“Lockdown” dan “Panic Buying” Ditengan Virus Covid-19

Posted by

Oleh: Nur Indah Masita Putri Kusnadi*)

Munculnya virus Covid-19 yang merambah ke berbagai negara membuat kita sering sekali mendengar istilah “lockdown” & “Panic Buying” bukan?

Istilah “lockdown” ini mulai marak digunakan setelah pemerintah China mulai memutuskan untuk me-lockdown beberapa Provinsi akibat persebaran virus yang tidak terkendali yang diduga bermula dari Kota Wuhan.

Mereka memutuskan untuk menutup seluruh akses di perbatasan dan menghimbau agar masyarakat tetap beraktivitas  di dalam rumah saja.

Sedangkan istilah “Panic Buying” sendiri muncul ketika masyarakat menjadi panik dan berusaha untuk membeli berbagai barang kebutuhan rumah tangga, bahan makanan, hingga obat-obatan yang ada secara berlebihan untuk menghindari dampak dari virus tersebut.

Hingga saat ini cukup banyak negara yang melakukan “lockdown” demi mencegah persebaran virus yang ada, dan tidak bisa dipungkiri banyak pula masyarakat yang terkena “panic buying” akibat wabah covid-19 ini.

Lalu apa itu “lockdown” & fenomena “panic buying” sebenarnya? status “lockdown” merujuk pada situasi yang genting, dimana orang atau masyarakat lebih aman untuk beraktivitas di dalam rumah, gedung atau area tertentu.

Sistem ini melarang masyarakat untuk meninggalkan tempat tinggalnya. Alasannya tentu demi keamanan, sebab di luar sana terdapat berbagai virus yang akan membahayakan nyawa manusia.

Bukan hanya wabah virus saja, namun status “lockdown” ini dapat digunakan jika sebuah negara mengalami peperangan, adanya ancaman bom, penembakan, dan situasi genting lainnya yang mengharuskan sistem itu diberlakukan.

Sedangkan fenomena “panic buying” terjadi karena manusia memiliki insting untuk bertahan hidup. Rata-rata fenomena ini terjadi karena keterbatasan informasi yang diterima oleh masyarakat tentang suatu isu.

Di Indonesia sendiri fenomena ini muncul setelah Presiden RI Jokowi memberikan pengumuman jika saat ini virus covid-19 sudah masuk ke Indonesia dan sudah ada beberapa orang yang terjangkit virus tersebut.

Sayangnya dibandingkan dengan mencari tahu terlebih dahulu mengenai informasi suatu wabah secara rinci, kebanyakan masyarakat langsung panik dan khawatir secara berlebihan hingga memutuskan untuk membeli atau memborong seluruh bahan pangan dan kebutuhan pokok lainnya.

Jika dilihat saat ini fenomena panic buying di beberapa daerah yang ada di  indonesia sudah mulai mereda dibandingkan awal munculnya pemberitaan wabah covid-19 ini.

Namun jika melihat naiknya jumlah pasien yang terkena wabah covid-19 ini tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi panic buying gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya dalam waktu dekat. Sebetulnya fenomena ini dapat dicegah oleh pemerintah dan juga pemasok atau pedagang yang ada dengan menetapkan batas minimal orang dalam membeli suatu produk, atau barang kebutuhan lainnya.

Sehingga dapat meminimalisir oknum yang memanfaatkan adanya wabah ini sebagai ladang mencari keuntungan semata.

Di Yogyakarta berdasarkan Juru Bicara Pemerintah DIY untuk penanganan Pandemi Corona Berti Murtiningsih pada minggu (15/3) “total data pasien dalam pengawasan (pdp) yang diperiksa 17 orang, dengan hasil negatif 12 orang, hasil positif 1 orang dan 4 orang lainnya masih dalam proses pemeriksaan” ujarnya.

Walaupun sudah mulai banyak yang terkena virus covid-19 namun sampai saat ini pemerintah tidak menerapkan status “lockdown”.

Status “lockdown” yang diterapkan oleh sebuah negara ataupun daerah memang bukan suatu keputusan yang mudah. Hal itu tentunya akan menurunkan perekonomian sebuah negara, karena baik negara maupun daerah akan kehilangan pemasukannya.

Meski kelihatannya langkah tersebut cukup agresif, namun tindakan itu cukup ampuh untuk menekan penyebaran dari virus covid-19. Karena jika negara yang terjangkit tidak memberlakukan status “lockdown”, kemungkinan yang terjadi adalah jumlah masyarakat yang terkena virus tersebut  semakin banyak dan menyebabkan tenaga medis serta rumah sakit menjadi kuwalahan dalam menangani penderita yang terkena virus covid-19.

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi UNY

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *