Kurban di Pusaran Pandemi

masa-kini.id – Suasana Idul Adha tahun ini terasa belum cukup leluasa, karena perayaannya masih berada pada pusaran wabah Covid-19. Meskipun upaya dan kebijakan pemerintah untuk menciptakan suasana kenormalan baru, perasaan masyarakat masih tetap terbelenggu kekhawatiran dan kewaspadaan akan penyebaran virus Korona. Karena itu, semangat Idul Adha yang sarat tekad perjuangan serta pengorbanan mestilah tetap dijadikan pedoman serta acuan.

Pelajaran penting dari Idul Adha bagi kehidupan kini dapat dipahami dari makna ibadah kurban dan hikmahnya yang dapat dikembangkan untuk kedamaian serta keselamatan menghadapi dampak psikologis dan sosial dari wabah Covid-19 ini.

Qurban

Istilah Qurban pada umumnya sudah masuk dalam kosa kata bahasa Indonesia, yaitu kurban atau korban, tetapi bukan berarti pihak yang berkurban itu sebagai pihak yang dirugikan, sehingga tidak ada orang yang secara sadar mau berkurban. Kata qurban menurut bahasa aslinya berasal dari kata Arab qarraba, yuqarribu, qurbaanan, yang artinya dekat, atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Pendekatan diri dimaksud adalah dengan cara seseorang melepaskan sebagian harta untuk dikorbankan, seperti lazimnya dengan penyembelihan hewan tertentu, yang bertujuan menjadi media pendekatan diri kepada Tuhan dan persaudaraan dengan sesama manusia menjadi lebih dekat.

Qurban termasuk ibadah yang mengandung nilai sosial yang unik dan bermartabat, seperti halnya sadaqah, infak, ataupun zakat. Pembagian daging hewan kurban menjadikan jarak antara pihak pemberi dengan penerima bisa semakin dekat. Ibadah ini juga mengajarkan kebersamaan agar tercipta suasana ukhuwwah yang semakin kuat. Lebih dari itu, untuk mencapai sedekat mungkin kepada Allah, maka sahibul qurban sebetulnya bukanlah hanya sampai kepada kepuasan nilai fisik pengorbanan saja, tetapi yang lebih penting adalah ketulusan berkorban itu sendiri (QS, Al-Hajj: 37).

Makna yang lebih luas lagi atas pelakasanaan ibadah ini adalah ketaatan atas perintah Tuhan,seperti dicontohkan dalam peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim kepada putranya, atau pengurbanan Nabi Ismail atas dirinya yang bersedia disembelih (QS Ash-Shaffat: 102). Berdasarkan peristiwa kenabian tersebut didapatkan makna terdalam dari pelaksanaan qurban adalah tindakan seseorang yang menghasilkan kedekatan diri kepada Tuhan dengan selalu memperhatikan segala perintah-Nya.

Kedekatan diri dalam ketaatan tinggi kepada perintah Tuhan pastilah berdampak positif bagi umat manusia. Segala aktivitas manusia bisa terkendali dan terhindar dari segala hal yang negatif. Oleh karena itu, ibadah qurban memberikan spirit untuk memperbaharui semangat ketaatan beragama yang diwujudkan dalam seluruh perbuatan manusia.

Bina Karakter

Apabila kehidupan sosial dewasa ini, khususnya suasana akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, telah terjadi ketimpangan di berbagai sektor kehidupan, maka semangat pengorbanan para pihak dapat diarahkan  untuk memutus jarak sosial akibat kecenderungan kehidupan individual, kehidupan yang semata-mata untuk kepuasan pribadi, keluarga, ataupun kepentingan golongan tertentu. Demikian halnya dengan ketimpangan perilaku sosial untuk kepentingan bersama, kepedulian kepada pihak lain, dan perhatian atas penderitaan orang lain, merupakan fenomena yang harus segera disingkapkan, karena bertentangan dengan prinsip-prinsip agama dan pelanggaran atas prinsip-prinsip kemanusiaan.

Baca juga : Hari Arafah, Momentum Identifikasi Diri

Oleh karena itu, kemuliaan ajaran berkurban juga merupakan pendidikan jiwa solidaritas dan keadilan sosial Sebab manusia yang tidak mau berkorban untuk orang lain akan menjadi manusia yang serakah, korup, dan aniaya. Kehidupan tanpa pengorbanan adalah kehidupan yang gersang, egoistis, egosentris, dan tidak banyak memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya, bahkan dapat mengganggu ketentraman hidup bersama.

Makna lainnya dari ibadah kurban adalah arti pentingnya pembinaan karakter yang mesti dikembangkan pada generasi milenial sekarang. Sebagaimana dilakukan Nabi Ibrahim, dapat dimaknai pemberian  bekal ilmu dan takwa kepada anaknya, Ismail. Pelajaran ini dapat dirasakan apabila seorang ayah berhasil memberi bekal kepada anaknya berupa ilmu dan ketakwaan, bukan hanya kelak orangtua akan bahagia, tetapi  anak-anak pun akan menempuh masa depan yang penuh harapan.

Apabila dalam kehidupan masyarakat dewasa ini terdapat kecenderungan proses pendidikan dan pembimbingan orang tua kepada anak-anaknya,  yang lebih mendahulukan pemenuhan kepuasan materi anak-anak, sehingga orangtua mau mengorbankan segala kekayaan bagi kepuasaan sang anak, atau mengarahkan pendidikan anak lebih mengutamakan pengetahuan duniawi. Tidak sedikit pula orang tua yang masa bodoh akan perilaku anak-anaknya, atau bahkan kewalahan dengan tingkah laku kurang baik mereka. Maka, mustinya kewajiban serta bentuk perhatian orangtua adalah mengarahkan anak-anaknya agar berakhlak mulia.

Usaha memperbaiki nilai pendidikan bagi generasi muda, khususnya melalui pendidikan agama sangatlah urgen dan pembinaan mereka harus selalu dilakukan, sebab akhir-akhir ini terlalu banyak sisi kehidupan mereka yang sangat melekat dengan hal-hal negatif. Akibatnya, banyak generasi muda yang ngambang dan kreativitasnya hanya melulu di dunia hiburan. Padahal, seperti diungkapkan seorang ulama besar Imam Syafi’i, “hidup pemuda itu harus bertakwa dan berilmu pengetahuan. Bila keduanya itu tidak ada padanya, maka hidup pemuda itu tidak ada artinya sama sekali”.

Baca juga : Hikmah Idul Adha

Semangat meneladani pemuda Ismail, mendorong generasi muda untuk memiliki iman yang kuat serta berakhlak yang mulia. Sejak seorang pemuda menginjak akil baligh hendaknya membiasakan diri datang ke majlis-majlis ta’lim; masjid-masjid dapat diramaikan oleh kaum muda, kajian-kajian keislaman harusnya disponsori oleh para generasi muda, dan para pemuda tidak boleh absen dari aneka aktivitas membangun, bahkan mereka lebih banyak berperan dan tampil di depan.

Tahan Uji

Dalam pusaran Covid-19 ini, tidak sedikit masyarakat yang dibuat gelisah oleh perkembangan politik, sosial, dan ekonomi. Secara sosial disaksikan berbagai gejolak yang muncul di masyarakat, terutama cerminan sikap pesimis dalam menatap masa depan yang tidak pasti. Demikian pula secara ekonomi terlihat dari gejala berkurangnya kesempatan kerja telah membuat kegelisahan yang masif seiring dengan tingginya biaya dan kebutuhan hidup. Ajaran berkurban  yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim patut diteladani dengan cara baru, yaitu menumbuh-kembangkan sikap dan sifat berkorban kepada mereka yang sedang diuji dengan kefakiran dan kemiskinan

Situasi tersebut harus disikapi sebagai cobaan dan mesti dihadapinya dengan keteguhan iman, sebagaimana ketegaran Nabi Ibrahim dalam menghadapi cobaan dan godaan dapat dijadikan pelajaran di dalam kehidupan sekarang. Menghadapi cobaan itu, mestinya tidak perlu frustasi, emosional, apalagi putus asa. Patut selalu diyakini, bahwa hidup adalah perjuangan, dan hidup adalah untuk menghadapi cobaan serta ujian.

Oleh karena itu, melalui ibadah kurban ini dapat membangkitkan kembali sikap optimis, percaya diri, dan keyakinan akan keberhasilan melampaui berbagai cobaan dan ujian. Sehingga idul adha merupakan tonggak untuk melakukan perubahan kualitas kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Perubahan yang dapat menghadirkan kepemimpinan dan kemasyarakatan yang teruji dengan kualitas kejujuran, kecerdasan, keberanian, serta kesalehan spiritual dan sosial.

Baca juga : Idul Adha di Masa Korona

Dalam pusaran pandemi ini diperlukan komitmen keberagamaan seperti dicontohkan Ibrahim dan Ismail. Segala usaha dilakukan dengan penuh kesabaran dan selalu menegakkan salat. Kesabaran bukanlah dalam pengertian yang sama dengan sikap nrimo ing pandum, pasrah, menyerah, loyo, penakut, pengecut, atau pecundang. Tetapi dengan kesabaran positif yang berani, ulet, kerja keras yang cerdas, tawakkal, dan istikamah. Bahkan pelaksanaan salat khusyu dapat dijadikan upaya yang sangat potensial untuk memperoleh ketenangan batin dan menghindari kecemasan serta kegelisahan hidup.

Demikianlah, pelajaran penting dari ibadah kurban yang mesti dimaknai bukan hanya pelaksanaan ritual formalitas dan simbolis semata, melainkan pengorbanan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari secara ikhlas. Semoga

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *