Kesultanan Pasai: Kekuatan Ekonomi Maritim Baru dan Otoritas Islam Pertama di Sumatra

Posted by

Dalam tulisan sebelumnya, kita melihat bahwa geliat ekonomi dan pusat kekuasaan politik wilayah Sumatra sampai abad ke-14 berada di pantai timur pulau ini. Namun, apakah memang satu-satunya otoritas besar di wilayah Sumatra hanya berada di sana? Kecenderungannya memang seperti itu. Penduduk di pedalaman Sumatra lebih umum hidup secara terpisah-pisah dalam komunitas kecil tanpa dominasi kerajaan besar masa itu. Selain itu, sisi pantai barat memang sudah lama hidup tanpa tekanan politik kuat, meskipun menjadi pelabuhan perdagangan komoditas kapur barus yang dikunjungi para saudagar Samudra Hindia.

Bagaimanapun, kita tidak boleh melupakan kemunculan kekuatan perdagangan maritim baru pada awal abad ke-14 di sisi utara pulau Sumatra. Hal ini bisa dirujuk pada catatan Ibnu Batutah yang tiba di Samudra (di dekat Lhokseumawe sekarang) pada 1323. Dituliskannya bahwa kesultanan ini (Pasai) sudah memiliki sistem pemerintahan yang rapi, relasi internasional yang kuat, membangun literasi Melayu kuno, dan membuat koin emas sendiri. Di Pasai inilah yang nantinya tumbuh menjadi pusat pengajaran Islam.

Selain itu, tanda-tanda keislaman Pasai paling mencolok terlihat dari peninggalan batu-batu nisan pemakaman Muslim di sana. Peninggalan corak Islam tersebut menarik banyak sarjanawan Barat untuk meneliti budaya material batu nisan untuk kuburan, di antaranya adalah Elizabeth Lambourn, Claude Guillot, dan Ludvik Kalus. Guillot dan Kalus, misalnya, berhasil membuat katalogisasi berserta interpretasi atas tampilan dan tulisan di atas batu nisan yang bertanggal 1400-1523.[1]

Kembali lagi mengenai latar belakang kemampuan Kerajaan Pasai berkembang menjadi kekuatan maritim baru, hal ini masih belumlah jelas bagi saya. Bahkan sampai akhir abad ke-13, menurut laporan perjalanan Marco Polo tahun 1292, pesisir Aceh hanya berisi kerajaan-kerajaan kecil. Daerah Samudra sendiri ketika itu masih belum menganut Islam, meskipun tetangganya, kerajaan kecil Perlak sudah bercorak Islam.

Kemungkinan perkembangan Kerajaan Pasai disebabkan kekayaan produksi komoditas sutra dan lada guna menunjang perdagangan maritim masa itu. Mengenai komoditas lada ini, pada abad ke-15 ia akan menjadi primadona dan alat untuk menguasai daerah-daerah lain di Sumatra. Walaupun tampil sebagai pemain utama dalam perdagangan di utara Sumatra, Pasai tidak pernah menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di sana, setidaknya sampai akhir abad ke-15.

Selanjutnya, pada abad ke-15 muncul juga kekuatan perdagangan baru di Malaka. Dengan Malaka, tampaknya Pasai juga tidak membangun relasi yang cukup serius. Kemungkinan ini dikarenakan perbedaan latar keagamaan di antara keduanya. Bisa dikatakan, Pasai adalah entitas kekuasaan yang pertama menganut Islam, sedangkan Minangkabau di sisi lain masih menjadi kerajaan bercorak Buddha yang berelasi dengan pantai timur Sumatra dan Malaka.

Dalam tulisan selanjutnya, saya akna mencoba membawakan bagaimana keadaan Aceh pada abad ke-16. Mengingat periode tersebut adalah masa-masa pengaruh Aceh dan Islam menyebar di Sumatra.


[1] R. Michael Feener, MAPPING THE ACEHNESE PAST, hlm. 3.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *