Konstruksi Religius-Nasionalisme dalam Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamka

Posted by

Perjuangan membela tanah air, bangsa dan agama merupakan tugas masing-masing individu. Artinya, semua kita yang memiliki kepercayaan akan adanya tuhan dan hidup di alam Indonesia ini memiliki kewajiban untuk bersama-sama menjaga dan membela tanah air dan bagsa kita dari segala hal yang mengancam keutuhan persatuan bangsa. Buya Hamka adalah salah satu tokoh dan pejuang yang mengajarkan kepada kita akan pentingnya menjaga persatuan bangsa. Seperti tokoh bangsa dan pejuang-pejuang yang lainnya, Buya Hamka berpandangan bahwa negara Indonesia sebagai negara kesatuan yang terdiri dari berbagai suku, bahasa dan ragam budaya yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya.

Kebihnekaan atau keaneka-ragaman inilah yang sesungguhnya menjadi dasar pijakan bagi seluruh warga negara untuk bekerjasama, bahu-membahu mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yaitu terciptanya keamanan, keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Melalui salah satu karya romannya yang berjudul, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Buya Hamka berusaha mengurai dan menjabarkan keanekaragaman suku dalam wadah keindonesiaan sebagai ketetapan Allah yang perlu diinsafi dalam konteks hubungan sosial-budaya, termasuk didalamnya soal percintaan.[1]

Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah karya Buya Hamka yang terbit pertama kali pada tahun 1938. Buku ini awalnya adalah kisah bersambung yang dimuat di majalah Pedoman Masyarakat yang dipimpin oleh Buya Hamka sendiri, yang kemudian diterbitkan pertama kali menjadi buku oleh penerbit M. Sjarkawi di Medan. Dalam waktu singkat, buku tersebut laris dipasaran. Pada cetakan yang keempat, Buya Hamka mengakui sendiri hal itu dengan mengatakan, “Belum berapa lama tersiar, dia pun sudah habis.”[2]

Tokoh utama di novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka adalah Zainudin dan Hayati. Buya Hamka menulis bahwa Zainuddin adalah anak yatim piatu. Ayahnya berasal dari kalangan Minang, meninggal dalam pengasingan setelah membunuh kerabatnya karena masalah warisan.[3] Adapun ibu Zainudin tidak memiliki darah Minang. Buya Hamka menceritakan jika ibunya Zainuddin meninggal lebih dulu, beberapa tahun sebelum ayahnya. Setelah ditinggal kedua orangtuanya, Zainuddin tinggal bersama teman ayahnya yang bernama Mak Base di daerah Batipuh, Sumatera Barat. Orang-orang di sana tahu jika Zainuddin bukan keturunan Minang tulen karena  orangtuanya menikah beda suku. Sebagai orang blasteran, banyak diskriminasi yang ditujukan kepadanya, mengingat konservatifnya masyarakat Minang saat itu. Meski begitu, garis keturunan tak pernah memadamkan cinta Zainuddin kepada  Hayati, putri bangsawan Minang. Sayang, tetua adat, khususnya orangtua Hayati tidak mengizinkan Zainuddin berhubungan dengan anaknya. Alasannya, Zainuddin bukan keturunan Minang tulen. Alasan itu kemudian mendorong Zainuddin pindah ke Padang Panjang, meski surat-menyurat tetap berlangsung dengan Hayati.[4]

Padangpanjang adalah kota kemajuan. Murid-murid di madrasah tak menjauh dari masyarakat dan hanya belajar dengan buku berbahasa Arab. Mereka telah memakai model baru dan mengenakan dasi serta baju Barat lainnya, belajar bahasa Belanda dan Inggris. Dalam modernitas Padangpanjang itulah kemudian Zainuddin hidup untuk merancang masa depannya yang menggugah.[5] Sementara Hayati adalah perempuan muda yang dididik di sekolah Islam. Sahabatnya yang orang kota, Chadijah, yang orang kota dan sudah tersentuh budaya modernis, mengajak dirinya meninggalkan pendidikan lamanya itu demi meraih hidup di zaman baru. Chadijah memberikan saran agar Hayati bersedia melepas kerudungnya dan memakai pakaian Barat yang lebih terbuka. Dia juga membujuk agar Hayati meninggalkan kekasih hatinya, Zainuddin, demi seorang yang memiliki uang dan masa depan yang cerah. Aziz namanya, yang tak lain adalah kakak Chadijah sendiri. Hayati merana memikirkan itu semua. Dia memiliki pedoman adab, tapi di sisi lain dirinya juga tak bisa menolak godaan (untuk bersentuhan dengan zaman modern dan mendapat kemewahan dunia) yang terlalu kuat itu.[6]

Pada suatu hari, Hayati datang ke Padangpanjang untuk menemui Zainuddin. Selama di Padangpanjang, Hayati menginap di rumah Chadijah. Sejak saat itulah Azizi mulai jatuh cinta pada Hayati, sehingga Azis dan Zainuddin pun harus bersaing untuk mendapatkan cinta Hayati.[7] Pemuda Azis yang murni berdarah Minang dan berasal dari keluarga terpandang, jauh lebih disukai keluarga Hayati daripada Zainuddin yang hanya berasal dari kalangan miskin. Mereka sangat meremehkan dan merendahkan Zainuddin, yang blasteran dan miskin—meski sebenarnya dia memiliki harta warisan yang cukup banyak dari Mak Base. Tapi sayang, Zainuddin menyampaikan itu setelah Hayati menikah dengan kakak Chadijah, Aziz.[8]

Pernikahan Hayati dan Aziz membuat Zainuddin merasa terpukul dan putus asa. Dia kemudian mengajak temannya yang bernama Muluk untuk pergi ke Jawa. Mereka tinggal beberapa lama di Batavia sebelum memutuskan untuk pindah ke Surabaya. Di Surabaya, Zainuddin berhasil meraih cita-citanya menjadi penulis besar yang dikenal oleh kaum terpelajar di Hindia Belanda.[9] Di puncak karir Zainuddin sebagai penulis, Aziz dan Hayati juga pindah ke Surabaya karena tuntutan pekerjaan. Sayang, tak lama berada di Surabaya, Aziz dipecat dari pekerjaannya. Hal itu membawa dampak buruk pada hubungan rumah tangganya. Lama-lama hubungan Aziz dan Hayati jadi renggang. Bahkan, mereka terpaksa harus menginap di rumah Zainuddin karena tak lagi bisa menyewa rumah.[10]

Saat itulah Aziz melihat jika sebenarnya Zainuddin dan Hayati masih sama-sama mencintai. Melihat kedekatan Zainuddin dan Hayati, hal itu membuka kesadaran Aziz bahwa sejatinya Zainuddin-lah laki-laki yang lebih pantas untuk istrinya. Aziz kemudian memilih pindah ke Banyuwangi. Dalam salah satu surat yang ditulisnya, Aziz menyatakan jika dirinya sudah mengikhlaskan Hayati jika ingin menikah dengan Zainuddin. Hanya saja, selama ini Zainuddin merasa tersiksa karena kerinduannya pada Hayati. Adapun orang yang dirindukannya itu datang pada saat sudah dicampakkan oleh suaminya. Zainuddin pun menolak Hayati tetap di rumahnya dan menyuruhnya agar pulang ke Batipuh.[11]

Demi menjaga harga dirinya, Hayati pun menuruti keinginan Zainuddin. Meski dengan perasaan berat, Hayati pun akhirnya pergi dengan menaiki kapal Van der Wijck. Tapi nahas, belum lama kapal van der wijck meninggalkan pelabuhan Surabaya, tersiar kabar jika kapal itu karam di pesisir utara pulau Jawa. Kabar itu sontak saja membuat Zainuddin dan Muluk sangat terkejut. Mereka kemudian berangkat ke Tuban untuk mencari Hayati, yang ternyata sudah berada di rumah sakit. Di rumah sakit itu, Hayati mengembuskan napas terakhirnya setelah meminta maaf dan mengatakan secara terus terang perasaan hatinya kepada Zainuddin.[12] Kepergian Hayati membuat Zainuddin jatuh sakit. Semakin lama, sakitnya tak kunjung membaik dan justru kian bertambah parah. Akhirnya, Zainuddin meninggal dan dikubur disebelah makam Hayati.[13]

Nunu Burhanuddin dalam, Konstruksi Nasionalisme Religius Relasi Cinta dan Harga Diri dalam Karya Sastra Hamka, menerangkan bahwa roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan salah satu karya sastra yang mengangkat tema kebangsaan religius, tema sastra yang mengangkat nasionalisme yang dipadu dengan nilai-nilai keagamaan. Hal itu bisa dibuktikan dengan dua hal. Pertama, Nasionalisme Hamka adalah nasionalisme inklusif, tidak eksklusif dan tidak fanatik atau chauvinistik. Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Nunu Burhanuddin melanjutkan, terlihat jelas bahwa bangsa-bangsa di Indonesia sederajat, seperti suku Bugis dan Minang. Buya Hamka menyajikan konflik dengan penyelesaian secara religius. Bagaimaan bisa konstruksi religius dibangun dalam cerita ini ketika Zainuddin memendam cinta kepada Hayati. Pada saat Hayati sudah menjadi istri Aziz dan tinggal di rumah Zainuddin di Surabaya,  mereka memiliki intensitas pertemuan yang cukup tinggi. Buya Hamka membuat jalan cerita di mana intensitas pertemuan yang cukup tinggi itu tidak dijadikan alasan bagi mereka untuk melakukan perselingkuhan. Tak ada pengkhiatan, sehingga cinta pun terbenam dalam retorika harga diri karena pegangan agama yang kuat. Jadi, hadirnya tokoh Zainuddin di sini dijadikan Buya Hamka sebagai simbol lahirnya anak bangsa yang tegas, romantis, sekaligus agamis.[14]

Kedua, melalui roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Buya Hamka juga menggambarkan nasionalisme sebagai anti disrikiminasi. Artinya, roman yang berkisah tentang percintaan Zainuddin, laki-laki yang memiliki Ayah berdarah Minangkabau dan ibu berdarah Bugis, sedang Hayati, perempuan yang murni keturunan Minangkabau, tapi di dalam roman tersebut Buya Hamka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap beberapa tradisi dalam adat Minang, khususnya terkait dengan diskriminasi terhadap orang yang berasal dari keturunan campuran yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu. Buya Hamka yang dibesarkan di kalangan keluarga yang taat dalam agama menilai apa yang ada di masyarakatnya itu sebagai penghambat kemajuan agama, seperti juga yang menjadi pandangan orangtuanya, Haji Rasul.[15]

C.W. Walston dalam, Adi Cerita Hamka: Visi Islam Sang Penulis Besar Untuk Indonesia Modern karya James R Rush, menyatakan bahwa Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka merupakan novel romantis yang mungkin paling populer pada tahun 1930-an dan 1940-an di Indonesia.[16] Bakri Siregar menyebut Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sebagai karya terbaik Buya Hamka. Maman S. Mahayana juga memiliki pendapat yang tak jauh beda. Dia mengatakan bahwa roman karya Buya Hamka itu memiliki karakterisasi yang baik dan penuh ketegangan. H.B. Jassin mengatakan bahwa melalui roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Buya Hamka dengan sangat apik membahas masalah adat Minang, yang tidak mungkin ditemukan dalam suatu karya sastra di mana pun.[17][]


[1] Burhanudin, Nunu. 2015. Konstruksi Nasionalisme Religius Relasi Cinta dan Harga Diri dalam Karya Sastra Hamka. Jurnal Epistemé, Vol. 10, No. 2. Hlm, 374.

[2] Sambodja, Asep. 2010. Historiografi Sastra Indonesia 1960-an. Hlm, 159.

[3] Hamka. 2009. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang. Hlm, 7.

[4] Ibid. Hlm, 26.

[5] Rush, James R. 2018. Adicerita Hamka: Visi Islam Sang Penulis Besar Untuk Indonesia Modern. Jakarta: Gramedia. Hlm,29.

[6] Ibid. Hlm, 30.

[7] Hamka. 2009. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang. Hlm, 89.

[8] Ibid. Hlm, 143.

[9] Ibid. Hlm, 155.

[10] Ibid. Hlm, 181.

[11] Ibid. Hlm, 201.

[12] Ibid. Hlm, 215.

[13] Bagi pembaca yang ingin membaca kisahnya lebih lanjut silakan membaca bukunya, “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka, terbitan Penerbit Bulan Bintang, 2009.

[14] Burhanudin, Nunu. 2015. Konstruksi Nasionalisme Religius Relasi Cinta dan Harga Diri dalam Karya Sastra Hamka. Jurnal Epistemé, Vol. 10, No. 2. Hlm, 376.

[15] Ibid. Hlm, 377.

[16] Rush, James R. 2018. Adicerita Hamka: Visi Islam Sang Penulis Besar Untuk Indonesia Modern. Jakarta: Gramedia. Hlm,172.

[17] Burhanudin, Nunu. 2015. Konstruksi Nasionalisme Religius Relasi Cinta dan Harga Diri dalam Karya Sastra Hamka. Jurnal Epistemé, Vol. 10, No. 2. Hlm, 377.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *