Jalan Pikir Pemenang

Posted by

Pernahkah Anda melewati jalan berkabut? Dari kejauhan tampak pekat. Pandangan mata terhalang. Pengguna jalan tidak bisa saling pandang. Tetapi, begitu melintasi jalan, semua tampak biasa. Jalan yang gelap, kini benderang. Begitulah kondisi kita ketika sedang menghadapi masalah. Kuncinya, jangan ragu setiap akan mengurai masalah.

Pernahkah Anda mengendarai motor, langsung menginjak persneling ke gigi empat? Pastilah mesin motor terasa berat. Jangankan mampu berjalan dengan kencang, suaranya justru mengerang-erang. Begitulah kondisi kita ketika tengah memulai kebaikan dengan sekaligus. Kuncinya, mulailah setiap kebaikan secara pelan-pelan, namun istikamah.

Pernahkah Anda melihat pisau berkarat? Selain tidak mampu memotong benda, nilainya juga tidak lagi berharga sebagai alat mempermudah pekerjaan. Pemilik pisau lalu menyisihkannya. Begitulah kondisi akal kita ketika tidak pernah diasah dengan belajar. Kuncinya, senantiasa tajamkan pikiran lewat aktivitas berpikir dan belajar.

Pernahkah Anda melihat cermin berdebu? Warnanya kotor dan lusuh. Ditaruh di kamar, tidak elok. Dipajang di ruang tamu, rasanya mengganggu. Tidak ada tempat pas, selain di pojok atau bagian belakang rumah. Begitulah kondisi hati kita ketika sudah jauh dari tadabur Kitab Suci. Kuncinya, jernihkan nurani dengan selalu mengakrabi Al-Qur’an.

Pernahkah Anda meminum jamu? Rasanya pahit. Sekali teguk seperti ingin muntah. Tetapi, setelah meminum, tubuh menjadi bugar. Penyakit yang semula mendera kini enyah. Begitulah kondisi hati kita ketika sanggup melanggengkan ibadah. Kuncinya, jangan pernah letih memaksa tubuh untuk bersimpuh luruh mengagungkan kebesaran Tuhan.

Pernahkah Anda menyaksikan taman bunga? Sungguh menyejukkan mata. Sepanjang pagi, siang, sore, dan malam hari, selalu tampak mekar dan segar. Merekah dan memukau siapa saja. Begitulah kondisi rumah tangga kita jika sudah mencapai biduk sakinah. Kuncinya, teruslah berupaya untuk menciptakan kehidupan keluarga yang bernuansa surga.

Demikianlah. Kehidupan ini memang anugerah dan amanah. Kesuksesan hidup sangat ditentukan oleh penghargaan kita terhadap nilai-nilai spiritual, moral, intelektual, dan seni, di atas sekadar materi. Karena itu, penuhi hidup ini dengan tradisi saling menolong, saling membantu, dan saling menebar manfaat di antara sesama. Sebab, upaya-upaya demikian itulah yang menghadirkan modus kehidupan berparas bunga.

Frustrasi hanya muncul karena harapan diri yang terlalu tinggi. Karena itu, jika kesedihan membuat diri menangis, ingatlah, ada ribuan kenangan indah yang mampu membuat kita tertawa. Syukurilah kesulitan. Sebab, kesulitan tidak jarang mengantarkan kita pada capaian yang tidak terbayangkan. Yang belum dikerjakan sering tampak mustahil. Keyakinan kita baru muncul kalau sudah berhasil melampaui. Sudah pasti, dua perkara yang tidak lepas dari dusta adalah terlalu banyak berjanji dan terlalu keras mencari alasan.

Biasa, orang mencibir prestasi kita yang sebetulnya dia sendiri tidak mampu melakukan. Makanya, kalau sedang membangun prestasi, namun banyak dicibir, bahkan diolok orang, tenanglah. Jangan gusar. Mula-mula mereka mengabaikanmu, lalu menertawakanmu, bahkan melawanmu. Akhirnya, diam-diam mereka biasanya membutuhkanmu dan mengidolakanmu.

Tinimbang mengoleksi alasan, inilah jalan pikir pemenang. Kesalahan hanya bukti ketidakcermatan kita dalam menyikapi keadaan. Kekalahan hanya bukti ketidakmauan kita dalam merebut peluang. Kebodohan hanya bukti keengganan kita dalam mengurai bayan. Kemiskinan hanya bukti keogahan kita dalam mensyukuri nikmat Tuhan. Kebangkrutan hanya bukti kekikiran kita dalam meringankan impitan yang kekurangan. Kegalauan hanya bukti keakraban kita dalam mengawani kemaksiatan. Kegagalan hanya bukti kemalasan kita dalam menjinakkan batu rintangan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *