Kamuflase

masa-kini.id-Selepas pemotongan hewan kurban, seorang teman mengunggah status WhatsApp berisi gambar dirinya sedang membuang dan membersihkan kotoran di saluran pencernaan hewan kurban. Dalam keterangan gambar tertulis, “apa yang tampak bersih dari luar, belum tentu benar-benar bersih di dalam”.

Awalnya saya menyikapinya dengan sambil lalu, mengingat pernyataan tersebut sudah familiar di masyarakat. Tapi sejenak kemudian saya berpikir bahwa meski terlihat sederhana –untuk tidak mengatakan usang–, ungkapan tersebut mengandung makna yang dalam jika dikaitkan dengan sikap keagamaan umat Islam.

Sebagaimana jamak diketahui, ada sebagian orang yang ingin terlihat suci di hadapan orang lain. Bahwa ia punya aib atas dosa yang diperbuat, orang lain jangan ada yang tahu. Sebaliknya, sampai pada tahap yang paling ekstrem, ada orang yang dengan sengaja melakukan dosa di hadapan orang lain supaya orang menganggapnya hina, meski sebenarnya ia senantiasa mendekatkan diri pada Yang Kuasa.

Selain dua kategori tersebut, tentu masih banyak yang suci luar-dalam. Meskipun tidak dapat dimungkiri tidak sedikit yang hati maupun perilakunya jauh dari jalan kebenaran.

***

Pertengahan abad ketiga Hijriah, berkembang sebuah tariqat di daerah Khurasan. Nama tariqatnya Malamatiyah. Dikembangkan oleh Abu Shalih Hamdun bin Ahmad An-Naisaburi, seorang sufi sekaligus ulama fikih Madzhab Sufyan ats-Tsauri.

Yang menarik dari Tariqat Malamatiyah ini adalah ajarannya yang menghindarkan diri dari prasangka baik manusia. Sehingga, alih-alih menampakkan amal baik di hadapan manusia, penganut tariqat ini malah akan mengerjakan hal-hal yang oleh orang beriman dianggap kotor, hina, dosa.

Bahkan ketika ada orang lain yang tahu kalau ia sedang beribadah, ia segera mencela diri. Tujuannya agar ibadahnya kepada Allah tidak diketahui oleh orang lain. Mereka beribadah kepada-Nya dengan cara yang sunyi.

Para pengikut tariqat ini seolah ingin mengungkapkan bahwa apa yang tampak hina dari luar, belum tentu benar-benar hina di kedalaman (hati dan laku yang ‘tersembunyi’). Jujur di hadapan Allah, tapi berdusta di hadapan manusia.

Terlepas dari status ibadahnya di hadapan Allah, saya menganggap sikap keagamaan yang demikian terlampau ekstrem.

Dalam bentuk yang lebih dapat ‘dimaklumi’, beberapa orang sering kali menunda mengerjakan amal saleh jika di hadapannya ada orang lain. Mereka tidak melebih-lebihkan amalan sunnah, tapi juga tidak melalaikan amalan wajib, apalagi sampai berbuat dosa. Alasannya supaya tidak dianggap sebagai orang saleh.

Mereka mempertimbangkan kualitas amal, kesucian niat, dan menghindari klaim orang lain yang boleh jadi terlalu berlebihan.

Perihal ini, seorang teman pernah bercerita kepada saya. Ia heran mendapati kenyataan bahwa ada orang yang malu atau enggan dianggap saleh. Yang oleh karenanya sampai harus menunda melakukan amalan sunnah.

Saya jelaskan bahwa barangkali mereka berusaha menghindari klaim kurang tepat atas dirinya: dianggap saleh padahal masih sering melakukan dosa, atau dianggap bersih dari luar padahal dalamnya masih banyak kotoran. Guna menghindari klaim tersebut, mereka menampakkan sikap keagamaan yang ‘pada umumnya’.

Sayangnya, ia kurang sepakat dengan jawaban saya. “Kenapa harus malu dianggap saleh padahal kesalehan merupakan bentuk aktualisasi keimanan kepada Allah?” Baginya, setiap orang harusnya saling berlomba dalam kebaikan.

Tapi benarkah situasinya sesederhana itu? Saya pikir tidak. Berlomba dalam kebaikan memang dianjurkan, tapi menjaga kesucian niat juga perlu. Toh, menunda amalan sunnah (di hadapan orang lain) bukan berarti menyerah dari perlombaan.

Barangkali, anjuran berlomba dalam kebaikan lebih tepat digunakan sebagai antitesis ajaran Tariqat Malamatiyah. Dalam hal ini, menghindari klaim saleh dari orang lain tidak harus dengan melakukan amal kebalikannya.

Seekor bunglon berkamuflase untuk melindungi dirinya dari musuh. Merubah warna tubuh untuk disesuaikan dengan warna yang ada di sekitarnya. Perubahan yang tidak merubah fakta bahwa dirinya adalah bunglon.

Ibarat bunglon, orang yang menunda amal saleh di hadapan orang lain bisa jadi merupakan bentuk perlindungan diri dari penyakit hati. Menjaga diri untuk tampak biasa-biasa saja dari luar, agar kualitas amal dan kesucian niatnya tidak ternodai.

Sebuah kamuflase yang bertujuan menghindarkan diri dari klaim, “kamu saleh banget, ya” dari orang lain, dan sikap diri, “aku lebih saleh daripada dia”.

Baca juga: Teladan Ahli Ilmu dan Ibadah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *