Kekecewaan Buya Hamka pada Muhammadiyah

Posted by

masa-kini.id – Pada 1925 Haji Rasul pergi ke Jawa, setelah agendanya ke Mesir untuk menghadiri kongres khilafah ditunda karena di sana sedang terjadi kemelut politik. Di Pekalongan, Haji Rasul melihat sang putra sudah banyak berubah, sudah revolusioner. Sehingga pada bulan Juni di tahun yang sama dirinya diminta pulang untuk membantu dakwah sang ayah di Sumatera.

Ketika pulang, dirinya sudah membawa pandangan baru soal Islam, juga soal pergerakan dan komunis. Di sisi lain, dia juga sudah sangat piawai berpidato dan tidak merasa gentar berbicara di depan orang-orang. Semakin lama, isi pidato semakin baik sehingga mengundang kagum orang-orang yang mendengarnya.

Baca juga : Sisi Lain Si Abdul Malik (Buya Hamka)

Di buku, Kenang-Kenangan Hidup, Hamka menulis bahwa pidato-pidato yang disampaikannya itu hampir seluruhnya berisi politik, tapi bukan komunis. Apa yang disampaikannya itu adalah gabungan daripada semangat yang dipompakan oleh HOS Tjokroaminoto dan Sutan Mansur. Buku Islam dan Sosialisme yang ditulis Tjokro dan buku Islam dan Materialisme karangan Syeikh Jamaluddin Al-Afghany, yang disalin A.D Dani berada dalam genggaman tangannya.

Lebih lanjut Hamka menjelaskan bahwa, ketika dirinya pulang ke Sumatera, kondisi di sana sudah berubah. Komunis yang pipimpin Datuk Batuah tidak hanya berhasil mempengaruhi hampir semua murid-murid di Sumatera Thawalib saja, tapi juga sudah meluas di Padangpanjang dan bahkan merembet hingga ke Parabek.[1]

Baca juga : Toleransi HAMKA

Haji Rasul yang pulang lebih dulu didapatinya sudah berhasil mendirikan Muhammadiyah di Maninjau. Di Padangpanjang, didirikannya pula sekolah Tabligh Muhammadiyah untuk menampung murid-murid yang masih setia kepadanya. Saat itu, orang-orang Batuah sudah menanamkan kebencian kepada Haji Rasul dan berusaha menyingkirkan ulama pembaharu itu dengan cara apa pun. Kebencian mereka kepada Rasul sama persis seperti kebencian komunis kepada Tjokroaminoto.[2]

Kepulangan Hamka membawa angin segar bagi sang ayah. Pemuda yang sudah penuh dengan semangat revolusioner itu dengan penuh semangat membantu sang ayah membesarkan dakwah Muhammadiyah. Saking semangatnya, dirinya sama sekali tak merasa lelah meski harus bolak-balik berjalan kaki memberikan kursus dan berpidato, seminggu di Maninjau dan seminggu di Padangpanjang.

Ketika sang ayah diminta mengisi tabligh di kampung-kampung, dengan hati riang gembira Hamka mengikutinya dan selalu diberi kesempatan pula memberikan pidato dengan cara yang baru. Suaranya keras dan lantang, tak kalah dengan suara propaganda orang-orang komunis.[3]

Secara jujur Hamka mengakui bahwa ketika itu dirinya berlangganan majalah dan surat kabar dari Jawa. Di antara yang paling penting adalah Hindia Baru dan Bendera Islam. Pemahaman agama yang luas, ditambah kemampuan berpidato yang berapi-api membuat Hamka semakin dikagumi.

Baca juga : Buya Syafii Membangun Titik Temu

Diusianya yang baru 17 tahun dirinya telah tumbuh menjadi seorang terkemuka di antara teman-temannya. Agar teman-temannya juga bisa berpidato seperti dirinya, maka Hamka membuka kursus pidato di kalangan teman-temannya itu, yang pengajarannya dilakukan di surau milik ayahnya di Padangpanjang. Hamka mengaku bahwa pidato-pidato teman-temannya itu kemudian dikumpulkan dan dicetak menjadi buku dengan judul Khatibul Ummah, meski banyak pidato-pidato temannya itu yang membuatkan adalah dirinya.

Akhir tahun 1925 Haji Rasul berangkat ke Mesir, dan kakak iparnya, Sutan Mansur pulang. Kakak-beradik ini kemudian bergerak bersama, bahu-membahu dan tanpa kenal lelah membangun Muhammadiyah di Sumatera Barat. Sayangnya, itu tidak lama karena pengetahuan yang kurang dalam ilmu alat bahasa Arab membuat orang-orang menyampaikan kritikan halus kepada Hamka.

Di buku, Kenang-Kenangan Hidup, Hamka mengakui bahwa sering kali dirinya keliru kalau mengucapkan bahasa Arab, tidak kena nahwu dan sharaf-nya. “Yang patut baris di depan terbaca di atas, yang fa’il terbaca manshub, yang maf’ul terbaca marfu’,” tulis Hamka jujur mengakui.

Semakin lama, kritik halus itu berkembang menjadi hinaan. Lebih-lebih oleh orang-orang yang tidak menyukai Hamka. Digunakannya kelemahan Hamka itu untuk mencemooh dan mengatakan Hamka hanya pandai berpidato tapi tidak bisa bahasa Arab.

Meski merasa kesal, tapi hal itu tak membuat semangat Hamka menjadi kendur. Meski sadar jika nahwu dan sharaf-nya lemah, tapi dia tetap percaya diri bahwa dia jauh lebih piawai dalam menerjemahkan istilah Arab dan mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an jika dibandingkan dengan teman-teman yang mencemoohnya itu.

Sekembalinya dari Mesir, Hamka mengadukan apa yang dialaminya itu kepada sang ayah. Alih-alih mendapat pembelaan, Haji Rasul justru sependapat dengan teman-temannya yang mencemoohnya. Hamka masih mengingat orangtuanya berkata bahwa tiada guna pandai berpidato kalau ilmu pengetahuan belum cukup. Apalah perlunya kalau hanya pandai menghafal syair dan bercerita sejarah, tak ubahnya hanya seperti burung beo.[4]

Perkataan sang ayah membuat Hamka merasa sakit hati. Lebih-lebih lagi ketika Haji Rasul berkata, “Pidato-pidato, lezing-lezing saja percuma. Isi dadamu terlebih dahulu dengan pengetahuan, baru ada artinya pidato itu.”[5]

Baca juga : HADJI AGUS SALIM: Si Jenius dari Kaki Singgalang

Di buku, Buya Hamka: Ulama Umat Teladan Rakyat, Yusuf Maulana menulis, Haji Rasul sebenarnya sadar akan kemampuan yang dimiliki oleh sang putra. Hanya saja, dia tidak ingin anaknya menjadi besar kepala. Oleh karenanya, dia memberikan nasihat agar Hamka muda mengisi dadanya dengan ilmu. Haji Rasul tidak ingin sang anak hanya pandai berpidato saja, bersilat lidah dan berteriak-teriak pintar memukau massa, tetapi sejatinya isi pidatonya di mimbar itu kosong, hambar dari nilai agama.[6]

Sayangnya, Hamka salah terima dengan nasihat sang ayah. Wajar kalau Hamka salah terima, karena berdasar pengakuannya sendiri, dirinya termasuk pemarah, pantang tersinggung, pantang dikata dan perajuk. Maksud orang memberinya kritik adalah demi kebaikannya, tapi tetap saja disangkanya salah. Termasuk di antaranya adalah nasihat sang ayah yang disangkanya sebagai penghinaan.

Rasa kecewa Hamka kepada orang-orang di kampung halamannya semakin menjadi-jadi ketika dirinya ditolak menjadi guru di Sekolah Muhammadiyah yang baru saja berdiri di kampung halamannya, di Padangpanjang.

Banyak teman-temannya yang baru pulang dari tanah Jawa mengajukan lamaran. Ada yang diterima dan ada pula yang tidak. Hamka termasuk yang tidak diterima hanya karena dirinya tidak tamat kelas VII sehingga tidak memiliki diploma. “Bukan main sakit hatinya. Ketika itu hampir semua orang dipandangnya sebagai musuh. Hampir semua orang disangkanya benci kepadanya,” tulis Hamka di buku memoarnya, Kenang-Kenangan Hidup.

Baca juga : Sjafruddin Prawiranegara: Bapak Bangsa yang Terlupa

“Perkataan yang lurus disangkanya menyindir,” Hamka menambahkan, “Ketika itu, yang sayang kepadanya, menurut perasaanya hanya dua, yaitu neneknya yang perempuan dan buku catatannya. Menjadi kelam picik kampung halamannya itu di matanya. Sebab itu dia hendak berangkat, pergi sejauh-jauhnya meninggalkan kampung halaman dan orang-orang yang sudah melukai hatinya.”[7]

Sementara Irfan, putra kelima Hamka memberi kesaksian atas peristiwa itu di buku, Ayah…Kisah Buya Hamka. Irfan menulis, “Peristiwa itu sangat membekas di hati Ayah. Ayah merasa, selama ini, sepulang dari menuntut ilmu di tanah Jawa, ayah merasa sudah cukup pintar. Apalagi dirinya sudah sering diminta memberikan dakwah pada setiap pengajian dengan sambutan yang baik dari masyarakat. Namun hanya karena tidak memiliki diploma, Ayah ditolak menjadi guru di sekolah Muhammadiyah, yang Ayah sendiri ikut mendirikannya.”[8]

Ketika penulis menanyakan hal ini kepada allahuyarham Yousron Rusydi, beliau membenarkannya. Kakeknya, Hamka, memang pernah ditolak menjadi guru di Sekolah Muhammadiyah yang didirikannya bersama-sama Haji Rasul dan Sutan Mansur. Bahkan, penolakan itu benar-benar membuat Hamka merasa sangat kecewa.

Baca juga : Pak AR yang Humoris

Namun, yang lebih membuatnya kecewa adalah karena di depan orang-orang memuji kecakapan dan kecerdasannya, tapi di belakangnya justru dijelek-jelekkan dan dicibir sebagai ahli pidato dan tidak bisa berbahasa Arab dengan baik.

Apa yang dikatakan allahuyarham Yousron Rusydi selaras dengan kesaksian Irfan Hamka. Di buku, Ayah…Kisah Buya Hamka, beliau menulis, “Yang lebih membuat Ayah merasa kecewa adalah karena di depan dirinya dipuji-puji, sementara di belakang dicibir hanya karena bahasa Arab-nya yang tidak kena nahwu dan sharaf-nya. sejak saat itulah Ayah merasa dikucilkan, dan tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Ayah merasa tidak diperlukan lagi di Padangpanjang, sehingga timbul keinginnnya untuk pergi sejauh-jauhnya.”[9]


[1] Hamka. 2018. Kenang-Kenangan Hidup. Jakarta: Gema Insani. Hlm, 65.

[2] Hamka. 1951. Kenang-Kenangan Hidup. Djakarta: Gapura. Hlm, 53.

[3] Hamka. 2018. Kenang-Kenangan Hidup. Jakarta: Gema Insani. Hlm, 65.

[4] Hamka. 1951. Kenang-Kenangan Hidup. Djakarta: Gapura. Hlm, 55.

[5] Ibid. Hlm, 55.

[6] Maulana, Yusuf. 2018. Buya Hamka: Ulama Umat Teladan Rakyat. Yogyakarta: Pro-U Media. Hlm, 91.

[7] Hamka. 1951. Kenang-Kenangan Hidup. Djakarta: Gapura. Hlm, 56.

[8] Hamka, Irfan. 2013. Ayah…Kisah Buya Hamka. Jakarta: Penerbit Republika. Hlm, 235.

[9] Ibid. Hlm, 235.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *