Ka’bah Mengingatkan Empat Tokoh Manusia Utama

Posted by

Bangunan Ka’bah yang selamanya menjadi kiblat bagi kaum muslimin  sebenarnya berbentuk sederhana sekali. Bangunan itu berupa segi empat, berada di tengah-tengah pelataran Masjidil Haram. Namun demikian,   bangunan mulia itu menjadikan orang merasa haru, bahagia, takut, dan aneka suasana batin lainnya.

Setiap orang yang menjalankan ibadah haji dan atau umrah selalu mengunjungi dan tawaf di sekeliling Ka’bah. Di tempat itu mereka berdoa, memohon, dan merasa dekat pada Allah. Ketika sedang berada di sekitar Ka’bah atau Masjidil Haram, berbagai persoalan hidup sehari-hari menjadi terlupakan. Pada umumnya, orang ketika berada di tempat suci itu hanya berharap memperoleh ampunan dan kasih sayang dari Yang Maha Kuasa.

Pada setiap kali menjalankan ibadah haji dan atau umrah, dan berada di sekitar Ka’bah, saya selalu teringat pada empat tokoh manusia utama, yaitu Ibrahim as, Siti Hajar, Ismail as, dan Muhammad saw. Keempat tokoh manusia utama itu, dalam sejarah hidupnya, telah berhasil memberi tauladan, bagaimana seharusnya kehidupan ini dijalani.

Nabi Ibrahim as., dikenal sebagai Rasul yang sedemikian hebat perjuangannya di dalam membangun tauhid atau mengenal Allah sebagai tuhannya. Melalui kontemplasi yang mendalam dan dilakukan secara terus menerus, akhirnya ia berhasil mengenal siapa Tuhan yang sebenarnya. Kisah Ibrahim di dalam  pencaharian tuhan itu diabadikan di dalam Alquran. Sedemikian kokoh ketauhidan Ibrahim as., sehingga oleh Allah ia  dikaruniai sebutan Kholilullah.

Tauhid yang kokoh itu menjadikan Ibrahim, as. selalu pasrah, taat, dan menjalankan  terhadap apapun yang diperintahkan-Nya. sekalipun berat dan bahkan bagi manusia biasa terasa tidak manusiawi. Ketika  ia diperintah oleh Allah  untuk meninggalkan Siti Hajar yang hanya bersama anaknya, Ismail, yang  ketika itu masih bayi, di tengah padang pasir bebatuan yang tidak terdapat makanan dan seorang pun sebagai penolongnya, maka ia segera  tunaikan. 

Selanjutnya, setelah Ismail dewasa, dan keduanya bertemu kembali di Makkah, orang yang berjasa membangun kembali Ka’bah itu mendapatkan ujian yang lebih berat lagi. Melalui mimpinya, Ibrahim diperintah oleh Allah agar menyembelih putra kesayangannya itu. Tanpa ragu, perintah itu ditunaikan, sekalipun akhirnya, dalam kisah itu, tubuh Ismail digantikan dengan domba, sehingga anak kesayangannya itu terselamatkan. Bagi Ibrahim, apapun dan betapa beratnya perintah Allah tetap ditunaikannya.

Manusia utama kedua yang saya ingat terkait Ka’bah adalah Siti Hajar. Wanita solehah yang sekaligus berstatus sebagai isteri Nabi Ibrahim as.,  berhasil menangkap ajaran tauhid dari suaminya. Sekalipun Siti Hajar sebelum menjadi isteri Ibrahim hanyalah berstatus sebagai budak berkulit hitam yang kebetulan dibawa serta dari Mesir ke Palestina, bersama Siti Sarah, isteri Ibrahim yang pertama, ternyata juga berhasil membangun jiwa tauhid dan tanggung  jawab yang luar biasa kokohnya.

Keimanan  Siti Hajar dapat dibuktikan, di antaranya, dari keikhlasannya  ketika ditinggal pergi oleh suaminya untuk  memenuhi perintah Tuhan,  sekalipun ia hanya bersama bayinya  di tengah gurun pasir bebatuan. Ia menyerah, apapun keadaannya dijalani olehnya. Rasa tanggung jawab tampak dari kisahnya, ia dalam keadaan sendirian harus berlari  berulang kali dari satu bukit ke bukit lainnya, tanpa rasa lelah, mencari air minum  untuk  menyelamatkan bayinya.

Kisah perjuangan Ibrahim dan Siti Hajar menjadi lengkap setelah ditambah dengan kisah Ismail, seorang rasul, dan juga sekaligus putra kesayangan suami isteri itu. Tatkala mendapatkan keterangan dari ayahnya, Ibrahim,  bahwa melalui mimpi, Allah memerintahkan untuk menyembelihnya, lagi-lagi Ismail pasrah, agar perintah dari Dzat Yang Maha Kuasa itu segera ditunaikannya. Kisah yang mengerikan itu juga diabadikan di dalam Alquran.

Terakhir, tokoh ke empat manusia utama yang selalu diingatkan oleh  adanya bangunan Ka’bah adalah Muhammad saw. Rasul terakhir ini telah berhasil membangun sebuah tatanan kehidupan ideal secara menyeluruh,  atau disebut sebagai peradaban yang tinggi sehingga menjadi tauladan  bagi umat manusia lain setelahnya. Nabi Muhammad sukses membangun masyarakat Madinah dalam berbagai aspeknya.  

Umpama saja, kaum muslimin dalam berkiblat ke Ka’bah, tidak saja dimaknai tatkala sedang menjalankan shalat, melainkan juga dalam segala  segi kehidupan, maka tatan kehidupan kaum muslimin akan menjadi sangat ideal. Maksudnya, berkiblat ke Ka’bah, seharusnya dalam semua hal, baik jiwa, pikiran, dan tindakan, selalu mengacu kepada ke empat tokoh manusia utama dimaksud dalam berbagai aspeknya. Manakala  berkiblat selalu dimaknai sebagaimana dikemukan tersebut, maka kehidupan ini akan menjadi sangat ideal. Namun sayangnya, tidak sedikit di antara kaum muslimin melupakan kisah ke empat tokoh manusia utama dimaksud. Sekalipun mengaku sedang berkiblat ke Ka’bah, ternyata kisah kehidupan ideal ke empat tokoh manusia utama itu belum selalu diingat dan dijadikan sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *