Kesohoran Malaka dalam Perdagangan Maritim dan Penantang Kesultanan Pasai

Posted by

masa-kini.id-Setelah keruntuhan Kerajaan Sriwijaya dan diikuti kerajaan penerusnya, yaitu Malayu, di pesisir timur Sumatra, pada ke-14 muncul lagi kekuatan baru di Semenanjung Malaya atau area Selat Malaka yang kita kenal. Itulah Kerajaan Malaka yang bertahan selama sekitar 1 abad.

Konon diceritakan dalam Sejarah Melayu pendiri Kerajaan Malaka adalah seorang pangeran yang bermigrasi dari Palembang. Pangeran ini dipanggil dengan gelar Sri Tri Buana, setidaknya ini mengindikasikan bahwa ia bukanlah Muslim.

Mengenai alasan di balik hijrahnya ke Semenanjung Malaya, terdapat dua narasi yang menceritakan hal tersebut. Dalam Sejarah Melayu dikisahkan bahwa perpindahan tersebut adalah agenda yang sudah direncanakan sebelumnya. Namun, Suma Oriental menyebutkan kejadian tersebut adalah bentuk pelarian dari kemurkaan Majapahit. Dari keduanya, tampaklah jelas bahwa Sejarah Melayu merupakan dokumen sejarah tradisional yang ditulis oleh pujangga Kerajaan Malaka atas perintah otoritas berkuasa.

Dalam pertumbuhannya, Kerajaan Malaka sempat mengalami gempuran politik dari bangsa Siam yang ketika itu sedang mengembangkan emporium Ayutthaya. Tidak hanya Malaka, tetapi juga Kesultanan Pasai turun diserang. Agaknya, Siam memang mencoba menjatuhkan semua otoritas yang dianggapnya berpotensi menjadi kekuatan maritim dan mengalahkan kemasyuran Ayutthaya.

Akan tetapi, secara cepat Kerajaan Malaka tumbuh menjadi emporium maritim besar di Selat Malaka pada pertengahan abad ke-15. Kabar pelabuhan ekspor-impor baru ini terdengar hingga ke saudagar Muslim di India Selatan dan Kaisar Cina. Namun bagaimanapun, saudagar Muslim dari berbagai daerah di barat lebih banyak mengunjungi Pasai, sedangkan Cina ke Malaka.

Baca juga: Kesultanan Pasai: Kekuatan Ekonomi Maritim Baru dan Otoritas Islam Pertama di Sumatra

Selain itu, Kerajaan Malaka tampaknya juga lebih luwes dalam melakukan ekspansi ke derah-daerah pesisir timur Sumatra, daripada Pasai. Urusan hubungan pedagangan maritim Malaka dengan saudagar pantai timur Sumatra dikendalikan di bawah salah satu dari empat syahbandar khusus yang mengurusi hubungan luar “negeri”.

Dengan demikian, ketika Kerajaan Malayu yang dulu menguasai pantai timur Sumatra sudah runtuh, jalinan hubungan Minangkabau di dataran tinggi dengan pesisir tergantikan dengan kekuatan perdagangan maritim baru, yakni Kerajaan Malaka. Akan tetapi, Minangkabau tidaklah melakukan relasi langsung dengan Malaka, melainkan, kemungkinan, dijalankan melalui perantara saudagar di Palembang.

Relasi semacam ini, antara Malaka dan pusat perdagangan pantai timur Sumatra, terus berlangsung hingga penguasa Malaka berpindah memeluk Islam pada paruh abad ke-15. Kesultanan Malaka dalam hal ini memposisikan dirinya sebagai patron penyebaran Islam melalui berbagai bentuk pengaruh, seperti agama, bahasa Melayu, pakaian, tradisi, dll. Ambisinya tidak lain adalah menyaingi Pasai dan menjadi pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara.

Kemungkinan, percikan pengaruh Islam dari Kesultanan Malaka-lah yang pertama-tama sampai ke Minangkabau. Namun, apakah Islam dalam bentuk kultural, politik, atau teologis yang diterima Minangkabau dari Malaka? Untuk menjawab hal ini, tentu saya perlu melakukan pengamatan lebih lanjut.

Baca juga: Minangkabau dan Pesisir Timur Sumatra sebelum Islamisasi abad ke-14

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *