KH. AR Fachruddin: Jejak Bijak Sang Pemimpin Ideal

Posted by

Abdur Rozak Fachruddin—untuk selanjutnya dituliskan ‘A.R.’—bukan ulama biasa. Ia selalu berhasil membantu umat menyelesaikan ragam permasalahannya. Tidak semua permasalahan dijawabnya dengan dalil yang disertai ayat dan tafsir, matan hadis, hingga syarah atau penjelasannya. A.R. justru menjawab permasalahan-permasalahan itu dengan bahasan yang ringan-ringan saja. Tak jarang solusi itu justru ditemukan dalam obrolan ringan di warung makan atau guyonan di sela rapat organisasi. A.R. sadar bahwa umat Islam tidak hanya membutuhkan dai yang cuma pandai dan paham soal ajaran Islam, tapi lebih membutuhkan teman diskusi yang mampu memberi penjelasan tentang Islam yang mudah diterima awam.

Jika AR. masih aktif berdakwah di zaman ini, mungkin ia akan menjadi salah satu penceramah idola para netizen. Dakwahnya yang ‘empuk’ itu sukses merambah wilayah yang sangat luas. Kepiawaiannya menyampaikan risalah agama dengan kemasan populer itulah yang akhirnya membawa A.R menjadi ‘bintang televisi’—media paling bergengsi dan berpengaruh pada era prainternet. Ia juga punya banyak ‘follower’. Mungkin statsunya hampir sama dengan ustadz-ustadz zaman now yang rajin tampil di media sosial. Tapi, tentu saja materi dan kemasan dakwah AR. ‘lebih moderat dan masuk akal’.

Abdur Rozak Fachruddin merupakan seorang dai, muballigh, dan tokoh Islam yang sangat istimewa. Istimewa bila dilihat dari aspek pendekatan kulturalnya, yang mana metode itulah yang membuat dakwahnya berhasil menyentuh semua komponen masyarakat. AR. juga merupakan individu yang langka bila dilihat dari aspek pribadinya yang bersahaja, sumeleh[1], dan wara[2].[3] A.R. adalah sosok yang sangat sederhana. Tutur katanya lembut dan santun. Ia gemar berbuat baik kepada siapa saja—tidak hanya baik kepada sesama manusia, tapi juga welas asih terhadap semua makhluk ciptaan Gusti Allah.[4]

Dari garis silsilah, A.R. adalah keturunan ulama besar. Maka, tidak heran jika dia tumbuh menjadi ulama. Ayahnya, Kiai Haji Fachruddin, adalah putra Kiai Syahid[5] bin Kiai Istad Sepuh[6]—seorang ulama kharismatik yang menyebarkan ajaran Islam di Desa Banaran, Galur, Kulon Progo. Sebagaimana leluhurnya, Kiai Fachruddin besar dan tumbuh dalam pendidikan agama Islam yang sangat ketat, sehingga menjadikannya sebagai muballigh yang sangat berpengaruh di kampung halamannya. Sewaktu muda dia pernah belajar agama di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur.[7]

Karena keilmuan Kiai Fachruddin yang sangat luas dan mendalam tentang Islam, Gusti Wakil—pelaksana tugas pemerintahan di Kadipaten Puro Pakualaman—mengangkatnya menjadi salah seorang penghulu di Kadipaten Puro Pakualaman. Kiai Fachruddin diangkat oleh Gusti Wakil karena KGPAA. Paku Alam VIII—yang berhak menjalankan roda pemerintahan, juga yang berwenang mengangkat seorang penghulu di Masjid Agung Pakualaman—masih sangat kecil. Kiai Fachruddin dipilih karena dia dinilai sebagai seorang yang fakih dalam agama, dan juga karena ia bermukim di wilayah Banaran. Saat itu, Banaran termasuk wilayah Adikarto, yang merupakan daerah kekuasaan Kadipaten Puro Pakualaman. Setelah jadi penghulu, Kiai Fachruddin lebih dikenal dengan nama Kiai Imam Pura. Dia juga menjalankan tugas sebagai imam shalat di Masjid Agung Puro Pakualaman.[8]

Menurut catatan sejarah, kakek Kiai Fachruddin, Kiai Istad Sepuh bin Kiai Mubarok bin Kiai Jauhar Miskin, merupakan salah seorang pengikut setia Pangeran Diponegoro. Kiai Istad adalah salah satu pejuang yang gigih membantu perjuangan Sang Pangeran di Kulon Progo. Ketika Pangeran Diponegoro ditangkap Jenderal De Kock di Magelang, pada tanggal 28 Maret 1830, dan diasingkan ke luar Jawa, Kiai Istad turut menjadi buronan kolonial.

Kiai Istad Sepuh membawa keluarganya bersembunyi ke Desa Banaran. Di desa ini dia meneruskan perjuangan orangtuanya, Kiai Jauhar Miskin, mensyiarkan Islam kepada masyarakat. Kiai Jauhar Miskin sendiri adalah putra dari Kiai Saridin atau Kiai Landoh, yang bergelar Syaikh Jangkung—putra Syaikh Abdur Karim atau Sultan Cirebon III. Setelah wafat, jasad Kiai Jauhar Miskin dimakamkan di sebelah barat Masjid Banaran, Galur, Kulon Progo.[9] Bila melihat latar keluarganya yang membawa darah ulama besar di tanah Jawa, tak heran jika di kemudian hari A.R. tumbuh menjadi ulama besar dan pemimpin umat yang sangat dihormati.

Abdur Rozak sendiri lahir di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta, pada 14 Februari 1916. Kiai Fachruddin mengharapkan anaknya yang lahir dari istri keduanya itu tumbuh menjadi ulama besar dan memiliki pengaruh di negeri ini. “Sejak Pak AR. kecil, Kiai Fachruddin sudah bercita-cita agar anaknya itu kelak menjadi ulama seperti dirinya,” kata Sukriyanto, putra AR. Fachruddin.[10]

A.R. juga membawa darah ulama dari garis ibu. Siti Maemunah, ibunya, adalah putra Kiai Haji Idris, seorang Penghulu di Kadipaten Puro Pakualaman di masa pemerintahan KGPAA. Paku Alam VII. Kiai Idris adalah putra Kiai Mukhtar, seorang Penghulu Puro Pakualaman di masa pemerintahan KGPAA. Paku Alam VI. Kiai Mukhtar adalah putra Kiai Khamdani, ulama penyebar Islam yang sangat berpengaruh di wilayah Kaliyoso, tidak jauh dari Kota Surakarta[11]. Kiai Khamdani merupakan putra bungsu dari Kerti Menggolo atau Nitimenggolo I, seorang keturunan Kiai Abdur Jalal Awwal, penguasa perdikan Kaliyoso[12].[13]

Siti Maemunah menikah dengan Kiai Fachruddin sebagai seorang janda. Dia terpaksa berpisah dengan suaminya, Haji Muh—seorang penguasaha batik yang cukup sukses di Yogyakarta.[14]. Menurut Suratmin, penulis buku Pak AR. Mubaligh Ndeso, perceraian Haji Muh dan Siti Maemunah berawal dari perkara yang bisa dikatakan sepele. Layaknya perempuan Jawa pada masa itu, Siti Maemunah gemar sekali mengunyah sirih dengan susur tembakau[15]. Kebiasaan itu rupanya tidak disukai oleh orangtua Haji Muh. Pada suatu hari, ibu mertua Siti Maemunah melihat ada susur tembakau di bawah tempat tidur anaknya. Itu membuat sang ibu mertua tersinggung dan merasa malu punya menantu yang gemar mengunyah sirih—perilaku yang dinilai tidak lazim dilakukan kalangan ningrat. Keluarga Haji Muh adalah trah bangsawan. Lantaran kejadian itu, ibu Haji Muh meminta agar anaknya menceraikan Siti Maemunah.[16]

Menurut Sukriyanto, setelah bercerai dengan Haji Muh, Siti Maemunah tinggal bersama orangtuanya di sebuah rumah yang berada di selatan Masjid Kauman, Pakualaman. Tidak lama setelah Siti Maemunah bercerai, Kiai Idris melihat ada penghulu baru yang memiliki kepribadian sangat baik di Masjid Kauman Pakualaman—yang tak lain adalah Kiai Fachruddin. Kiai Idris melihatnya sebagai ulama muda yang cerdas dan luas pengetahuan agamanya. Setelah semakin lama bergaul, Kiai Idris makin yakin jika Kiai Fachruddin adalah seorang yang sangat sederhana dan ramah kepada siapa saja.  

Lama-lama hubungan antara Kiai Idris dan Kiai Fachruddin semakin dekat. Kepribadian Kiai Fachruddin rupanya membuat Kiai Idris tertarik untuk mengambilnya jadi mantu. Kiai Idris ingin Maemunah menikah dengan Kiai Imam Pura itu. Meski Kiai Fachruddin sempat menolak dengan halus—karena ia sudah punya istri yang tinggal di kampung, dan sudah punya banyak anak—tapi Kiai Idris berkukuh menginginkannya jadi mantu. Kiai Idris juga tidak keberatan jika anaknya dijadikan istri kedua. Siti Maemunah pun setuju dengan rencana orangtuanya. Akhirnya, Kiai Fachruddin menikahi Siti Maemunah dan dikarunia sepuluh orang anak[17], yang salah satunya diberi nama Abdur Rozak.[18]

Sebelum menikah dengan Siti Maemunah, Kiai Fachruddin sudah menikah dengan Nyai Tupiah. Ketika Kiai Fachruddin diminta menjadi penghulu di Kadipaten Puro Pakualaman, Nyai Tupiah tidak mau ikut hijrah ke kota dengan alasan jauh dan repot mengurus anak yang masih kecil dan banyak. Ketika hendak menikahi Siti Maemunah, Kiai Fachruddin minta izin dulu kepada istri pertamanya itu. Nyai Tupinah mengizinkan. Maka, ketika Kiai Fachruddin harus kembali ke Bleberan, Banaran, Galur, Kulon Progo, pada tahun 1926, karena sudah tidak lagi menjadi penghulu dan usaha dagangnya di kota bangkrut, Nyai Tupiah menerima kedatangannya dan istri keduanya dengan senang hati. Mereka hidup rukun. Kiai Fachruddin mampu membawa istri keduanya bersatu dengan istri pertama dan anak-anaknya yang lain.

Di kampung, Kiai Fachruddin kembali aktif mengisi pengajian-pengajian. Dia kembali menyemarakkan kegiatan keagamaan dan dakwah Islam di Bleberan, Banaran, dan sekitarnya. Kiai Fachruddin tidak pernah absen dari kegiatan dakwah, karena sejak kecil dia memang bercita-cita ingin meneruskan perjuangan orangtuanya: Menggerakkan dan menggairahkan dakwah Islam di manapun ia berada.

Setelah Kiai Syahid tidak ada, Kiai Fachruddinlah yang bertanggung jawab melanjutkan syiar Islam di daerah Galur dan sekitarnya—bersama-sama dengan Kiai Abdullah Rasyad, Kiai Abu Amar, dan kiai-kiai lain di Bleberan. Putranya, Abdur Rozak, dititipkan kepada anaknya yang lain, Zuhriyah Karso—atau kakak Abdur Rozak—di Kotagede agar tetap bisa melanjutkan sekolah. Kiai Fachruddin berpesan kepada Zuhriyah agar merawat adiknya sebaik-baiknya. Abdur Rozak harus tetap sekolah karena Kiai Fachruddin ingin mewujudkan impian dan cita-citanya menjadikan anak itu sebagai ulama besar.

“Dengan menelusuri latar belakang keluarga dan leluhurnya, dapatlah diketahui jika Pak AR. mewarisi darah ulama, baik dari jalur Ayah maupun Ibu. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika dikemudian hari Pak AR. tumbuh menjadi ulama besar yang sangat dekat dengan umat. Sosok pemimpin yang mencintai dan dicintai oleh masyarakat, serta dipercaya memimpin Persyarikatan Muhammadiyah selama lebih kurang 22 tahun,” tulis Sukriyanto di buku Biografi Pak A.R.[19] []


[1][1]         Dalam bahasa Jawa, sumeleh berasal dari kata “seleh” yang artinya melepaskan atau meletakkan. Makna sumeleh hampir sama artinya dengan sareh yang memiliki kata dasar “sare” atau tidur. Jadi, kata sumeleh dan sare menurut bahasa Jawa berarti perasaan hati untuk menerima segala yang terjadi pada dirinya dengan ikhlas, menjalani kehidupan tanpa beban dan memasrahkannya hanya kepada Gusti Allah.

[2]           Secara bahasa, wara’ berarti tindakan untuk menghindarkan diri dari berbagai perbuatan dosa dan menjauhi hal-hal yang tidak baik. Wara juga bisa diartikan sebagai bentuk kehati-hatian untuk menghindari sesuatu yang belum jelas hukumnya, antara halal dan haram.

[3]           Lihat: H. Amidan dalam tulisan berjudul, “ Pak A.R. Dai Semua Umat” untuk pengantar buku Syaefuddin Simon, “Pak A.R. Sang Penyejuk”. Hlm, XI.

[4]           Wawancara dengan Sukriyanto A.R. pada 18 September 2019.

[5]           Kiai Syahid memiliki delapan putra, yang secara berurutan bernama, (1) Kiai Syafii (sopingi), tinggal di Wonokromo, (2) Nyai Ilyas—yang kemudian ikut tinggal bersama suaminya, Kiai Ilyas, di Wonokromo, (3) Kiai Fachruddin, ayah Pak A.R. yang tinggal di Banaran, (4) Nyai Abdullah Fakih, (5)  M. Romli, tinggal di Giriloyo, Imogiri, (6) M. Bachri, (7) Nyai Dahlan, tinggal di Kotagede, dan (8) Kiai Abdullah Anwar, tinggal di Kauman, Pijenan, Gesikan, Bantul. Lihat: Sukriyanto. 2017. Biografi Pak AR. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Hlm, 12.

[6]           Disebut Kiai Istad Sepuh karena memiliki menantu yang namanya sama, sehingga sang menantu kemudian dikenal dengan panggilan Kiai Istad Enem. Kiai Istad Sepuh tinggal di Banaran, Kulon Progo, sementara menantunya, Kiai Istad Enem tinggal di Wonokromo. Semasa muda, Kiai Istad Enem ini dikenal sebagai seorang jawara. Kiai Istad Enem adalah suami Nyai Halimah—putri pertama Kiai Istad Sepuh. Putra-putri Kiai Istad Sepuh ada 9 orang, yang secara berurutan bernama, (1) Nyai Halimah, (2) Kiai Syahid, (3) Kiai Syihab, (4) Kiai Imam Ahmad, (5) Kiai Imam Musthafa, (6) Kiai Syafii, (7) Kiai Ngidi, (8) Nyai Rofii, dan (9) Kiai Imam Fakih. Lihat: Sukriyanto. 2017. Biografi Pak AR. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Hlm, 12.

[7]           Wawancara dengan Sukriyanto pada 30 Oktober 2019.

[8]           Sukriyanto AR. Biografi Pak AR: KH. Abdur Rozak Fachruddin. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Hlm, 11.

[9]           Ibid. Hlm, 12.

[10]         Ibid. Wawancara.

[11]         Menurut Sukriyanto AR, Kiai Khamdani wafat dan dimakamkan di daerah Rujak Gadung, Pasuruhan, Jawa Timur. Lihat: Sukriyanto AR. Biografi Pak AR: KH. Abdur Rozak Fachruddin. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Hlm, 13.

[12]         Wilayah Kaliyoso merupakan daerah perdikan yang diberikan penguasa Kasunanan Surakarta kepada Kiai Abdur Jalal Awwal. Seiring waktu, daerah ini berkembang menjadi daerah pesantren dan termasuk daerah yang menjadi Pathok Nagara Kasunanan Surakarta.

[13]         Sukriyanto AR. Biografi Pak AR: KH. Abdur Rozak Fachruddin. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Hlm, 13

[14]         Menurut Sukriyanto, pernikahan Siti Maemunah dengan Haji Muh melahirkan dua anak perempuan bernama Siti Wagiyah dan Siti Asmah. Siti Wagiyah meninggal saat masih remaja. Setelah dewasa, Siti Asmah menikah dengan Haji Tamim Dari bin Haji Djafar dari Kauman, Yogyakarta. buah pernikahan mereka melahirkan tiga anak, yaitu Muhammad Daris Tamim, Muhammad Djindar Tamimy, dan Siti Baroroh Baried. Ibid. Wawancara.

[15]         Di Jawa makan sirih dengan susur tembakau dan diberi sedikit campuran gamping (injet) ini biasa dikenal dengan istilah nginang.

[16]         Drs. Suratmin. 2010. Pak A.R. Muballigh Ndeso. Yogyakarta: Penerbit Ar-Rahmah. Hlm, 2.

[17]         Menurut Sukriyanto, Kiai Fachruddin dan Siti Maemunah dikaruniai sepuluh orang anak, yaitu (1) Siti Waqi’ah, yang kemudian menikah dengan Abdur Kadir dan tinggal di Blawong, Gondowulung, Yogyakarta, (2) Siti Umi Rahmah, yang kemudian menikah dengan Haji Dalhar dan kemudian tinggal di Kedung Bule, Trimurti, Srandakan, Bantul, (3) Zuhriyah atau Nyai Karso, semula tinggal di Kotagede dan setelah Kiai Karso meninggal pulang kembali ke Banaran dan kemudian menikah dengan Haji Daerobi, (4)Badingah, meninggal saat masih kecil, (5) Slamet, meninggal saat masih kecil, (6) Abdur Rozak, yang kemudian dikenal dengan nama Pak AR, (7) Dja’far, meninggal saat masih kecil, (8) Hadi, meninggal saat masih kanak-kanak, (9) Rowani, meninggal saat masih kanak-kanak, dan (10) Lukman, yang setelah dewasa berganti nama menjadi Zaenuddin. Lihat: Suriyanto AR. 2017. Biografi Pak AR: KH. Abdur Rozak Fachruddin. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Hlm, 15.

[18]         Ibid. Wawancara.

[19]         Sukriyanto AR. 2017. Biografi Pak AR: KH. Abdur Rozak Fachruddin. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Hlm, 16.

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *