KH. Sunardi Syahuri: Bapak Umat yang Bersahaja

Posted by

Sunardi Syahuri lahir di Kampung Bendosari pada tanggal 25 Oktober 1952. Bendosari adalah salah satu padukuhan di wilayah Desa Sumbersari, Moyudan, Sleman. Sejak sebelum tahun lima puluhan, padukuhan ini tengah mengembangkan usaha tenun tanpa mesin yang memproduksi stagen, handuk, bengkung, dan kain lap. Hasil usaha tenun tersebut kemudian dijual hingga keluar wilayah Sumbersari dan bahkan sampai ke Pasar Beringharjo yang berada di pusat kota Yogyakarta. Orangtua Sunardi termasuk satu di antara penduduk Bendosari yang menjalankan usaha ini. Bahkan, usaha mereka terbilang sukses karena mereka memiliki 20 ATBM[1] dan mempekerjakan tak kurang dari 30 karyawan.

Sunardi adalah anak pertama dari lima bersaudara. Bapaknya, Syahuri[2], adalah seorang yang memiliki kedudukan cukup terpandang di kampungnya. Laki-laki kelahiran Padukuhan Sangubanyu ini dikenal sebagai seorang guru ngaji yang sangat fasih karena semasa mudanya pernah menimba ilmu agama kepada Kyai Qomari di Dusun Ngebong, Mororejo, Tempel. Selain itu, Syahuri juga dikenal sangat dermawan. Meski terbilang hidup mapan di lingkungan masyarakatnya, tapi hal itu tidak membuatnya menjadi sombong dan bakhil. Sepanjang hidupnya, ia tak pernah merasa enggan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Jika ada tetangga yang sedang kesusahan, ia akan memberikan bantuan tanpa diminta, baik secara materi maupun non-materi.

Ibunya bernama Paerah[3]. Seorang wanita energik yang berasal dari Padukuhan Ngaglik, Sumbersari, Moyudan. Seperti bapaknya, sang ibu juga dikenal sangat baik dan mudah bergaul dengan orang lain. Selain ramah dan santun, gaya hidupnya sangat bersahaja. Meski hidup cukup, ia tak lantas menghambur-hamburkan hartanya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Ia lebih suka hidup hemat dan menggunakan uang yang dimiliki untuk membeli sawah dan emas sebagai tabungan masa depan. Paerah juga dikenal sebagai wanita yang suka berbagi. Jika ada saudara atau tetangga yang perlu pertolongan, maka ia akan dengan segera memberikan bantuan sebelum diminta.

Syahuri berusia 22 tahun ketika menikah dengan Paerah. Adapun Paerah sendiri masih berusia 16 tahun saat diminta oleh orangtuanya untuk menikah pada tahun 1949. Setelah menikah, mereka tinggal di rumah milik Pawiro Taruno, orangtua Syahuri, di Bendosari. Di padukuhan inilah mereka membangun rumah tangga, sekaligus merintis usaha. Seiring berjalannya waktu, Syahuri dan istri hidup berkecukupan dari hasil pertanian dan usaha tenun yang dijalankannya. Harta kekayaan kelurga meliputi rumah tinggal yang juga dijadikan sebagai tempat usaha dan lahan pertanian yang cukup luas.

Setelah tiga tahun menikah, mereka baru dikarunia seorang putra. Syahuri dan Paerah tak putus-putusnya memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah Ta’ala atas kelahiran Sunardi. Mereka benar-benar bahagia karena anak pertamanya berjenis kelamin laki-laki, persis seperti apa yang mereka inginkan. Seiring waktu, Sunardi tumbuh menjadi anak yang sangat sehat dan menyenangkan hati kedua orangtuanya. Dari hari ke hari, bayi Sunardi tumbuh sehat dalam asuhan kedua orangtuanya yang penuh cinta dan sangat penyayang.

Di usianya yang memasuki enam tahun, Sunardi menjelma menjadi bocah yang lincah dan pandai bergaul dengan siapa saja. Banyak kerabat dan tetangga yang menilai jika Sunardi adalah bocah yang cakap dan cerdas jika dibandingkan dengan bocah-bocah lain seumurannya. Pujian itu tentu saja membuat hati kedua orangtuanya merasa bangga, dan membuat mereka bertekad untuk mendidik Sunardi dengan pendidikan yang sebaik-baiknya.

Sunardi memiliki empat saudara kandung. Secara berurutan, mereka bernama Sri Suryati, Nuryati, Samsuhadi, dan Rismanhadi. Masa kecil Sunardi dihabiskan di kampung halamannya. Dia tumbuh dilingkungan keluarga yang menitikberatkan pada ajaran agama sebagai pedoman hidup. Sejak kecil, dia sudah didik untuk mengenal agama secara serius. Jika anak-anak seusianya dibiarkan bermain sampai larut oleh kedua orangtuanya, hal itu tidak berlaku bagi Sunardi dan adik-adiknya. Setelah azan maghrib berkumandang, mereka harus bersiap-siap untuk berangkat ke rumah kakeknya di Padukuhan Sangubanyu untuk mengaji sampai sehabis shalat Isya.

Sebagai orangtua, Syahuri ingin membekali anak-anaknya dengan pendidikan agama sejak dini agar anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh dan tidak mudah terjerus ke dalam hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Selain itu, dia juga ingin agar anak-anak itu kelak bisa tumbuh menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, khususnya dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar.

Pada tahun 1958, Sunardi berusia enam tahun. Kedua orangtuanya memasukkan anak pertamanya itu ke Sekolah Rakyat (SR) milik Persyarikatan Muhammadiyah yang berlokasi di Padukuhan Kedung Banteng, tak jauh dari rumahnya. Ketika Sunardi tamat SR pada tahun 1964, orangtuanya langsung mendaftarkan Sunardi ke Madrasah Muallimin, Yogyakarta. Sejak dinyatakan diterima di Muallimin, Yogyakarta, Sunardi bertekad untuk belajar dengan sebaik-baiknya. Hal itu karena orangtuanya selalu memberi pesan agar ia semakin semangat belajar dan tekun mempelajari agama. Dengan menempuh pendidikan di Muallimin, Sunardi berharap dapat meneruskan cita-cita perjuangan dakwah Kyai Dahlan. Bertabligh untuk mensyiarkan Islam kepada masyarakat.

Yang menonjol pada diri Sunardi ketika masih duduk di bangku Muallimin adalah kemauan, semangat, dan keberaniannya berbicara di depan orang. Tanpa merasa takut, apalagi minder, Sunardi mampu berbicara dengan fasih dihadapan teman-temannya untuk mengemukakan pendapatnya mengenai suatu persoalan. Baik yang ada kaitannya dengan mata pelajaran di sekolah maupun masalah-masalah yang ada hubungannya dengan ilmu agama. Kebiasaan Sunardi berbicara dihadapan teman-temannya itulah yang kemudian semakin mengobarkan harapannya untuk menjadi seorang mubaligh. Sejak saat itu, Sunardi semakin terbiasa memberi ceramah-ceramah agama. Tidak hanya di lingkungan Muallimin, tapi juga di kampung-kampung yang ada di Yogyakarta. Bahkan, sebagai siswa Muallimin, Sunardi dikenal sebagai anak yang cerdas dan pandai ilmu agama oleh orang-orang di kampung halamannya.

Kiprah dakwah yang di bangun Sunardi sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah pada akhirnya membawanya menjadi seorang mubaligh terkenal. Sikapnya yang sopan, perangainya yang santun, cara dakwahnya yang lembut dan tidak terkesan menggurui membuatnya menjadi seorang dai yang sangat dicintai. Sebagai seorang mubaligh, Sunardi selalu siap memberikan ceramah agama kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa saja. Sejak kecil, dirinya sudah terbiasa memenuhi permintaan untuk mengisi pengajian di daerah-daerah yang ada di pusat kota Yogyakarta. Meski begitu, ia tidak pernah menolak saat diminta untuk memberikan ceramah di masjid-masjid yang terletak di pelosok-pelosok desa.

Sejak masih menjadi seorang dai muda, Sunardi sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memanfaatkan seluruh umur yang masih tersisa untuk berdakwah. Mensyiarkan agama Islam kepada siapa saja. Terus berjuang untuk meninggikan kalimat Allah Azza wa Jalla. Hal tersebut menunjukkan bahwa ternyata Sunardi adalah seorang dai yang sejati. Ia bersedia memenuhi undangan siapa saja, tanpa pilah-pilih. Cara dakwahnya pada orang-orang yang berada di kalangan atas, sama dengan cara dakwahnya kepada rakyat kecil yang tinggal di desa-desa terpencil. Merangkul, bukan memukul. Ia bersedia memberikan ceramah di masjid-masjid besar, tapi juga tidak pernah merasa berat memberikan siraman rohani di langgar-langgar kecil yang berada di tepi sawah. Itulah komitmen dakwah yang dipegang Sunardi sejak masih berusia muda dan tetap dipertahankannya hingga wafat pada Minggu Kliwon, 11 November 2018 tepat pukul 16.38 Wib di Rumah Sakit JIH.

* * *

Itulah sedikit yang saya tahu tentang sosok Pak Nardi. Beliau bukan dai sembarangan, karena nama besarnya sudah dikenal oleh hampir seluruh masyarakat di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Tidak hanya dikenal sebagai mubaligh yang berceramah di desa-desa, tapi Pak Nardi juga dikenal sebagai Bapak para aktivis dakwah di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Beliau-lah sumber inspirasi kaum muda dan umat Islam secara keseluruhan dalam menggerakkan dan menggairahkan dakwah Islam. beliau pula yang membidani lahirnya sekolah-sekolah Islam, sekaligus menjadi orang yang paling depan dalam membela marwah Islam ketika ada yang berusaha menghina dan mengolok-olok ad-Diinul Islam ini.

Pak Nardi adalah seorang dai, ulama, mubaligh yang berhasil mempersatukan umat Islam yang ada di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Beliau juga dikenal sebagai sosok teladan yang ikhlas berdakwah dan berjuang di Jalan Allah Azza wa Jalla, sekaligus sangat dermawan dalam memajukan kegiatan dakwah di seluruh wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Bahkan, semua orang tahu bahwa Pak Nardi adalah orang yang tidak akan pernah bisa tinggal diam ketika melihat umat Islam sedang mengalami permasalahan atau ada pihak-pihak tertentu yang berusaha menekan dan merendahkan.

Selain itu, Pak Nardi juga dikenal sebagai dai dan ulama yang sangat sederhana hidupnya. Beliau bersedia datang menghadiri undangan para jamaah diberbagai daerah, bahkan hingga ke pelosok-pelosok desa, dengan cara datang sendiri. Beliau hadir tanpa bersedia dijemput oleh panitia dan tidak bersedia menerima amplop atau honor, apalagi diperlakukan dengan jamuan istimewa oleh panitia. Pak Nardi juga dikenal sebagai pribadi yang sangat santun, ramah, murah senyum, dan bersikap hangat kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang tidak dikenal secara pribadi sekalipun. Meski lelah dan payah atau sedang menghadapi masalah, tapi Pak Nardi tetap berusaha tersenyum. Rasa cinta beliau yang besar kepada Islam dan umat Islam ditunjukkan Pak Nardi hingga akhir hayatnya.

Hari ini, Pak Nardi sudah tidak ada di sisi kita. Beliau sudah tenang di sisi-Nya. Kehidupannya yang singkat telah beliau dedikasikan sepenuhnya untuk berdakwah dan berjuang di jalan Allah Azza wa Jalla. Hampir seluruh waktu yang beliau miliki telah digunakannya untuk berdakwah dan meninggikan kalimat Laa Illaha Illallah. Masa hidup Pak Nardi yang hampir semuanya digunakan untuk mengurus kepentingan umat Islam bisa kita maknai sebagai perjalanan yang begitu agung, yang tidak sembarang orang bisa melakukannya.

Semoga, hadirnya risalah sederhana ini bisa menjadi sedikit sarana bagi kita, genarasi yang ditinggalkannya, untuk mulai mengenal lebih dekat lagi tentang guru dan teladan kita, Kyai Haji Sunardi Syahuri. Sebagai generasi muda, yang semoga juga menjadi pelanjut estafet dakwah yang sudah dirintis Pak Nardi, kita patut menjadikan beliau tidak hanya sekadar idola, tapi menjadikannya sebagai sosok teladan tentang bagaimana seharusnya memperjuangkan Islam, menjaga hubungan baik dengan liyan yang berbeda pandangan, utamanya meneladani semangatnya dalam menggerakkan dan menggairahkan dakwah Islam, sekaligus menjaga persatuan umat Islam. moga-moga semangat dan ghirah Pak Nardi mampu membangkitkan semangat kita dalam meneruskan cita-cita perjuangan dakwah Islam, khususnya di wilayah Yogyakarta ini. []


[1] Singkatan dari: Alat Tenun Bukan Mesin/ alat tenun tradisional.

[2] Setelah menikah biasa dipanggil Bapak Hadi Siswoyo.

[3] Setelah menikah biasa dipanggil Ibu Hadi Siswoyo.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *