Kuasa dan Pola Yang Sama

Posted by

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemui istilah yang mungkin sedikit asing di telinga. Misalnya saja, jika kita diposisikan menjadi seorang siswa sekolah dasar kelas 1 kemudian mendengar istilah evolusi. Tanpa diberikan pengantar sebelumnya di usia itu sebagai seorang siswa hampir pasti kita akan bertanya-tanya. Evolusi itu apa?

Entah di pelajaran ilmu pengetahuan alam atau malah di pengetahuan sosial saya lupa persis kapan pertama kali mengenal istilah itu. Namun yang pasti hari ini sudah paham apa itu yang dimaksud evolusi. Setidaknya ia adalah rangkain proses perubahan secara berangsur-angsur. Biasanya disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya mungkin lingkungan.

Lingkungan tentu bukan hanya bentuk fisik. Jika membicarakan hewan faktor lingkungan mungkin adalah keanekaragaman hayati. Namun lain hal jika itu manusia maka lingkungan bisa juga dimaknai sebagai lingkungan sosial.

Apakah evolusi itu hanya terjadi pada perilaku manusia dan hewan saja? Tentu saja tidak. Semua lini kehidupan hampir pasti turut berevolusi. Fenomena evolusi lain yang justru tanpa disadari oleh beberapa orang dan itu sering terjadi adalah berkaitan dengan kuasa dan jabatan. Lebih lagi di alam demokrasi dan politik.

Demokrasi selalu menghadapkan kita dengan sebuah pilihan. Sangat leluasa bagi kita untuk menentukan dan menghargai sebuah pilihan. Tapi, proses demokrasi itu tak jarang juga menimbulkan riyak. Dalam prosesnya demokrasi selalu lekat dengan menentukan mandat dan kekuasaan yang selalu dilakukan dengan banyak cara. Semata-mata hanya demi menarik perhatian.

Ketika dua kubu sedang berseteru demi menggaet dukungan maka akan timbul sebuah gejolak. Misalkan kubu A dengan latar belakang sipil dan berangkat dari partai yang identik dengan wong cilik. Kemudian lawannya kubu B dengan latar belakang militer dan berangkat dari kendaraan yang sama yaitu melalui partai politik.

Kubu A kumur-kumurbahwa ia adalah warga sipil biasa yang juga selalu berpihak pada wong cilik. Kubu B kumur-kumurbahwa ia adalah seorang nasionalis dan setia pada negara dengan pengalamannya yang pernah menumpas kelompok kriminal bersenjata.

Apakah ketika kita menentukan dukungan pada salah satunya lalu akan selesai dengan menghargai pilihan lainnya? Nyatanya tidak juga. Para partisan yang sedang berebut kekuasaan sering membenturkan kita dengan lainnya yang sama-sama orang biasa. Polarisasi dan mengadili persepsi terhadap sebuah pilihan sudah pasti selalu terulang lagi dan lagi.

Terjadi berulangkali dan kita tak pernah belajar bagaimana menyikapi sebuah gimmick dalam demokrasi. Mari menengok jauh ke belakang sebelum era digitalisasi.

Ketika awal peradaban manusia terciptalah pola sederhana dalam menjalani kehidupan. Setidaknya pola itu adalah; berburu dan meramu. Jangankan memimpikan kelas sosial, pola dan tujuan mereka saja mungkin saat itu adalah bagaimana bertahan hidup untuk hari ini saja. Sedangkan hal itu kini sudah mengalami evolusi.

Berburu dan meramu masih kita lihat hari ini. Tetapi, dalam konteks berburu dan membentuk simpatisan kemudian meramunya menjadi sebuah dukungan. Untuk apa? Sudah pasti untuk sebuah kekuasaan.

Dalam berburu, kita melihat para politikus hari ini tak jauh beda dengan manusia purba. Bagaimana mereka merancang sebuah kamuflase untuk mendekatkan diri sedekat mungkin dengan populasi tertinggi. Apakah mereka kemudian bisa dikatakan primitiv tentu tidak. Hanya mempertahankan pola yang sama dengan cara berbeda. Kemudian kita mengenal istilah buzzer.

Maka tak perlu heran jika hari ini kita melihat mas Gibran menyerupai berperangai bak seorang Kiyai atau mas Boby yang menyerupai Tuanku Imam Bonjol. Tak perlu heran juga jika dulu teriak lantang membela rakyat kecil yang tertindas kemudian pelan-pelan belajar menjadi diktator. Tak perlu heran juga jika dulu teriak lantang menuduh pro asing dan kapitalis tapi kini justru satu gerbong dan saling bergandengan tangan.

Semua itu tidak salah dilakukan karena sejarah hanya akan berulang dan nyatanya kita tak pernah bisa belajar dari sejarah itu sendiri. Tak ada lawan dan musuh abadi. Setidaknya jika kita tak bisa belajar dari sejarah, penggalan lirik dari Jogja Hip Hop Foundation ini bisa sedikit menyadarkan kita.

Lirak-lirik karepe ngejak turu kelonan

Koalisi politike mung perselingkuhan

Beras larang minyak mundhak ra karu-karuan

Politike nglambrang mung ribut ngurus gendakan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *