Integrasi Nasionalisme dan Agama untuk Kerukunan Umat

Posted by

Integrasi ialah pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat; penggabungan aktivitas, program, atau komponen perangkat keras yang berbeda ke dalam satu unit fungsional.

Integrasi bangsa ialah penyatuan berbagai kelompok budaya dan sosial ke dalam kesatuan wilayah dan pembentukan suatu identitas nasional.

Nasionalisme ialah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemamuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.

Bangsa Indonesia terdiri atas beberapa suku, agama, dan golongan. Sungguhpun berbeda-beda, tetapi satu tujuan, yaitu meraih kebahagiaan hidup di dalam bingkai persaudaraan sesama manusia, sebangsa dan setanah air, dan sesama pemeluk agama.

Tiap-tiap bangsa mempunyai cara berjuang dan kepribadian sendiri yang terwujud dalam kebudayaannya, perekonomiannya, wataknya, dan lain-lain.

Tidak ada bangsa yang mencapai kebesaran jika tidak percaya kepada suatu pandangan hidup yang memiliki dimensi moral guna menopang peradaban besar.

Pluralitas suku bangsa, bangsa, agama, dan golongan merupakan pendorong untuk berkompetisi dalam kebaikan dan penuntun perjalanan menggapai kemajuan.

Interaksi manusia dengan sesamanya didasari keyakinan bahwa semua manusia adalah saudara. Semakin banyak persamaan, semakin kokoh pula persaudaraan.

Sebagai makhluk sosial, manusia tenang dan nyaman bersama jenisnya. Dorongan kebutuhan ekonomi, budaya, politik, dan agama menunjang persaudaraan dan titik temu.

Manusia beriman mempunyai dua dimensi hubungan yang harus seimbang dan harmonis, yakni hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama.

Dimensi persaudaraan: (1) persaudaraan sesama; (2) persaudaraan nasab/ perkawinan; (3) persaudaraan sebangsa; (4) persaudaraan pemeluk agama; (5) persaudaraan seiman.

Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat beragama dilandasi toleransi, pengertian, menghormati, dan menghargai kesetaraan dalam kehidupan.

Agama tidak mengenal pemisahan antara soal yang sakral dengan yang sekular. Siapa yang memisahkan antara ekonomi, politik, dan agama berarti tidak mengerti agama.

Antara persaudaraan iman dan persaudaraan nasional bukan persoalan alternatif, ini atau itu, tetapi sekaligus. Orang beriman adalah nasionalis dengan kemanusiaan universal.

Pengakuan keberadaan agama-agama lain merupakan pengakuan hak hidup di dalam hubungan sosial yang saling menghargai, menghormati, dan setuju dalam perbedaan.

Persaudaraan sesama pemeluk agama mendorong untuk ko-eksistensi dan kooperasi: bekerja sama dalam program sosial dan budaya.

Iman niscaya mengejawantah dalam perbuatan, baik dalam dataran kehidupan individual maupun sosial dengan keluarga dan Rukun Tetangga sebagai basis kebajikan.

Kita harus menjadi warga Negara yang baik dan berkepribadian teguh tak tergoyahkan dalam menghadapi segala keadaan.

Iman bukan sekadar kata-kata. Kita harus menghayati kehadiran Tuhan sepanjang hayat dalam segala kebaikan yang datang dari hadirat-Nya.

Menjalin persaudaraan dan memelihara kerukunan hidup bersama dalam sebuah Negara merupakan tuntunan moral yang terpuji.

Setiap agama memiliki nilai kasih sayang, persaudaraan, perdamaian, toleransi, dan non-kekerasan yang harus dipelihara.

Prinsip belas kasih di jantung seluruh agama mengimbau kita untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Keyakinan setiap agama tidak membenarkan tindak kekerasan apa pun terhadap pemeluk agama yang sama atau yang berbeda.

Iman mendorong kita untuk menghapus penderitaan sesama warga Negara dan memperlakukan setiap orang dengan keadilan dan kehormatan.

Pemimpin agama hendaknya menyumbangkan pemikiran untuk mewujudkan perdamaian dan mengembangkan peran pemeluknya di masyarakat.

Pemuka agama adalah penjaga gawang moralitas dalam segala aspek kehidupan umat dan tidak boleh mendiamkan kebijakan yang menyimpang dari dasar negara

Peran tokoh agama: (1) memberi perspektif baru pembangunan; (2) memberikan kesadaran kritis untuk mengubah nasib; (3) memanggil kepada kebenaran; (4) memberikan pencerahan akal budi.

Pemuka agama niscaya menampilkan agama yang hakiki sebagai anugerah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kunci persaudaraan dan kebahagiaan hidup adalah kerukunan sesama warga tanpa memandang perbedaan latar belakang suku, agama dan golongan sebagai kehendak Ilahi.

Kerukunan adalah kesepakatan yang didasarkan pada kasih sayang yang mencerminkan persatuan dan persaudaraan.

Manusia diturunkan dari sepasang suami-istri. Suku, ras, dan bangsa mereka merupakan nama-nama saja untuk memudahkan, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Di hadapan Allah swt mereka semua satu. (QS 49:13).

Persaudaraan sesama manusia ditunjukkan oleh sebutan Bani Adam (QS 7:26).

Allah swt menciptakan manusia “telanjang dan seorang diri;” tidak mengenal arti malu. Baik atau buruk, jujur atau bohong, tergantung pada niat hatinya.

Tubuh manusia itu bersih dan indah, selama tidak dinodai penyalahgunaan. Pakaian dan perhiasan yang terbaik diperoleh dari ketakwaan, yang menutupi ketelanjangan dosa.

Persaudaraan seiman: Orang-orang mukmin itu bersaudara; maka rukunkan saudaramu yang berselisih; bertakwalah kepada Allah supaya mendapat rahmat. (QS 49: 10).

Menjaga persaudaraan dan kerukunan adalah sebentuk ketakwaan kepada Allah swt. Mukmin hendaknya menahan diri dari memperolok satu sama lain. (QS 49:11).

Mukmin niscaya menghindari prasangka dan menggunjing. (QS 49:12).

Orang-orang beriman niscaya bersatu-padu, berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah. (QS 3:103).

“Wahai manusia, darah dan hartamu adalah haram bagimu. Kamu akan menemui Tuhanmu dan ditanya tentang amalmu. Siapa yang masih mempunyai amanat, sampaikan kepada yang berhak menerimanya. Kaum Muslimin itu bersaudara. Tidak dihalalkan bagi seorang Muslim merampas hak saudaranya sesama Muslim. Karena itu, janganlah menganiaya dirimu sendiri.” (Rasulullah saw).

Kebinekaan agama meniscayakan sikap menghormati agama-agama dan pemeluk agama-agama selain agamanya tanpa menyamakan dan membenarkan semua agama.

Landasan kerukunan dan persaudaraan antarumat beragama: Allah tidak melarang kamu bersikap baik dan adil terhadap mereka yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. (QS 60:8).

Tips menjaga kerukunan: (1) membangun persahabatan; (2) bekerja sama dalam kebaikan; (3) menjaga kehormatan; (4) saling memaafkan; (5) saling mendoakan.

Karakter tokoh masyarakat: ing ngarsa asung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Crah agawe bubrah, rukun agawe santosa.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

One comment

  1. MasyaAllah…

    Jadi ingat ketika penataran P4, dan yg menyampaikan seorang ulama..jadi asyik dan ingin dukung program P4.
    Jauh berbeda dengan P4 yg menyampaikan orang kafir.
    Ilmu dan pengetahuan yg sama …bisa *dibaca* dgn cara yg berbeda….
    Ilmu dan pengetahuan yg sama …bisa *terdengar* berbeda ketika gunakan bahasa yg berbeda
    Apa yg membuat jadi beda ?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *