Lika-Liku Covid-19: Indonesia Bisa Apa?

Oleh: Dinda Isradillah*)

Epidemi infeksi virus Corona (Covid -19) belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hingga hari ini, korban terus menerus berjatuhan, serta dampak perekonomian mulai nyata terasa. Tak terlewati, beberapa orang mulai merasa jenuh. Terus-terusan berhadapan dengan corona. Katanya “Corona lagi corona lagi!”.  Namun bagaimana jika perasaan sama terjadi pada orang-orang garis terdepan?

Biar ku tebak, mereka pun sama muaknya. Baik tenaga medis, pemerintah, masyarakat, dan lain sebagainya. Kita sama-sama ingin wabah ini segera berakhir. Karenanya, dibandingkan mengutuk satu sama lain, menambah masalah dalam masalah, bukankah saling menyemangati dan menguatkan akan terasa lebih menyenangkan?.

Tiba-tiba saya teringat saat Marc Lipsitch seorang peneliti Harvard menuliskan kemungkinan negara-negara yang rawan terdampak corona. Dalam risetnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang disebutkan. Namun sayang, bukan langkah sigap untuk segera mendeteksi dan menyiapkan keperluan untuk mengantisipasi. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto justru menepis dan menantang peneliti tersebut untuk membuktikan sendiri.  Ini merupakan satu contoh mengemas persoalan dalam persoalan baru.

Sedang beberapa persoalan lainnya dapat kita lihat dari berantakannya koordinasi pusat dan daerah. Baik dari Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Daerah, Kepala  Daerah dengan Pemerintah Pusat, dan lainnya. Misalnya, pada penetapan status Kejadian Luar Biasa atau KLB. Langkah tegas Wali Kota Surakarta F.X Hadi Rudyatmo saat mengetahui warganya positif corona meninggal, ia langsung meminta sekolah untuk belajar dirumah, meniadakan kegiatan pemerintah, menutup tempat wisata, dan hiburan.

Kala itu Hadi Rudyatmo mengatakan bahwa belum pernah diajak bicara pemerintah pusat. Sehingga harus mengambil keputusan cepat untuk meminimalisir jumlah angka. Bahkan pada satu kesempatan, Presiden Jokowi menyebutkan bahwa kebijakan lockdown ditingkat nasional dan daerah merupakan kebijakan pusat.

Dilematis menjadi pemimpin. Dibenturkan pada kondisi seperti ini, kemanusiaan adalah sangat dapat dimaklumi. Karena pemerintah sadar tidak dapat mengcover ganti rugi sisi ekonomi. Alhasil berdampak pada sisi kemanusiaan. Jadi pemimpin, mencari win-win solution, resiko tak dapat dihindari, namun bisa diminimalisir.

Kadang, membuat keduanya berjalan tak semudah itu. Kita selalu dihadapkan dengan pilihan, misalnya perekonomian atau kemanusiaan? Selalu ada pengorbanan dalam setiap pilihan, semua melibatkan kontradiksi sulit. Tentu pemerintah telah berpikir matang, dan ku lihat mereka memilih untuk meminimalisir kerugian ekonomi.

Pada tanggal 2 Maret 2020 Indonesia mengumumkan 2 kasus positif Corona untuk pertama kalinya. Yang mana pada 14 hari berikutnya, jumlah kasus positif dari berbagai daerah di Indonesia terus naik hingga mencapai 134 orang. Data tersebut bersumber dari KEMENKES RI, dengan catatan sebanyak 5 orang meninggal, dan 8 orang sembuh. Angka positif Covid-19 ini terus naik pesat hingga pada tanggal 20 Maret 2020 jumlah kasus positif corona telah mencapai 369 orang, 32 orang meninggal, dan 17 orang lain dinyatakan sembuh.

Maka dari jumlah tersebut bisa dihitung Case Fatality Rate (CFR) Indonesia dalam pandemi COVID-19 setinggi 8,37%. Sedangka data yang disebutkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rata-rata tingkat kematian akibat Covid 19 di dunia sebesar 4,07%. Artinya, Indonesia memiliki tingkat kematian dua kali lipat dibandingkan rata-rata tingkat kematian akibat Covid 19.

Pemerintah harus segera bertindak lebih tegas dan segera menyediakan paket lengkap kebijakan. Semua lapisan masyarakat tak lagi bisa menunggu, jikalau menunggu terus-terusan berujung kematian. Seluruh stake holder diharapkan tak hanya meneriakan seruan namun turut serta mengimplementasikan. Masyarakat sendiri pun harus sadar dan berperan aktif. Kesehatanmu berharga bagi kami, bagi banyak pihak. Saat ini, #dirumahaja dan meminimalisir berinteraksi dengan banyak orang amat sangat membantu orang-orang garis terdepan.

Selipkan lebih banyak sisi kemanusiaanmu, tenaga medis berserta pasukan lainnya sedang bertempur dengan musuh kasat mata demi keselamatan bangsa ini. Mereka lah pahlawan kita, mari bantu mereka dengan melakukan social distancing.

Tak ada salahnya jika kita belajar dari negara lain untuk menuntaskan wabah ini. Misalnya berguru dari pengalaman Korea Selatan. Negara tersebut sempat mengalami lonjakan kasus Covid-19 cukup pesat dalam beberapa hari dan kini terlihat pemerintah dapat mengendalikannya.

Ketika jumlah kasus di Korea ini tengah mencapai angka 150, ruang publik di Seoul langsung ditutup. Berbagai macam kegiatan dihentikan dan dilarang untuk sementara waktu. Pemerintah juga mengeluarkan data transparan, menggunakan teknologi untuk memberi informasi melalui sistem peringatan ponsel nasional bila ada warga yang terinfeksi.

Dalam pesan tersebut, dijelaskan informasi seperti beberapa lokasi terakhir yang dikunjungi pasien. Harapannya, agar warga yang merasa ada dilokasi tersebut dapat segera melaporkan. Negara juga melakukan tes masal sehingga menjadi salah satu negara yang melakukan proposi tes tertinggi di dunia.

Belajar dari pengalaman Iran. Kondisi Indonesia sendiri dirasa memiliki kemiripan dengan kondisi Iran ketika satu minggu sejak diumumkan terdapat kasus corona. Otoritas Kesehatan Iran mencatat jumlah kasus positif corona melonjak hanya dalam satu pekan dari sebelumnya dibawah 100 kasus.

Sejak diumumkan pada pertengahan Februari lalu, jumlah kasus di Iran pada tanggal 18 Maret 2020 mecapai 17.361 kasus. Iran kemudian menjadi negara dengan kasus corona terbesar ketiga di dunia. Pemerintah Iran dituding lamban dan tidak transparan dalam merespons virus corona. Kesamaan lainnya, Iran dan Indonesia adalah negara yang sama-sama tidak atau tidak bisa melakukan lockdown.

Sudah sepatutnya negara belajar dari pengalaman bangsa lain, agar tak mengulang kesalahan yang sama. Berikan senjata terbaik untuk tenaga medis agar siap menang berperang melawan virus corona. Respon transparan yang kami butuhkan, jangan ditutupi agar kami bisa waspada, dan turut bergerak cepat untuk sesama. Jangan remehkan lagi, cukup waktu terbuang. Segerakan tes masal, cek sebanyak mungkin jumlah penduduk negara kita. Lakukan tracing cepat dan dalam hingga ke akar. Lockdown saja sementara jikalau memang dapat menekan tingginya angka terjangkit kedepannya.

Perlu digaris bawahi, negara mana dalam dua minggu mencapai kematian dengan angka 8% lebih? Apalah arti ekonomi jika bangsa sendiri sakit-sakitan? Berduka kehilangan keluarga sendiri. Penerapan social distanting perlu digalakkan serentak dengan mutlak. Gotong royong, bahu membahu demi Indonesia sehat. Lekas pulih negeraku.

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi UNY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *