Kisah tentang Hujan di Tanah Bebatuan

Posted by

Saat menulis tulisan ini hujan deras baru saja reda (27/10/2020). Beberapa hari yang lalu pun desa sudah disiram hujan, tetapi hanya gerimis yang mampir. Hujan lebat adalah momen spesial dan paling ditunggu masyarakat yang hidup di atas tanah bebatuan kapur nan gersang.

Seketika, seusai hujan benar-benar reda, jalanan desa langsung ramai dengan lalu lalang para petani yang hendak ke ladang. Ada yang memakai motor berbonceng dua dan tiga, ada yang mengayuh sepeda, dan ada juga yang berjalan kaki.

Seluruh sudut desa pun akan segera diselimuti kegembiraan hujan, suatu kebahagiaan yang tulus.

Kegembiraan hujan segera membuat warga desa melupakan tumpukan hutangnya. Kegembiraan hujan juga seketika melupakan rasa linu asam urat orang-orang tua.

Kegembiraan hujan pun menghapus luka dan sakit hati warga desa kepada pemerintah. Betapa tidak? Kelangkaan pupuk, harga pupuk yang mahal, dan kesulitan alur mendapatkan pupuk subsidi sudah menambah kerut kening warga desa.

Maklum saja, sudah beberapa minggu ini hujan dan pupuk selalu menjadi topik yang paling ramai diperbincangkan warga desa di mana saja dan kapanpun, di warung kopi, toko kelontong, pos kamling, acara tahlilan, serta berbagai “ruang” sosial lainnya. Bedanya, saat membicarakan hujan semua orang berwajah sumringah. Namun, bila mengobrolkan masalah pupuk, semua orang mengerutkan dahi dan menaikkan intonasi suaranya.

Namun, bukan petani namanya kalau terlalu cengeng. Nyatanya, guyuran hujan siang ini menyapu segala permasalahan pupuk yang sehari sebelumnya masih membebani pikiran. Siang ini semua orang di desa melupakan masalah pupuk.

Hujan bermakna harapan bagi warga desa yang irigasi pertaniannya hanya mengandalkan rendeng. Harapan bisa membayar hutang. Harapan mengganti sapi yang dijual karena tahun lalu gagal panen total.

Harapan membeli sepeda motor untuk anak yang minta sekolah SLTA di kota. Harapan untuk menyeleggarakan pernikahan si bungsu yang sudah lama melajang. Segala harapan digantungkan pada guyuran deras hujan yang mengubah teriknya siang hari ini.

Ini artinya sebentar lagi berbagai jenis bibit jagung yang sudah disiapkan beberapa minggu lalu akan segera ditanam. Sebentar lagi rumah-rumah akan sepi pada siang hari.

Tegal-tegal yang tadinya sepi, kering, dan gersang, mulai dipenuhi warga desa yang siap bekerja keras menyambut musim tanam.

Wong tani ki wong kendel [petani itu orang yang berani, Jawa],” begitu ujar Mbah Dam.

Kalimat tersebut terngiang dalam ingatan saya. Sungguh saya ingin mengajak saudara berdiri bersama saya di sini, di tengah ladang yang tanah merahnya masih basah dan lembek. Ikut bersama ibu-ibu dan bapak-bapak turun ke ladang siang ini. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *