Jangan Masuk “Golongan Putus Asa”

Posted by

Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak bisa tidur semalaman. Hatinya gundah, memikirkan calon yang layak diangkat menjadi seorang hakim di Basrah. Tidak mudah menemukan pejabat negara yang tahan ujian dan tidak gila pujian.

Setelah lama merenung, pikirannya tertambat pada dua nama yang dipandang memenuhi fit and proper test: Iyas bin Muawiyah Al-Muzani dan Al-Qasim bin Rabiah Al-Haritsi. Kepada Adi bin Arthah, wakilnya yang berada di Damaskus, khalifah minta dipanggilkan mereka.

Setelah keduanya menghadap, khalifah lantas menyampaikan maksudnya. Apa tanggapan mereka? “Wahai Amirul Mukminin! Tolong Anda tanyakan tentang diriku dan Al-Qasim kepada dua ulama di Irak, ialah Hasan Al-Basri dan Muhammad bin Sirin, karena keduanya yang paling mampu membedakan antara kami berdua,” Iyas berkata.

Iyas bilang begitu karena dia tahu Al-Qasim adalah murid kedua ulama itu. Dia sendiri tidak memiliki hubungan apa-apa dengan mereka. Tetapi, Al-Qasim segera menangkap arah pembicaraan Iyas. Bagi Al-Qasim, jika khalifah sampai berunding dengan kedua gurunya itu, pasti mereka akan memilih dirinya, bukan Iyas.

Al-Qasim pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin! Jangan Anda tanyakan tentangku pada siapa pun. Demi Allah, Iyas ini orang yang lebih paham tentang agama Allah dan lebih mampu menjadi hakim dari aku.”

Iyas tidak kurang akal. Dia berargumen, “Wahai Amirul Mukminin! Anda memanggil orang untuk dijadikan hakim. Ibaratnya, Anda sedang meletakkan orang itu di tepi jahanam. Karena itulah Al-Qasim hendak menyelamatkan diri dengan bersumpah palsu, yang bisa ditebus dengan meminta ampun kepada Allah, sehingga selamatlah dia dari apa yang ditakutkannya.”

Khalifah yang adil dan zuhud itu akhirnya memutuskan, “Iyas, orang yang mampu berpandangan mulia seperti dirimu inilah yang layak diangkat menjadi hakim.” Kelak, sejarah mencatat nama Iyas sebagai hakim yang jujur, bijaksana, dan lihai mengurai sengketa masalah. Selama menjabat hakim di Basrah, Iyas selalu mampu memecahkan segala masalah secara cerdas dan sederhana.

Memang, kisah semacam itu sulit terjadi di zaman sekarang. Kursi kekuasaan kerap menjadi lahan rebutan. Karena, penyakit kronis manusia modern adalah sering merasa pandai, tetapi tidak pandai merasa. Idenya, kursi kekuasaan itu empuk, jabatan mentereng itu impian, kekayaan melimpah itu dambaan, pamor diri itu prestasi.

Untuk sebuah jabatan, mana mungkin orang rela menyodorkan nama kawan. Setiap calon pemimpin justru sangat rajin beriklan. Citra diri dipoles demi meraup dukungan. Gelar pendidikan dipajang supaya menerbitkan kesan kepintaran. Semua menabur janji beribu dan mengaku sebagai nomor satu. Masing-masing menegaskan sebagai pemimpin harapan yang dapat mengentas kesulitan. Di saat yang sama, rakyat justru semakin sulit mendapatkan sosok pemimpin berkualitas negarawan.

Kendati demikian, keterpurukan tidak boleh memupus harapan. Patah harapan bukan karakter orang beriman. “Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh tiadalah orang yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang kafir,” tegas Allah dalam surah Yusuf/12: 87. Ingat, tidak semua kandidat pemimpin itu adalah orang jahat. Di antara para pecundang, pasti ada sosok negarawan. Karena itu, golput sama sekali bukan pilihan yang dapat dibenarkan.

Perubahan bangsa ke arah yang lebih sejahtera mensyaratkan uluran tangan semua pihak. Ratapan, pengabaian, apalagi umpatan tidak akan menolong keadaan. Salah satu bentuk upaya memperbaiki negeri adalah dengan memilih kandidat pemimpin sesuai hati nurani. Bukan malah berlepas diri dari masalah sambil mengumbar sumpah serapah. Orang beriman tidak boleh lari dari tanggung jawab. Marilah berusaha menemukan “mutiara” di antara tumpukan “sampah”.

Jika sampai pemilu hanya melahirkan kumpulan pecundang, pelaku golput jelas ikut bertanggung jawab. Karena, menjadi golput sama dengan memberikan peluang menang kepada pemilih ngawur atau yang menjual suaranya dengan selembar rupiah. Saatnya kita titipkan harapan pada momentum pemilu mendatang. Kita jangan ikut-ikutan golput, yang singkatannya lebih pas disebut “golongan putus asa”.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *