Keutamaan Menuntut Ilmu

Posted by

Islam sangat menekankan kepada Muslim agar giat menuntut ilmu, karena dengan ilmu seseorang akan dapat menunaikan tugas-tugas dengan baik dan benar. Orang yang mengetahui tidak sama dengan orang yang tidak mengetahui; orang yang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu. Allah swt berfirman dalam Alquran,

Apakah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya (sama dengan yang durhaka)? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang dapat menarik pelajaran hanyalah ulul albab (orang yang berakal bersih, murni, dan cerah). (QS Az-Zumar/39:9).

Perintah membaca dalam Alquran adalah identik dengan perintah menuntut ilmu. Perintah menuntut ilmu menunjukkan arti penting ilmu. Allah swt berfirman dalam Alquran,

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan kalam. Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al-‘Alaq/96:1-5).

Di dalam ayat-ayat yang lain Allah swt berfirman,

Tuhan Yang Maha Pemurah. Dia mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia.  Mengajarnya berbicara, menjelaskan dengan kata-kata. (QS ASr-Rahman/55:1-4).

Allah mengajari Adam nama-nama benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat, lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu sekalian benar!” (QS Al-Baqarah/2:31).

Allah swt meninggikan derajat orang-orang yang beriman lagi berpengetahuan luas.

Wahai orang-orang beriman, apabila kamu dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majlis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan melapangkan untukmu, dan apabila dikatakan, “Berdirilah, “ maka berdirilah. Allah niscaya akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mujadilah/58:11).

Dengan ilmu hidup menjadi mudah. Dengan seni hidup menjadi indah. Dengan agama hidup menjadi terarah. Siapa yang ingin hidupnya mudah, indah, dan terarah hendaklah menjunjung tinggi dan merengkuh ilmu, seni, dan agama.

Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah.” Siapa yang menghendaki kebaikan dunia, hendaklah dengan ilmu; barang siapa menghendaki kebaikan akhirat hendaklah dengan ilmu; barang siapa menghendaki kebaikan keduanya hendaklah dengan ilmu.

 Pada suatu hari Shafwan ibn Assal al-Muradi menghadap Nabi di Masjid dan berkata. “Wahai Rasul, saya datang untuk menuntut ilmu.” Nabi menjawab, “Selamat datang, wahai penuntut ilmu! Sungguh, malaikat turun mendoakan para penuntut ilmu dengan melebarkan sayap-sayapnya, bersama-sama mengelilinginya, sampai mereka mencapai langit pertama, karena cintanya terhadap apa yang dicari orang itu. (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim).

Seorang muslim hendaklah menjadi pengajar atau penuntut ilmu. Allah swt berpesan dalam Alquran, …katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS Thaha/20:114).

Orang bijak berkata bahwa ilmu itu seperti air; ada yang turun dari atas dan ada yang keluar dari bawah. Orang beriman niscaya mensyukuri anugerah Allah swt berupa pendengaran, penglihatan, dan hati untuk menggapai ilmu, pengetahuan, dan kebenaran. (QS An-Nahl/16:78).

Allah swt mengutuk orang-orang yang tidak mau menggunakan mata untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, menggunakan telinga untuk mendengar petunjuk-petunjuk Allah, dan menggunakan hati untuk memahami ayat-ayat Allah swt. (QS Al-A’raf/7:179).

Apresiasi Allah swt terhadap proses mencari ilmu dinarasikan dalam kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Musa sebagai berikut.

Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan Kami di langit dan bumi agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku,” tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata, “Saya tidak suka mempertuhan yang tenggelam.” Tatkala melihat bulan terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku,” tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian ia melihat matahari terbit, dan berkata, “Inilah Tuhanku; ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukan termasuk orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS Al-An’am/6:75-79).

Murid Nabi Musa berkata, “Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi, sungguh, aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang menjadikan aku lupa untuk menceritakannya kecuali setan dan. Ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara menakjubkan. Musa berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu, keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. Kemudian mereka bertemu dengan seorang hamba di antara para hamba Kami, yang telah Kami anugerahi rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidhr, “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku. Bagaimana kamu sanggup bersabar atas sesuatu yang belum kamu ketahui tentang hal itu?” Musa berkata, “Insya Allah kamu akan mendapatiku sabar, dan tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.” Dia berkata, “Jika kamu mengikutiku, janganlah bertanya kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu.” (QS Al-Kahfi/18:63-70).

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata, “Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akan menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Khidhr berkata, “Bukankah aku telah berkata, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku.” Musa berkata, “Janganlah menghukum aku karena lupa dan janganlah membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.” Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala berjumpa dengan seorang anak, Khidhr membunuhnya. Musa berkata, “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.” Khidhr berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” Musa berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini, janganlah kamu bolehkan aku menyertaimu. Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan maaf padaku.” Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu, tetapi mereka tidak mau menjamu keduanya. Kemudian mereka berdua mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh, lalu Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata, “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” Khidhr berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan yang kamu tak dapat sabar terhadapnya.” (QS Al-Kahfi/18:71-78).

Para pendahulu kita tak pernah berhenti meningkatkan pengetahuan sampai akhir hayat. Pengetahuan akan berkembang jika dikaji secara aktif, dan akan layu dan mati jika diabaikan dan ditinggalkan. Pendidikan kalbu tidak kalah penting daripada pendidikan akal.

Imam ibnu Abdul Barr meriwayatkan bahwa Ibn Abi Ghassan berkata. “Selama kamu menuntut ilmu, kamu berpengetahuan; begitu kamu berhenti, kamu menjadi bodoh.”

Imam Malik berkata, “Tak seorang pun yang berilmu akan berhenti menuntut ilmu.”

Imam Abu Amr ibn al-A’la ditanya, “Berapa lama waktu yang diperlukan bagi seseorang untuk menuntut ilmu ?” Dia menjawab, “Selama dia hidup.”

Seseorang bertanya kepada Imam Sufyan ibnu Uyainah, ”Siapakah orang yang paling membutuhkan ilmu pengetahuan?” Jawabnya, “Orang yang paling banyak ilmunya.” “Mengapa?” “Sebab jika dia membuat kesalahan akibatnya lebih buruk.”

Orang yang menuntut ilmu lebih dekat kepada Allah dan ridha-Nya. Yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah mereka yang berpengetahuan. (QS 35:28).

Rasulullah saw masuk masjid dan menemukan dua kelompok majelis di dalamnya: majelis dzikir, dan majelis ilmu. Rasulullah saw bersabda, “Kedua majelis ini baik, tetapi aku lebih menyenangi salah satu daripada yang lain. Majelis pertama orang-orang yang berdzikir dan memohon kepada Allah; Allah mungkin mengabulkan doa mereka atau menolaknya. Majelis kedua orang-orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan saya sendiri diutus sebagai guru.” Lalu Rasulullah saw duduk di majelis ilmu. (Abdullah ibn Umar ra).  

Ilmu itu adalah tenaga

Tanpa ilmu tiada berdaya

Barang siapa rajin membaca

Jendela dunia akan terbuka

Ilmu itu harta abadi

Tak mungkin dapat dicuri

Menuntut ilmu jangan berhenti

Karena ilmuwan berderajat tinggi

Di masa muda malas belajar

Di hari tua hidup terlantar

Menuntut ilmu baru berakhir

Jika nyawa sudah menyingkir

(H. Sulaiman Yusuf)

Dasar kemanusiaan seseorang adalah akalnya; dasar kemuliaannya adalah agamanya; dasar harga dirinya adalah akhlaqnya. (Umar bin Khaththab).

Kejarlah ilmu, karena dengan ilmu Anda dapat hidup selama-lamanya. Manusia pasti mati, tetapi orang yang berilmu tetap hidup. (Ali bin Abu Thalib).

Siapa yang rendah hati karena ilmunya, Allah memuliakannya dengannya. Ilmu itu ada tiga jengkal. Siapa yang menguasai satu jengkal akan sombong dan angkuh serta menduga telah berilmu. Siapa yang menguasai dua jengkal ia rendah hati dan mengetahui bahwa ia belum berilmu. Adapun jengkal ketiga hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. (Asy-Sya’bi).

Selayaknya manusia tidak sombong dalam bidang yang dikuasainya, dan tidak pula berpura-pura mampu dalam bidang yang tidak dikuasainya. (Al-Mawardi).

Membaca itu memperkaya perbendaharaan jiwa, oleh karena itu sangat membahagiakan. (Goethe).

Hati akan mati bila tak berhasrat kepada ilmu pengetahuan. (Fathul Mausuli).

Kehebatan daya cipta adalah berkat rajin membaca, hingga kekayaan dan kebahagiaan yang berupa apa pun dapat dicapai oleh manusia yang banyak pengetahuannya. (Bernard Shaw).

Hanya orang yang halus perasaannya keindahan dan rahasia alam ini dibukakan Tuhan untuknya. Kehidupan adalah kitab yang indah, tetapi tidak bermanfaat bagi orang yang tidak membacanya.[]

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *