Jahiliah Dakwah: Maisyah Memecah Ummah

Ketika seorang dai memaki kelompok lain, bisa dipastikan ujung soalnya adalah maisyah, bukan dakwah.

masa-kini.id – Setiap gerakan dakwah lahir dari upaya memberikan solusi kepada kebutuhan kontekstual umat yang terhimpit oleh realitas negara dan perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Dakwah adalah upaya untuk menyeru umat kepada Islam, untuk memperkenalkan Islam kepada sekelompok umat tertentu, yang memiliki karakteristik sosial tertentu, dan sedang menghadapi persoalan komunal tertentu.

Oleh karena itu setiap gerakan dakwah pasti memiliki profil tertentu yang spesifik: konten keislaman dengan karakteristik tertentu, tafsir Islam dari pendekatan tertentu, membekali para dai dan aktivitasnya dengan skill dakwah tertentu, serta mengembangkan pola relasi dan pelembagaan komunitas dengan karakteristik tertentu–sesuai dengan kebutuhan umat yang menjadi sasaran dakwahnya. Dalam konteks sejarah bangsa Indonesia, karakteristik gerakan dakwah lahir dari upaya untuk memenuhi kebutuhan umat dalam mengatasi penderitaan eksistensial akibat kehadiran negara modern.

Baca juga : Kabar Ukhuwah di Tengah Wabah

Misalnya, gerakan dakwah tradisionalis lahir dari upaya mengatasi penderitaan sebagian umat yang teralienasi dari mekanisme birokrasi dan ekonomi pasar yang dibawa oleh negara modern, sehingga kehidupannya terjebak dalam labirin ketidakberdayaan, kebodohan dan kemiskinan. Dakwah Islam tradisionalis memberikan solusi dengan tafsir keislaman berorientasi spiritual dan ukhrawi, dengan profil dai berciri sosiologis kharismatik yang memiliki keunggulan karomah yang mampu melampaui dan mengintervensi kerangka-kerangka rasional seperti birokrasi dan mekanisme pasar, serta relasi klientalis dimana jamaah dapat menyerahkan kebaikan diri dan nasibnya dengan taat kepada para pemimpin tanpa perlu banyak bertanya. Dengan cara ini dakwah tradisionalis memberikan solusi menghadirkan saadah kepada umat yang terhimpit nestapa sosial-ekonomi: yang memang tidak memiliki solusi instan.

Sementara gerakan dakwah modernis lahir dari upaya merespons nestapa kehidupan yang dihadapi oleh sekelompok umat yang mengalami disorientasi karena tercerabut dari akar sosial budaya dan tradisi setelah memasuki pintu gerbang negara modern, melalui sekolah dan kehidupan profesional. Dakwah modernis mengembangkan pemahaman Islam yang sinkron dengan logika sains modern tentang kausalitas hukum alam, dengan menekankan dengan sangat aspek tauhid, yaitu kemutlakan sekaligus keunikan hakikat ketuhanan.

Baca juga : Ukhuwah, Bukan Persatuan

Dengan cara ini maka persoalan spiritual tidak ndlewer kemana-mana, dan persoalan kehidupan dunia–serumit dan sepelik apapun–harus diselesaikan dengan cara duniawi yang rasional dan sistematis dengan mengikuti ilmu pengetahuan modern. Dengan ini dakwah Islam modernis memberikan identitas keislaman yang utuh kepada sekelompok umat yang kehilangan kiblat batin ketika memasuki belantara birokrasi dan hukum pasar yang netral dan bebas nilai (tanpa cinta, tanpa kesetiaan) yang dibawa negara modern.

Selanjutnya dakwah Islam revivalis lahir dari realitas keberadaan umat yang tumbuh dan besar dalam kerangka negara modern, yaitu logika prosedur birokrasi yang impersonal dan formalistik (tanpa cinta, tanpa kesetiaan) dan logika mekanisme pasar yang tidak hanya kompetitif melainkan juga ekstraktif dan eksploitatif. Akibatnya mereka hidup dalam dunia simulacra yang hampa tanpa makna meskipun tampak gemerlap dan mempesona: gembira tapi tidak bahagia, punya kekayaan tetapi selalu kekurangan, sekolah dan berkarier dengan sungguh-sungguh tanpa paham sebenarnya hidup untuk apa. Dakwah Islam revivalis memberikan solusi dengan memberikan sentuhan dan ornamentasi spiritual batiniah kepada struktur-struktur formal yang hampa makna tersebut, tanpa menghilangkan manfaah dan hasanah nya: islamisasi formalitas, bukan formalisasi Islam.

Baca juga : Ikhtilaf sebagai Rahmat

Ada juga dakwah Islam vigilantis, yang memberikan alternatif jawaban kepada nestapa umat yang hidupnya terbengkalai karena tidak diurus oleh negara yang lalai. Indonesia sebagai sebuah negara tercatat menjadi salah satu yang paling korup di dunia. Negara semacam ini secara teknis juga dikenal sebagai negara dengan masyarakat yang memiliki akses terbatas (limited access society).

Artinya kekayaan dan kemakmuran negara hanya bisa diakses oleh kelompok-kelompok tertentu saja. Akibatnya kemajuan dan pembangunan hanya bisa dinikmati oleh sekelompok masyarakat dan melalaikan sekelompok yang lain: orang menjadi miskin bukan karena negara berkekurangan, tapi karena tidak memedulikan.

Jika umat dakwah tradisionalis mengalami nestapa teralienasi dari manfaat negara karena berada di luar negara, maka penderitaan umat dakwah vigilantes adalah nestapa karena terlanjur terjebak di dalam namun tidak terurus oleh negara. Tentu saja yang dimaksud disini adalah pejabat dan aparat negara yang sudah mendapatkan mandat eksklusif untuk mengelola kesejahteraan publik, namun culas dan hanya memperhatikan sejawat dan kerabat. Serupa tapi tidak sama dengan modus operandi gerakan dakwah tradisionalis–yang satu berorientasi spiritual, yang lain berorientasi institusional–dakwah vigilantism mengembalikan marwah umat yang terabaikan oleh negara dengan secara sepihak merebut otoritas hukum dari para aparat yang korup dan mementingkan diri. Secara hukum salah, tapi secara sosiologis bisa dipahami.

Baca juga : Tradisionalisme: Islam Persneling Satu, Modernisme: Islam Persneling Dua

Terakhir ada dakwah liberalis yang menyediakan ruang kosmopolit kepada segmen umat yang telah mampu mendapatkan manfaat dari konstelasi politik yang ada, sekaligus menjadi tiang pancang berkibarnya panji Islam sebagai tempat bernaung bukan hanya umat melainkan juga seluruh lapisan masyarakat. Sepanjang sejarah kehidupan bernegara, kelompok elit selalu bersifat plural secara identitas maupun  orientasi. Berbeda dengan kehidupan bermasyarakat di mana persatuan dibangun berdasarkan persamaan persamaan yang saling menopang, kehidupan bernegara justru dibangun berdasarkan perbedaan-perbedaan yang saling melengkapi.

Dakwah liberalis memperjuangkan sebuah Islam yang di satu sisi mampu memberikan makna bagi segmen umat yang hidup dalam konstelasi pertarungan elit yang mensyaratkan kehidupan yang kosmopolit dan pluralistik, dan di sisi lain memperjuangkan Islam agar tetap menjadi sistem nilai dominan (dominant ideology) yang mewarnai sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, dan bukan semata agama kelompok mayoritas.

Dari sini cukup mudah dilihat dan dipahami bahwa setiap gerakan dakwah memiliki sasaran dan target yang berbeda-beda. Dalam bahasa marketing, masing-masing sudah memiliki positioning yang jelas: siapa kliennya, apa produk utamanya. Namun sayangnya ini belum diikuti dengan profesionalisme para aktivis dan dai dari masing-masing kelompok. Istilah profesionalisme merujuk kepada keahlian yang dimiliki seseorang yang sebagai hasil dari pendidikan dan pelatihan. Dalam perkembangannya profesionalisme mengarah kepada spesialisasi, yaitu pengakuan adanya keterbatasan keahlian seseorang pada suatu bidang sekaligus keahlian orang lain di bidang lain. Menjadi dai baru sebatas okupasi (mata pencaharian), belum profesi (spesialisasi keahlian).

Baca juga : Revivalisme: Islam Persneling Tiga, Vigilantisme: Islam Persneling Mundur

Belum tumbuhnya sikap profesionalisme di kalangan kelompok-kelompok dakwah Islam di Indonesia menjadikan aktivitas dan aktivisme dakwah layaknya para amatiran: tidak menghormati batas-batas spesialisasi, sehingga antar kelompok dan golongan saling mencaci-maki. Karena menganggap kemampuan merendahkan kelompok lain menjadi indikasi kehebatan kelompok dan diri sendiri. Para aktivis dakwah cenderung terjebak ilusi kognitif hanya fokus melihat bahwa kelompoknya memiliki keunggulan tertentu yang tidak dimiliki kelompok lain, tanpa menyadari bahwa kelompok lain hidup dalam suasana berbeda dengan kebutuhan yang memang berbeda. Mencemooh dan menyalahkan sebuah gerakan dakwah sama dengan mencemooh dan menyalahkan nestapa sekelompok umat. 

Ketika masing-masing gerakan dakwah mengalami proses pelembagaan, yaitu pembakuan-pembakuan prosedur dan proses untuk mempermudah aktivitas dan meningkatkan produktivitas, kesalahpahaman dan sikap penuh prasangka ini juga ikut terlembaga. Di satu sisi para aktivis dakwah dari sebuah kelompok akan mudah melihat realitas internal kelompok mereka sebagai sesuatu yang dinamis penuh perubahan tantangan dan kreativitas, namun di sisi lain akan cenderung melihat realitas kelompok lain sebagai statis tidak berubah: dakwah tradisionalis identik dengan sinkretisme dan patrimonialisme, dakwah modernis identik dengan puritanisme dan pragmatisme, dakwah revivalis identik dengan eksklusivisme dan intoleransi, dakwah vigilantes identik dengan persekusi dan kriminalitas, dakwah liberalis identik dengan budaya permisif dan elitisme.

Baca juga : Liberalisme: Islam Persneling Parkir

Perlu senantiasa disadari bahwa pelembagaan sebuah aktivitas melibatkan upaya membangun basis sumber daya untuk mengembangkan dan menjadikan aktivitas tersebut berkelanjutan. Pada titik inilah orang seringkali salah paham dan gagal membedakan antara memperjuangkan tujuan dan memperjuangkan lembaga dan penghidupan. Sehingga, setiap proses pelembagaan gerakan dakwah akan melibatkan upaya membangun sumber daya material dan finansial: baik pada level personal individual para aktivisnya maupun kolektif kelembagaan gerakannya. Perlu diwaspadai jika ada aktivis sebuah gerakan dakwah mencela dan memaki gerakan dakwah yang lain sebenarnya yang menjadi ujungnya adalah soal maisyah, eksistensi personal dan kelompoknya, dan bukan soal dakwah. []

Jeruklegi Yogyakarta, 9 Dzulqaidah 2020.

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *