Jelang Pilpres 17 April 2019

Posted by
Ilustrasi: MI

Indonesia adalah negeri gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam melimpah, tenteram, makmur, dan sangat subur). Dalam istilah Al-Quran baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur; the good life.

Perjuangan bangsa Indonesia mengantarkan pada pintu kemerdekaan menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Persatuan kebangsaan Indonesia merupakan konsepsi yang mengatasi paham golongan dan perseorangan.

Untuk kelangsungan eksistensinya Indonesia membutuhkan orang tua yang mengerti, memahami, dan mengayomi seluruh masyarakat Indonesia dan tidak berpihak.

Nilai-nilai ketuhanan merupakan sumber etika dan spiritualitas vertikal-transendental sebagai fundamen etik kehidupan bernegara. Agama tidak mengenal pemisahan antara yang sakral dan secular, antara ekonomi, politik, dan budaya dengan agama.

Negara melindungi dan mengembangkan kehidupan beragama, sedangkan agama memainkan peran publik penguatan etika sosial. Nilai-nilai kemanusiaan universal yang bersumber dari Tuhan dan sifat-sifat sosial manusia menjadi fundamen etika-politik kehidupan bernegara dalam pergaulan dunia.

Masyarakat ibarat sebuah kapal. Setiap penumpang bertanggung jawab atas keselamatan sampai tujuan. Organisasi sosial keagamaan menjadi perekat hubungan, wadah penyaluran kehendak, dan penggerak kehidupan berdasarkan nilai-nilai utama.

Kebangkrutan sosial mesti dicegah dengan menegakkan hukum, meningkatkan penghormatan pada kehidupan, hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Politik adalah usaha menggapai kehidupan yang baik; mencapai masyarakat yang lebih baik daripada yang dihadapinya; mencapai suatu tatanan sosial yang berkeadilan. Untuk melaksanakan kebijakan umum (public policies) menyangkut pengaturan dan alokasi sumber daya alam, diperlukan kekuasaan (power) dan wewenang (authority).  

Kekuasaan adalah amanat yang harus ditunaikan dengan jujur dan adil. Penguasa tidak boleh memperturutkan hawa nafsu, menyimpang, dan menganiaya rakyat. Orang bijak berkata, “Kesetiaan kepada Partai berakhir ketika kesetiaan kepada Negara mulai.”

Politik adalah pisau bermata dua. Baik dan buruknya nasib suatu bangsa berada di tangan pemimpinnya. Apabila pemimpin negara baik, maka baiklah masyarakat, dan apabila pemimpin negara rusak, maka rusaklah masyarakat.

Kepemimpinan merupakan tali pengikat antara rakyat dan pemimpin. Masing-masing mempunyai hak dan kewajiban. Penetapan kepemimpinan itu melalui pemilihan dari rakyat sebagai pemilik hak utama untuk mengangkat, mengawasi, dan memberhentikan.

Jika seorang pemimpin mampu menjalankan hak-hak rakyat, maka ia telah melaksanakan hak Allah yang dilimpahkan kepadanya. Penguasa yang zalim harus diberhentikan dari kepemimpinannya dan tidak layak lagi menjadi pemimpin.   

Pemimpin niscaya mencintai rakyat melebihi cintanya kepada diri sendiri dan sanak saudara. “Tidaklah seorang hamba dijadikan Allah sebagai pemimpin sebuah masyarakat kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan menzalimi masyarakat yang dipimpinnya kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (HR Muslim). 

“Orang yang paling dicintai Allah dan paling dekat dengan-Nya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, dan orang yang paling dibenci Allah, dan paling jauh tempatnya dari-Nya adalah pemimpin yang zalim.” (HR Tirmidzi).

Para ulama adalah pewaris Nabi dan penjaga gawang moralitas dalam segala aspek kehidupan umat. Ulama yang mendiamkan atau bahkan mendukung kebijakan penguasa yang menyimpang dari dasar negara termasuk ulama su` (ulama yang buruk).       

Pemilihan Umum merupakan sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota DPR, anggota DPD, Presiden, dan Wakil Presiden, serta anggota DPRD. Pemilihan Umum wajib menjamin tersalurkannya suara rakyat secara langsung, umum, bebas, rahsia, jujur, dan adil. 

Komisi Pemilihan Umum (KPU) adalah lembaga Penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri dalam melaksanakan Pemilu. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) adalah lembaga Penyelenggara Pemilu yang mengawasi Penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah NKRI.

Pemilu dilaksanakan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Penyelenggaraan Pemilu harus memenuhi prinsip mandiri, jujur, adil, berkepastian hukum, tertib, terbuka, proporsional, profesional, akuntabel, efektif, dan efisien. Pengaturan penyelenggaraan Pemilu bertujuan untuk memperkuat sistem ketatanegaraan yang demokratis, mewujudkan Pemilu yang adil, berintegritas, efektif, dan efisien.

Pilpres langsung oleh semua rakyat Indonesia bertentangan dengan sila ke-4 Pancasila: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Kelemahan utama demokrasi liberal ialah bahwa setiap kepala mempunyai satu suara tanpa mempertimbangkan isi kepalanya.

Dalam Pilpres satu suara pun tidak boleh dicurangi. Jabatan publik yang ditentukan melalui pemilihan semacam Presiden, Gubernur, dan Walikota atau Bupati itu sebaiknya satu periode saja. Permainan apa pun (apalagi Pilpres!) akan rusak bila wasit ikut bermain.            

Memilih Pasangan Calon Presiden 01 maupun 02 pada Pilpres 17 April 2019 harus dipertanggungjawabkan di hari kiamat nanti. Siapa pun yang pernyataannya tidak benar, adil, dan jujur akan terpuruk.

Undang-Undang Pemilu 2017 Pasal 222: Pasangan Calon Presiden diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik Peserta Pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari suara sah secara nasional pada Pemilu anggota DPR sebelumnya. Pasal tersebut perlu dievaluasi.

Akankah Kami ceritakan kepadamu tentang mereka yang paling rugi dalam amalnya? Ialah mereka yang sesat usahanya dalam hidup di dunia ini, dan mengira mereka mengerjakan pekerjaan yang baik? (QS 18:103-104).

Janganlah kamu mengira orang yang bergembira dengan apa yang mereka kerjakan dan ingin mendapat pujian dari yang tidak mereka kerjakan? Janganlah kamu mengira mereka akan lolos dari azab. (QS 3:188).

Dalam pandangan Allah sangat keji bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. (QS 61:3). Apakah kamu menyuruh orang lain berbuat kebaikan tetapi kamu melupakan diri sendiri, padahal kamu membaca Kitab? (QS 2:44).

Dia (Ratu Saba`) berkata, “Raja-raja, bila mereka menaklukkan suatu negeri, akan merusakkannya; penduduknya yang mulia akan dijadikan hina dina. Demikianlah perbuatan mereka. (QS 27:34).

“Muslim yang satu dengan yang lain ibarat bangunan yang saling menguatkan; Muslim yang satu dengan yang lain ibarat satu tubuh. Kaum muslimin itu ibarat gigi sisir.” (Nabi Muhammad saw).

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Kebenaran, kebebasan, kejujuran, dan keadilan itulah pangkal kebahagiaan.  Kebahagiaan adalah keharmonisan apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan.

NKRI punya siapa

NKRI punya siapa

NKRI punya siapa

Yang punya kita semua

TNI punya siapa

TNI punya siapa

TNI punya siapa

Yang punya kita semua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *