Kearifan

Posted by

Saya selalu menemukan kisah menarik saban berkunjung ke pesantren dan berbincang langsung dengan kiainya. Hari itu, saya diundang untuk berbicara tentang kepenulisan di sebuah pesantren di Bondowoso.

Seperti biasa, sebelum dan sesudah acara, saya selalu berbincang dengan pengasuh pesantren bersangkutan. Saya tahu, pengasuh pesantren itu adalah sosok gigih dan istikamah dalam berdakwah lewat pendidikan.

Pesantren yang dirintis sejak 1994 itu berdiri di atas lahan sekitar 3 hektare, dengan ratusan santri putra dan putri. Tidak seperti umumnya, pesantren tersebut mirip sebuah penginapan di lokasi wisata. Kontur tanah pesantren naik turun, dipenuhi tanaman dan kolam, sehingga tampak unik lagi asri.

Tentu saja pesantren tidak berdiri tanpa halang rintang. Saat berniat merintis pesantrennya, sang kiai terlebih dahulu sowan ke sejumlah tokoh masyarakat setempat. Heran, tidak satu pun dari mereka yang mendukung. Menurut kisah sang kiai, semua tokoh masyarakat yang beliau kunjungi merasa pesimis, dan menyatakan pesantren yang akan beliau rintis tidak akan mampu hidup. Masyarakat di daerah itu juga tidak akan mendukung.

Tetapi, sang kiai terus memacu langkah. Tidak ambil pusing. Benar juga. Awal perintisan, sang kiai menerima ujian yang tidak ringan. Banyak propaganda yang membikin masyarakat curiga terhadap pesantren baru itu. Hampir saban hari, pesantren dilempari batu oleh orang-orang yang tidak senang. Kejadian itu kira-kira berlangsung tiga tahun. Namun, sang kiai tetap bersabar.

Upaya pendekatan ditempuh. Hasilnya, jumlah pengganggu berkurang. Tinggal satu orang yang masih rajin melempari batu. Akhirnya sang kiai bersikap tegas. Beliau datangi rumah pelaku. “Kalau besok masih terjadi peristiwa seperti itu, akan saya bakar rumah Sampeyan!” ancam sang kiai yang berhasil menghentikan ulah jalanan itu.

Masalah berhenti di situ? Ternyata tidak. Kecurigaan masih datang, bahkan dari kalangan tokoh masyarakat. Keberadaan pesantren itu dianggap berbahaya. Ceritanya, sang kiai membagikan buku gratis kepada masyarakat. Tiba-tiba, salah satu tokoh masyarakat setempat mempermasalahkan. Dia marah-marah dan mendatangi rumah sang kiai. Menurut tokoh tadi, buku yang dibagikan itu menyesatkan.

“Sampeyan ini kok aneh. Mestinya biarkan masyarakat membaca sebanyak-banyaknya. Kalau memang buku itu keliru, monggo ditulis buku bantahan. Cara demikian lebih mencerdaskan ketimbang melarang-larang masyarakat membaca buku,” jelas sang kiai.

Tokoh bersangkutan semakin meradang. Dia menantang sang kiai. “Jika begitu, buku itu harus dibedah. Saya akan undang seluruh ulama se-Bondowoso. Kapan Kiai berani hadir?” katanya.

Dengan tenang, sang kiai menjawab, “Silakan adakan bedah buku itu. Sampeyan bikin acaranya seramai mungkin. Bila perlu mengundang penulis buku ini, akan saya datangkan. Nantinya kalau semua persiapan sudah beres, silakan Sampeyan hubungi saya. Insya Allah saya akan datang.”

Namun, setelah lama ditunggu, acara bedah buku itu tidak pernah ada. Rupanya hanya gertak sambal.

Masih banyak kisah menarik yang saya dapatkan dari sang kiai. Yang jelas, ketika diajak keliling pesantren, saya bertanya, “Apa harapan Kiai untuk pesantren ini ke depan?”

Sambil tersenyum, beliau mengatakan, “Masih banyak. Tapi yang sekarang mendesak adalah saya ingin membeli tanah untuk meluaskan pesantren. Termasuk saya ingin membangun lapangan olahraga untuk santri putri.”

Saya bertanya lagi, “Kira-kira dari mana nanti dapat dananya, Kiai?”

Beliau tersenyum, lalu menjawab, “Allah yang akan kasih rezeki. Bukankah salah satu pesan Nabi adalah: Katakanlah bahwa aku beriman kepada Allah, kemudian beristikamahlah. Dari situlah nanti saya akan dapat dana. Insya Allah.”

Subhanallah. Begitulah ketika hati sudah dipenuhi buncah harapan untuk memajukan umat, segalanya menjadi mudah. Sangat berbeda dengan orang yang sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri. Sekadar membangun rumah atau membeli kendaraan bermotor saja, sukarnya minta ampun.

Ya Allah! Sibukkanlah hati dan pikiran kami semua untuk berjibaku dalam membagun umat. Bukan melulu kemaruk harta hanya sekadar takut hidup miskin dan melarat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *