Kaum Milenial dan Literasi Media

Oleh: Triyas Chusnul Fatimah*)

Arus perkembangan media informasi era 4.0 tak dapat dibendung. Informasi mengalir deras dan dapat dengan mudah diakses. Kemudahaan akan mengakses informasi dengan gadget serasa dunia dalam genggaman. Hanya dengan sentuhan jempol kita bisa mengakses, mendapatkan informasi dengan mudah dan cepat.

Kemajuan teknologi dan informasi ibarat pisau bermata dua. Satu sisi, kemajuan teknologi memberikan dampak positif. Satu sisi, teknologi dan informasi memberikan boomerang cilaka bagi penggunanya. Sebagai generasi yang dekat dengan teknologi informasi, sudah selayaknya kita bijak menggunakannya ditengah kemajuan teknologi dan informasi.

Hasil survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat bahwa jumlah penetrasi internet pada tahun 2018 mencapai 64,8% yang artinya hampir 171.1 juta penduduk indonesia menggunakan internet dari total penduduk Indonesia. Facebook merupakan platform media sosial yang kerap dikunjungi sebesar 50%, kemudian Instagram 17,8 %, Youtube 15,1 % dan terakhir Twitter dengan 1,7 %. Pengguna internet didominasi usia 15-20 tahun total pengguna sebesar 91%, usia umur 21-24  tahun 88,5%, usia 25-29 tahun 82.7%.

Sayangnya penetrasi yang begitu tinggi tidak beriringan dengan meningkatnya pemanfaatan arus teknologi informasi secara maksimal. Pemanfaatan teknologi media sosial hanya sebatas dengan selfie, update status, yang bertujuan untuk membranding diri dan elektabilitas eksistensi diri.

Tidak ada aturan dan batasan dalam mengakses informasi dan teknologi, sehingga semua orang bebas untuk mengekspresi dirinya lewat media sosial. Masyarakat sebagai konsumen dan produsen informasi masih banyak yang belum bisa memfilter informasi yang benar maupun hoax, informasi yang bermanfaat atau tidak.

Kemudahan akan mengakses dan membagikan informasi tak bisa dikontrol, hal ini semakin mudahnya informasi hoax yang beredar. Kaum milenial menjadi dampak pengaruh paling utama terbawa arus dan tren negatif, secara tidak sadar ikut menyebarkan informasi hoax, provokasi, fitnah, sikap intoleran anti pancasila. Bahkan mampu menggerakan massa untuk melawan pemerintah.

Berdasarkan pengamatan Shafiq Pontoh tahun 2017 ada beberapa kategori hoax yang sering diterima masyarakat. Yakni sebanyak 91,8% masalah sosial politik, 88.6% masalah SARA, sekitar 41,2 tentang kesehatan, dan sisanya 32,6% terkait makanan dan minuman. Maraknya informasi hoax yang beredar memberikan dampak keresahan bagi masyarakat.

Dengan banyak beredarnya informasi hoax yang beredar dapat memberikan dampak negatif pada tatanan sosial masyarakat. Dampak pertama, merugikan masyarakat akibat kebohongan dan fitnah, kedua semakin resah dan menimbulkan ketakutan bagi semua masyarakat terutama umur 50 keatas, ketiga informasi hoax dapat memecah belah masyarakat, keempat informasi hoax menimbulkan kemarahan dan kebencian.

Banjir informasi yang beredar memberikan dampak bagi otak untuk menyerap informasi yang mengakibatkan overload dengan segala informasi, termasuk informasi hoax. Dampak berita hoax sifatnya sangat signifikan, yang dapat mengancam hubungan keluarga hingga Persatuan Bangsa.

Cerdas dan Bijak Memilih Media

Kaum milenial dan gadget di era sekarang sangat erat sekali hubungannya. Dengan adanya gadget seolah menjadi teman setia kemana pun harus dibawa. Hadirnya smartphone/gadget memberikan akses kemudahan untuk mencari informasi. Bahkan kemudahan mengakses informasi internet dan media sosial untuk bisa belajar agama. Keberagaman generasi milenial terbentuk dengan kecanggihan teknologi dan informasi.

Kaum milenial harus bijak  dalam memilih media. Ketika salah dalam memilih media, akan terjerumus pada pesan dan tujuan tersembunyi dari media tersebut. tidak sedikit yang terjerumus pada informasi yang salah. Sebab itu cerdas dan bijak dalam memilih media itu butuh pengetahuan dan literasi dalam memahami teks media.

Dengan literasi media dan teknologi informsi kaum milineal tidak menjadi konsumen pasif, sebab konsumen pasif ini yang berbahaya. Secara tidak sadar ikut dalam menyebarkan informasi hoax dan menimbulkan sebagian orang tersulut amarah. Bijak bermedia dalam menghadapi demokrasi arus informasi menjadi point penting dalam memerangi penyebaran hoax. Menurut Turow 2009, tindakan itu akan membangun kesadaran dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Melalui literasi media juga dapat memframing informasi atau berita yang dibangun media tertentu. Pengetahuan literasi menjadi jembatan dalam mengenali tipologi dan ideologi yang diusung media tersebut. karena teks media hanya sebuah produk yang dibuat sekelompok orang untuk menggiring opini masyarakat. Pada posisi ini, setiap orang memiliki tujuan dan misi dalam memproduksi isi pesan media.

Sebagai kaum milenial sudah sewajarnya untuk berfikir kritis, kritis saat mengakses dan membaca media. Misalnya, ketika membaca konten keislaman. Tidak semua media online menyajikan konten keislaman yang moderat. Ada pula media online yang sengaja dibuat untuk menyebarkan ideologi dan paham radikal tertentu kepada masyarkat. Karena setiap media yang berisi konten-konten moderat yang radikal, agak sulit terindentifikasi. hal dikarenakan isi konten keislaman yang bersifat ramah, dan open minded.

Tapi biasanya, media moderat menyediakan konten-konten keislaman yang ramah, menghindari justifikasi, menuduh pihak lain. Media radikal biasanya menggiring pembaca untuk membahas perbedaan (Khilafiah) dalam islam. Media radikal kerap menilai kelompok lain di luarnya bertentangan dengan islam. Sebab itu, jangan sampai kita sebagai generasi milenial salah memilih media.

Pemahaman teks media menjadi kunci untuk mendapatkan makna objektif dan bekal membangun kehidupan masyarakat. Kuatnya arus informasi yang tak terbendung era 4.0 harus diimbangi dengan nalar kritis yang rasional dalam memahami setiap teks media. Pada titik ini kedudukan setiap orang terutama kaum milenial tidak mudah diprovokasi dan digiring opini publik yang menyebabkan perpecahan.

Oleh sebab itu, bijak dan teliti dahulu sebelum menyebarkan informasi. Begitu juga dalam mencari informasi apapun terutama agama atau keislaman melalui media. Perlu nalar bijak dan rasional dalam menyerap informasi apapun.

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi UNY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *