bagi masyarakat. Meski tidak melarang untuk beribadah, namun pemerintah mengimbau agar warga beribadah dengan kewaspadaan untuk mencegah penularan virus Korona.

Selain kewaspadaan dalam beribadah, banyak masyarakat yang melewatkan momen mudik lebaran serta berkumpul bersama kerabat di kampung halaman. Hal itu berkaitan dengan adanya larangan mudik lebaran bagi masyarakat.

Baca juga : Ramadan dan Idulfitri Yang Unik

Larangan Mudik

Larangan mudik lebaran telah dikeluarkan pemerintah. Tak ada tujuan lain, hal itu semata-mata bertujuan untuk menekan angka penambahan kasus Covid-19 di masyarakat. Seperti yang kita ketahui, angka kasus Covid-19 terus meningkat tiap harinya. Mirisnya, walau aturan larangan mudik sudah diperketat, masih banyak masyarakat yang mencari cara agar lolos dari pemeriksaan petugas dan dapat pulang ke kampung halaman.

Dengan alasan tak ada pendapatan di perantauan, banyak masyarakat yang mengusahakan segala cara agar dapat pulang. Seakan tidak menggubris larangan yang dikeluarkan pemerintah, mereka tetap bersikeras pulang ke kampung halamannya. Menanggapi hal itu, polisi semakin memperketat penjagaan.

Sanksi tegas pun dikeluarkan agar mereka jera dan mengikuti aturan yang sejatinya dilakukan demi kebaikan bersama. Jika mereka pulang, dikhawatirkan para pemudik justru membawa virus bagi keluarga dan masyarakat lain di daerahnya.

Baca juga : Syawalan, Normal Baru Keagamaan

Baju Lebaran Jadi Kebutuhan

Lebaran sebentar lagi. Bila biasanya Ramadan menjadi momentum bagi masyarakat untuk membeli produk fashion untuk dikenakan saat lebaran, saat pandemi ini prioritas masyarakat seakan berubah. Saat ini, memenuhi stok makanan di rumah dirasa lebih penting dibandingkan membeli baju lebaran. Di masa pandemi ini, ekonomi masyarakat menurun karena banyak yang dipekerjakan dari rumah bahkan menganggur.

Mengingat ekonomi yang kian menurun, banyak masyarakat yang tak ingin lagi berfoya-foya atau menghabiskan uang mereka secara cuma-cuma. Namun siapa sangka, masa pandemi tidak membuat masyarakat lebih bijak dalam mengambil keputusan. Pasalnya, ketika masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sosial distancing, hingga physical distancing digalakkan, banyak dari masyarakat yang tetap keluar untuk membeli baju lebaran. Seperti yang heboh di media sosial beberapa waktu lalu, ketika mall kembali dibuka banyak masyarakat yang berbelanja tanpa memerhatikan aturan dari pemerintah.

Akibatnya, banyak masyarakat yang kecewa lantaran usahanya dalam memutus penyebaran virus dirasa sia-sia karena masyarakat lain justru keluar rumah tanpa memerhatikan protokol kesehatan yang dianjurkan.

Memang, itu adalah ekspresi lumrah yang muncul ketika kita melihat kenyataan seperti itu. Wajar jika ada yang mempertanyakan mengapa tampaknya sejumlah pihak seperti tidak peduli pada kepentingan bersama. Padahal apa yang kita lakukan bukan hanya demi diri sendiri saja, namun juga demi orang lain.

Shalat Ied di Rumah

Situasi pandemi virus Korona memang membuat aktivitas serta tradisi umat Islam selama bulan Ramadan dijalani tak seperti biasa. Jika biasanya menjelang berakhirnya puasa Ramadan umat Islam bersiap merayakan Idulfitri dengan shalat Ied serta dilanjutkan silaturahim dengan sesamanya, tahun ini tampak berbeda. Kesimpangsiuran informasi mengenai pelaksanaan shalat Ied membuat umat Islam gundah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan, shalat Idulfitri dapat dilakukan di masjid atau di rumah namun dengan syarat-syarat tertentu.

Namun jika tidak memungkinkan, dalam arti terjadi lonjakan kasus di wilayahnya, pemerintah juga belum melakukan pelonggaran aktivitas masyarakat, dan belum adanya pendapat yang dapat meyakinkan kita secara kredibel, shalat Ied dianjurkan di rumah saja.

Hal ini tentu bertujuan untuk mencegah penularan virus yang semakin merebak. Tradisi shalat Ied tahun ini memang berbeda dibandingkan biasanya. Namun, jika situasi belum memungkinkan dan kita memaksakan keadaan tentu virus ini semakin menyebar dan tidak hilang dari Indonesia.

Tutup Pintu Saat Lebaran

Adanya pandemi virus Korona mengakibatkan pergerakan masyarakat dibatasi. Tradisi silaturahim lebaran dianjurkan dilakukan secara virtual tanpa tatap muka. Selain itu, saling berkunjung dan berkumpul keluarga besar pun dikhawatirkan tidak ada karena berpotensi dalam penyebaran virus Korona. Dengan kondisi seperti ini, ada baiknya tradisi ini tidak dilakukan terlebih dahulu. Hal ini untuk meminimalisir penyebaran virus.

Dalam situasi lebaran di tengah pandemi saat ini, peran pemerintah sangat dibutuhkan. Hal itu dikarenakan menolak kunjungan tamu ke rumah akan sulit dilakukan. Pemerintah dapat menggandeng ulama, tokoh masyarakat, serta aparatur RT dan RW untuk mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga protokol kesehatan. Pemerintah hanya dapat mengimbau untuk tetap melakukan langkah demi mencegah penularan virus pada masyarakat. Selama bisa menjaga jarak, tidak bersentuhan, serta tetap menjaga kesehatan tradisi dapat tetap berjalan dengan kewaspadaan tinggi tentunya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *