Maulud Nabi dalam Kenangan Masa Kecil

Posted by

Biasanya pada malam Maulud Nabi, kampungku gayeng. Puluhan ribu orang dari pelosok wilayah budaya Mataraman Ngayojakarta (ada yang dari Tuban, Mediun,  wilayah ‘punggung Jawa Tengah, daerah Kedu Magelang  Banyumas,, sampai Banjarnegara dan Purbalingga), rawuh menyaksikan kondur bangsa, mendengarkan pembacaan Kitab Maulud Nabi yang ditulis Ki Penghulu Wardan Diponingrat di Serambi Masjid Gede Kasultanan Ngayogyakarta, berebut udik-udik, lalu menanti pagi dengan tidur di sembarang tempat di sekitar rumah penduduk, di wetan ringin Ndalem Simpolan, di sekitar Wijilan, sekitar Keben dan Krmitbumen, (zaman dulu gerobak sapi di parkir di sini, juga sebagian andong dan mobil) sambil menikmati menu makanan di warung Pasar Malam Perayaan Sekaten yang dirintis seratus tahun lalu dan diadakan secara rutin sehingga menyatu dengan denyut jantung budaya dan jiwa masyarakat di wilayah budaya Mataraman Ngayojakarta ini.

Setelah pagi, bangun, mencari tempat mandi dan berganti pakaian, makan dengan penuh semangat tubuh wangi, berkumpul di halaman atau Pelataran Masjid Gede Kasultanan Ngayogyakarta untuk menunggu datangnya Gunungan Grebeg Maulud yang merupakan sedekah Dalem dan yang sesungguhnya sedekah ini bisa berfungsi sebagai tolak bala untuk wilayah budaya Mataraman Kasultanan Ngayogyakarta ini. Gunungan yang sejak malam sudah dibawa dari tempat pembuatannya di bangsal sekitar pendapa Magangan (yang salah satu saka gurunya tempo hari heboh karena dililit ular misterius itu) menuju pendapa Keben untuk besuknya lewat Regol  Sitinggil turun ke Pagelaran diarak lewat jalan yang membelah Alun-alun Utara ke arah Utara lalu berbelok menuju arah kiblat ke arah Masjid Gede Kasultanan Ngayogyakarta.

Saya yang puluhan, bahkan sejak kecil pernah jalan kaki dari Kotagede bersama teman pengajian anak anak, menyaksikan bagaimana kawula Mataraman Kasultanan Ngayogyakarta ini melakukan pisowanan agung dengan menghormati  dan menikmati sedekah Dalem berupa Gunungan Grebeg ini. Saya puluhan kali ngobrol atau wawancara dengan para kawula alit ini, bahkan pernah bersama teman teman satu tim yang lumayan  ‘nakal budaya’ mendirikan stand gado gado, mendirikan stand buku dan busana Muslim, melakukan survei dan mencatat semua no polisi kendaraan yang mereka yang hadir untuk sowan secara budaya di malam kondur gangsa, dan melakukan survei atas konten isi sajian stand pasar malam, mulai stand dedemitan, tong stand, standar hiburan anak, juga stand hiburan orang dewasa yang penyanyi ndangdut bisa membuat penonton nyut-nyutan di kepala ketika bergoyang.

Suatu malam, saya dengan membeli tiket bersama teman wartawan mingguan menyusup di antara penonton. Ee, pembawa acara mengenali teman saya, “Mangga-mangga mas Wartawan ikut bergoyang gratis kok.” Saya malu karena keconangan sebagai wartawan, tetapi teman saya malah ketawa menikmati sajian panggung yang menggoda dan membuat ketagihan untuk nonton. Saya pun nonton sampai selesai, he he. Saya juga nonton dan menikmati Panggung kesenian yang asyik karena menampung potensi kesenian rakyat di kampung dan desa, stand pameran tempat mengumpulkan poster dan liflet, kadang kalender, melihat dan menikmati suasana pembukaan pasar malam di simpang empat Air Mancur, suasana sepanjang jalan Yudonegaran, jalan Gondomanan, jalan KHA Dahlan dan Ngasem, juga stand penjual makanan tradisional, minuman hangat dan dingin, penjual es goreng, penjual bolang baling ‘abadi’, martabak telor yang gurih full, mainan anak-anak, pakaian murah dan penjual es goreng yang suara penjualnya khas itu.

Dengan masuk dan menjadi penikmat pasar malam perayaan Sekaten, termasuk rangkaian upacara Sekaten mulai berdirinya stand khusus di pelataran masjid untuk penjual nasi gurih, Endog Abang , pecut, daun sirih, gulali, kacang godog, kata benguk goreng yang kerasnya untuk latihan memperkuat gigi, sampai gamelan datang ditabuh dengan Gending Gending unik dan mengharukan ini saya merasa tumbuh dan berproses menjadi cah Yoja dan wong Yoja lan dadi wong Jawa. Pada waktu menyatu dengan denyut budaya Sekaten dan pasar malam Sekaten saya merasa hidup menjadi indah, tenteram dan menyenangkan. Terasa sekali kalau leluhur kita demikian memuliakan kawula alit untuk mengembangkan hidup dan menikmati hidup dengan penuh martabat. Sebagai bagian dari kawula alit Ngayojakarta saya merasa betul betul dimuliakan oleh leluhur lewat upacara Sekaten dan Pasar Malam Perayaan Sekaten ini.

Malam ini ketika merasakan betapa sepi masjid gede, betapa sepi pelataran, betapa sepi alun alun lor, betapa sepi jalan Ngasem, Gerjen, jl KHA Dahlan, jalan Gondomanan, jl Yudonegaran, secara budaya saya betul-betul menangis sesenggukan. Mungkin tangis budaya ini hanya saya yang bisa mendengar, mungkin ada orang lain yang merasakan suasana sama juga menangis secara budaya. Saya merasakan ironi, ketika di pinggir kota di wilayah Perdikan budaya Pathok Negoro peringatan Maulud Nabi berlangsung dengan penuh semangat, yang di pusat kota justru absen dari semangat ini. Pusat kota menjadi titik zero cultural. Untuk ini setelah puas menangis secara budaya, saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Indah melindungi kita semua, semoga Tuhan berkenan mengangkat dan menghilangkan segala macam bala’ yang  terasa masih hadir di sekitar kita. Aamiin. Ammiin. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *