Ikhtilaf sebagai Rahmat

Kata ‘rahmat’, secara konotasi, berada diantara kata ‘hikmat’ dan ‘manfaat’

“Ikhtilaf di kalangan umatku adalah rahmat.” Ungkapan ini adalah sebuah hadis yang sangat terkenal, meskipun statusnya banyak diperdebatkan.  Sebagian ulama menganggap hadis tersebut mursal, atau terputus sanadnya di tengah jalan, dari tabi’in langsung kepada nabi–tidak melewati sahabat. Sebagian ulama lagi bahkan menganggap hadis tersebut dhaif atau lemah karena didalam riwayatnya terdapat nama atau nama-nama perawi yang dianggap cacat. Namun demikian ini adalah hadis masyhur yang memiliki banyak jalur periwayatan dan karenanya banyak ulama yang tetap menggunakannya.

Yang menarik untuk dicermati adalah diksi yang digunakan yaitu rohmah (rahmat), yang berarti kasih sayang. Secara komparatif, kata ‘rohmah’ memiliki konotasi yang berada di antara ‘hikmah’ dan ‘manfaah’. Kata hikmah merujuk kepada nilai positif yang bersifat implisit dari sesuatu yang secara eksplisit terlihat negatif. Nasihat untuk mengambil hikmah biasanya diberikan kepada orang yang baru saja mengalami kerugian, kecelakaan, atau masalah pelik lainnya yang tidak terlihat ada yang banyak bisa dilakukan. Sedangkan manfaat adalah nilai positif yang eksplisit dari sesuatu, meskipun secara implisit biasanya akan memiliki harga yang harus dibayar atau risiko yang harus ditanggung (misal, ayat khamr dan judi QS. 2:129). Sedangkan rahmat adalah sesuatu yang secara substansi positif namun secara empiris netral, bisa positif atau negatif: seperti kisah Nasruddin Hoja lari dari ‘rahmat’ Allah (hujan).

Dengan demikian kata ‘rahmat’ merujuk kepada sesuatu yang secara umum atau substantif positif, meskipun secara empiris tidak selalu terlihat menyenangkan. Jika kita mengambil modeling dari kegiatan kolektif, atau proses produksi yang bersifat kolektif, kata ikhtilaf memiliki setidaknya tiga terjemahan.

Pertama, kata ikhtilaf bisa diartikan sebagai ‘variasi’ yaitu perbedaan yang merujuk kepada keragaman usaha, proses, metodologi atau strategi, untuk mencapai tujuan yang sama atau mendapatkan hasil yang sama. Contoh sederhana adalah upaya untuk menggalang dana: bisa melalui iuran, bisa dengan berjualan, dan bisa juga dengan mencari sumbangan. Meskipun berbeda cara semuanya sama-sama bertujuan untuk mendapatkan dana.  Contoh yang lebih subtil, adalah lembaga pendidikan agama: Ada pesantren tradisional yang hanya mengajarkan agama, ada madrasah yang memadukan pelajaran agama dan ilmu pengetahuan, ada juga sekolah yang tidak meletakkan agama pada mata pelajaran melainkan pada lingkungan dan sistem pergaulan. Dilihat dari bentuk dan prosesnya mereka berbeda-beda. Demikian pula dengan budaya-kelembagaan (corporate culture) yang sering dijadikan sebagai identitas juga beragam–yang seringkali saling dibenturkan. Namun jika dilihat dari tujuan, maka mereka akan menjadi sama.

Kedua, kata ikhtilaf bisa diartikan sebagai ‘diversifikasi’, yaitu upaya atau cara yang berbeda, untuk menghasilkan sesuatu yang juga berbeda, namun masih dalam satu rumpun identitas yang sama. Contohnya adalah keragaman dalam gerakan dakwah yang memiliki berbagai madzhab dan manhaj yang tidak hanya beragam, namun juga sering tampak saling bertentangan. Situasi ini masih sering membingungkan banyak orang baik di kalangan awam maupun alim (mubaligh, ustadz dan kiai) sehingga tidak jarang di antara mereka saling mencela dan saling mencaci maki. Belum sampai kesadaran bahwa mereka berada dalam rahmat diversifikasi: yaitu menyeru kepada kelompok yang berbeda-beda untuk menghasilkan dampak yang berbeda-beda sesuai dengan kompleksitas umat.

Umat Islam, sebagaimana kelompok masyarakat pada umumnya, memiliki keragaman internal, baik yang bersifat vertikal: miskin-kaya, awam-alim, rakyat-pejabat, dll.; maupun yang sifatnya horizontal berdasarkan etnis, budaya, profesi, atau vokasi. Secara umum dalam jangka panjang semuanya memiliki tujuan hidup yang sama, yaitu secara agama untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, dan secara politik untuk mendapatkan jaminan keamanan, kesejahteraan, serta hak untuk mengekspresikan aspirasi. Namun untuk mencapai tujuan jangka panjang yang sama tersebut masing-masing segmen atau kelompok membutuhkan mobilisasi ke arah yang beragam dalam jangka pendek.

Misalnya, untuk mendapatkan kesejahteraan ekonomi, kelompok yang paling lemah membutuhkan nasihat untuk bersabar dan tenang-hati, melakukan hal-hal baik yang bisa dilakukan, tetap meyakini Tuhan maha penyayang kepada semua makhluknya, dan tidak tergoda melakukan jalan pintas yang melanggar moral maupun hukum. Sementara kelompok yang sudah agak mampu, memiliki modal ekonomi atau modal sosial, perlu dorongan untuk lebih ngotot berusaha dan lebih berani mengambil risiko, sambil berjuang memperbaiki aturan main supaya lebih berpihak kepada mereka. Selanjutnya untuk kelompok yang mulai mapan perlu dorongan untuk tetap mempertahankan kinerja dan produktivitas, sembari menjaga dan merawat aturan main yang sudah terbukti menguntungkan. Sedangkan untuk kelompok mapan perlu dorongan agar lebih sensitif kepada kelompok-kelompok yang membutuhkan, baik dalam bentuk pemberian materi maupun kemudahan fasilitas dan aturan main.

Dalam konteks gerakan dakwah, beragam jenis nasihat yang dibutuhkan oleh kelompok yang berbeda-beda di atas akan membawa kepada dalil yang berbeda-beda, tafsir yang berbeda-beda, mungkin juga manhaj yang berbeda-beda, bahkan madzhab yang berbeda-beda. Ketika perbedaan itu dilihat dari persimpangan ini maka situasinya akan terlihat seperti pertentangan dan permusuhan: satu kelompok menyerukan untuk bersabar tenang menerima kondisi yang ada; sementara kelompok lain membakar semangat menyerukan perubahan dan meneriakkan bahwa kondisi yang ada sudah tidak layak lagi. Kedua kelompok membangun argumen masing-masing dengan dalil, metode dan bukti yang seolah saling menimpali.

Dalam konteks kehidupan agama, yang sering diwarnai emosi kolektif dan logika hitam/putih, ketegangan antar-kelompok banyak memicu publik untuk terlibat dan memihak, dan belum pada upaya memahami apalagi menengahi. Padahal kalau dikembalikan kepada konteks keragaman segmentasi umat, yaitu adanya kelompok-kelompok yang beragam dengan kebutuhan akan nasihat yang berbeda-beda, maka keragaman manhaj dan madzhab dakwah justru merupakan rahmat yang akan memungkinkan dakwah menyentuh semua sisi dan lapisan umat. Untuk aspek ini sepertinya bukan hanya di kalangan awam, di kalangan alim juga masih perlu banyak pendewasaan.

Ketiga, kata ikhtilaf juga bisa diartikan sebagai ‘fragmentasi’, atau meregangnya suatu satuan (unit) besar menjadi satuan-satuan yang lebih kecil. Berbeda dengan kata ‘variasi’ yang berkonotasi netral atau ‘diversifikasi’ yang bahkan berkonotasi positif, ‘fragmentasi’ memiliki konotasi bawaan yang negatif, yaitu keruntuhan, atau hilangnya kesatuan/kekuatan. Dalam realitas kehidupan umat situasinya memang cenderung lebih mudah dipahami demikian. Misalnya dalam konteks global, perubahan sistem politik yang terjadi di dunia islam pasca Perang Dunia Pertama, dari sistem Khilafah sentralistik menjadi beragam negara bangsa yang lebih kecil.

Banyak yang masih meyakini hal tersebut sebagai kemunduran bagi umat Islam, yang terpecah-pecah dan menjadi lemah. Menurut logika ini, jika umat Islam masih bersatu dalam sistem kekhilafahan tunggal tentu akan lebih kuat, lebih berpengaruh, dan bukan tidak mungkin ikut menjadi kekuatan dominan percaturan politik dunia. Namun dalam telaah yang lebih sistematis dan mendalam untuk konteks konstelasi dunia  zaman itu yang sudah mulai memasuki era teknologi, kekuatan aktual unit politik tidak lagi ditentukan oleh jumlah anggota atau besaran strukturnya, melainkan oleh fondasi ekonomi dan kemampuan pembiayaan membangun jaringan, riset dan teknologi.

Setelah dua hingga tiga abad berada dibawah kolonialisme, dunia Islam berada pada situasi ekonomi yang lemah, bahkan defisit, yang jika harus melewati krisis besar seperti Perang Dunia I sebagai satu kesatuan maka besar kemungkinan yang terjadi adalah ekstraksi yang penuh paksaan oleh pusat terhadap wilayah guna mobilisasi sumberdaya, serta intrik dan pembunuhan silih-berganti memperebutkan kekuasaan tertinggi–sebagaimana yang pernah terjadi di masa awal-awal sejarah politik Islam. Toh imperium sentralistik besar lain seperti Kekaisaran Romawi Suci atau Habsburg juga runtuh menjadi negara bangsa yang lebih kecil, tapi lebih makmur. Jika dipahami sebagai ikhtilaf, fragmentasi negara Islam dari khilafah menjadi wathaniyah adalah rahmat sejarah.

Logika yang sama juga bisa digunakan untuk memahami fragmentasi politik umat Islam di Indonesia: dari Sarekat Islam masa kolonial, Masyumi di awal era kemerdekaan, dan PPP di era Reformasi yang meregang dan rontok menjadi partai dan gerakan politik yang lebih kecil-kecil, yang banyak diantaranya kemudian semakin mengecil dan hilang dari peredaran. Semua itu bukan petaka yang perlu dibolak-balik untuk menemukan ‘hikmah’-nya. Dengan melihatnya sebagai ikhtilaf, fragmentasi politik Islam di Indonesia adalah rahmat. Karena, inti politik adalah soal kepentingan. Ketika kepentingan umat semakin beragam, karena tumbuhnya diferensiasi sosial sebagai indikasi kemajuan sosial/ekonomi, maka fragmentasi adalah rahmat yang menandakan umat Islam juga mengalami kemajuan, sehingga memerlukan struktur politik yang lebih mampu mewadahi kompleksitas yang ada.

Yang perlu dicatat, memahami fragmentasi sebagai rahmat dari ikhtilaf bukan berarti tidak boleh mengupayakan kesatuan politik umat. Karena dari dalilnya kesatuan adalah ‘hakikat’ Umat (QS. 21:92). (bersambung)

Jeruk Legi-Yogyakarta, 17 Ramadhan 2020

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *