Membantu Anak Menemukan Fitrahnya

Posted by

masa-kini.id – “Setiap anak manusia terlahir atas fitrahnya. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Demikian sabda Nabi Muhammad saw.

Rasulullah saw juga bersabda, “Peliharalah anak-anakmu dan perbaikilah budi pekertinya, karena sesungguhnya anak-anakmu itu adalah amanat Allah swt kepadamu.”

Konon Umar bin Khathab pernah berpesan, “Didiklah anak-anakmu dengan saksama dan sebaik-baiknya, karena mereka akan hidup pada zaman yang bukan zamanmu.”

Sebagian ulama memaknai fitrah manusia sejak lahir itu sebagai bertuhan Yang Maha Esa.

Dalam konteks keindonesiaan, orang tua menjadikan anaknya beragama Hindu, Buddha, Konghucu, Katolik, Kristen atau Islam.

Baca juga : Prakata “Nama-nama Indah untuk Putra Putri Anda”

Dalan konteks keislaman-keindonesiaan orang tua menjadikan anaknya Muhammadiyah, NU, Persis, Mathla’ul Anwar, Jam’iyah Washliyah, NW, LDII, MTA, dll.

Dalam konteks politik-keindonesiaan orang tua menjadikan anaknya simpatisan dan/atau aktivis Golkar, PPP, PDIP, PAN, PKS, GERINDRA, dll.

Dalam konteks politik aktif, pada saatnya boleh jadi anak memilih menjadi pengurus atau dewan pimpinan partai politik tertentu, baik tingkat kelurahan/desa, kecamatan, kota/kabupaten, propinsi, maupun pusat.

Anak boleh jadi memilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Propinsi, maupun pusat; atau menjadi ketua RT, ketua RW, Lurah/Kepala Desa, Camat, Walikota/Bupati, Gubernur, Presiden, atau anggota Tim Penasihat Presiden. Untuk masing-masing jabatan publik tersebut diperlukan persyaratan tertentu.

Seirang insinyur bisa jadi presiden. Seorang jendral bisa jadi presiden. Seorang doktor bisa jadi presiden. Seorang kiai bisa jadi presiden. Memang, untuk menjadi Presiden RI hingga kini tidak dipersyaratkan memiliki gelar kesarjanaan S1.

Baca juga : Gaya Hidup Sehat ala Nashaihul ‘Ibad

Dalam konteks kekinian, jika anak itu sedang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, boleh jadi ia mendukung atau menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) untuk dilanjutkan pembahasannya menjadi UU HIP.

Dalam konteks profesi, di antara anak-anak ada yang “mewarisi” bakat dan profesi orang tuanya. Dari seorang penyanyi keren lahir penyanyi beken. Dari pebulutangkis handal lahir pebulutangkis bermental, dari mubaligh tersohor lahir mubaligh berkibar, dari bapak/ibu guru yang bijak terlahir guru yang bijak, dari bapak/ibu dokter ahli terlahir dokter spesialis, dari bapak/ibu presiden terlahir presiden, dari bapak menteri terlahir menteri, dan seterusnya.

Kita sepakat, bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan unik, dengan segala bakat yang terpendam sesuai karakteristik masing-masing. Tidak ada anak yang sama, bahkan anak kembar sekalipun berbeda juga bakat dan kemungkinan masa depannya.

Sebagian pakar berpendapat bahwa watak dan kepribadian manusia itu dibawa sejak lahir. Sebagian yang lain menambahkan bahwa di samping unsur pembawaan sejak lahir, manusia juga terbentuk oleh lingkungan dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya.

Baca juga : Menunaikan Amanah

Tugas orang tua, guru, dan pembimbing adalah mempertemukan anak-anak dengan bakat masing-masing.

Kecerdasan anak tidak dapat diukur dan ditentukan dengan melihat tinggi rendahnya nilai pelajaran matematika, IPA, dan ilmu-ilmu eksakta, serta mata-mata pelajaran lainnya.

Howard Gadner mengidentifikasi 9 bentuk kecerdasan sebagai kecerdasan majemuk. Semua anak cerdas, semua anak pintar, semua anak berbakat. Sayang, sedikit orang tua yang menyadarinya.

Dibutuhkan buku antologi kisah-kisah sukses mendidik anak menemukan fitrahnya. True story. Terutama kisah pribadi dalam mendidik putra/putri agar hidup mereka lebih berarti.

Beberapa orang tua berhasil mendidik anak mereka menghafal al-Quran, mendidik anak menjadi juara di bidang akademik, olahraga, seni, dan mendidik anak menemukan sejumlah kecerdasan. Ada pula orang tua yang berhasil mendidik anak-anak hiperaktif, kecanduan game, TV, anak-anak berkebutuhan khusus, dan sebagainya.

Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. beserta istri dan keluarga besar dalam wisuda salah satu putranya. (Foto: koleksi pribadi)

Bersyukur, kami mendapat karunia Allah swt tiga putra, laki-laki semua. Begitu menikah kami menyadari bahwa kami belum punya pengalaman sama sekali hidup berumah tangga. Kalaupun kami pernah membaca sejumlah buku tentang parenting, misalnya, kami jadi tambah mengetahui bahwa pengalaman benar-benar tidak kalah berharga daripada sejumlah teori.

Betapa dahsyat keteladanan Rasulullah saw dan pendidikan yang dituntunkan dalam hidup berumah tangga, termasuk persiapan jauh-jauh hari sebelum seseorang mumutuskan untuk berkeluarga.

Di antara pesan Rasulullah saw yang primadona adalah tentang memilih calon pasangan hidup. Baginda Rasulullah saw bersabda, kurang dan lebih demikian, “Wanita itu dinikahi dengan empat kriteria pertimbangan: agamanya, kecantikannya, nasabnya, dan hartanya. Prioritaskanlah aspek agamanya, niscaya engkau selamat dunia dan akhirat.”

Begitu dua sejoli mengikat janji menjadi pasangan suami-istri, Kanjeng Nabi saw berikan tuntunan adab dan etika hubungan seksual, antara lain berupa doa yang sangat bernas, “Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari anak keturunan yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Doa itu tidak cukup berhenti di tempat tidur saja. Kelak, bila Allah swt telah mengaruniakan anak, orang tua niscaya mengawal anak-anaknya agar tidak didekati setan dan terhindar dari segala pengaruhnya, serta diiringi pula dengan doa-doa lainnya.

“Tuhan, berikan kepadaku anak yang saleh.” (QS 37:100).

“Tuhan, kariniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari hadirat-Mu, Engkau Maha Mendengar segala doa.” (QS 3:38).

“Tuhan, jadikanlah pasangan-pasangan kami dan keturunan kami cendera mata bagi kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang yang bertakwa.” (QS 25:74).

“Tuhanku, berilah aku peluang untuk bersyukur atas nikmat-Mu yang Kau-limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan supaya aku dapat mengerjakan perbuatan baik yang Kau-ridai; berilah aku kebaikan bagi anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku tunduk kepada-Mu dalam Islam.” (QS 46:15).

Langkah pertama, begitu anak lahir orang tua memperdengarkan lafal Allah di telinganya, sekalipun sementara ulama berpendapat bahwa mengadzani bayi yang baru lahir itu bukan dari tuntunan Nabi saw.

Kedua, memberi nama anaknya dengan sebaik-baiknya, bukan sembarang nama, karena nama pada hakikatnya adalah doa pula.

Ketiga, mengakikahinya. Anak laki-laki dengan menyembelih dua ekor kambing, dan untuk anak perempuan seekor kambing. Sementara ulama berpendapat bahwa akikah bayi laki-laki dan perempuan itu sama, satu ekor kambing saja.

Lebih afdol lagi bila orang tua yang menyembelih sendiri hewan akikahnya. Saya pun telah berusaha melakukannya.

Berbeda dengan kurban, daging akikah dibagi kepada tetangga dan sanak saudara dalam keadaan sudah dimasak. Mereka yang menerima tinggal menyantap dan menikmatinya.

Baca juga : Sinyal Pendidikan dalam Al-Qur’an

Ada pula pasangan suami-istri muda yang banyak famili dan koleganya, selain para tetangga tentu saja. Maka, agar daging akikah merata dan dapat dikonsumsi bersama, dagingnya ditambah dari sembelihan lainnya.

Dewasa ini fenomena akikah ditangkap sebagai peluang rezeki. Maka, bermunculanlah usaha layanan akikah dengan jaminan syar’i. Konsumen tinggal berpesan secara rinci, dan bingkisan akikah dalam kemasan apik siap dibagi-bagi.

Keempat, mengenalkan anak dengan Tuhannya. Nabi Muhammad saw menuntunkan agar orang tua menyuruh (mengajari) anaknya melaksanakan shalat ketika berusia tujuh tahun, dan bertindak tegas dalam mengawasi anak menunaikan shalat ketika berumur sepuluh tahun, serta memisahkan tempat tidurnya antara anak laki-laki dan perempuan.

Nabi Muhammad saw pernah menunaikan shalat sambil menggendong cucunya. Baginda Rasulullah saw juga pernah berlama-lama sujud karena cucunya menduduki punggungnya.

Kelima, bila sudah tiba masanya, orang tua menikahkan anaknya. Lazimnya, orang tua anak laki-laki melamarkan gadis pilihan untuk putranya. Dan hak setiap gadis untuk menerima lamaran atau menolaknya.

Bukan hal tabu bila orang tua perempuan memilihkan dan dengan persetujuan putrinya melamar jejaka untuk dinikahkan dengan putri kesayangannya.

Selain berpegang pada empat kriteria memilih pasangan yang dituntunkan Rasulullah saw, tambahan kriteria yang rasional ialah memilih pasangan yang sekufu (seimbang, serasi) dari berbagai seginya.

Dalam konteks kekinian, pertimbangan itu antara lain tentang profesi, domisili, dan tempat kerjanya, baik sebelum menikah maupun kemungkinan setelahnya.

Tidak sedikit pasangan suami-istri terpaksa berpisah (bercerai) karena tuntutan kerja, diterminasi tempat kerja yang berjauhan dan tidak bisa ditawar-tawar.

Anak pertama kami beri nama Muhammad Taqiyuddin. Nama ulama sunni terkemuka yang popoler dengan sebutan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ulama yang multi talenta, pakar dalam berbagai cabang ilmu keislaman, yakni Al-Quran, hadis, fikih, akidah, tasawuf, filsafat, politik, dan ekonomi. Selain berhidmat sebagai mufti dan guru ngaji mingguan di masjid jami’, pada saatnya beliau juga memimpin pasukan perang melawan serbuan tentara Mongol.

Pendidikan formal anak-anak kami di TK ABA (Taman Kanak-kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal) Warungboto Umbulharjo. Pada sore harinya mereka belajar di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) di Warungboto juga.

Usai menempuh pendidikan di SDN Glagah, anak pertama kami melanjutkan belajar di KMI Gontor 6 tahun, kemudian kuliah S1 di ISID (sekarang UNIDA) lalu kuliah S2 di tempat yang sama. Kini ia ikut mengabdi menjadi Dosen bersama-sama istrinya di sana. Bapaknya sendiri kuliah di sana cuma sampai Sarjana Muda (BA).

Anak kedua kami bernama Muhammad Muthahhari. Muthahhari diambil dari nama ulama syiah terkemuka, Murtadha Muthahhari, dengan harapan kelak menjadi hamba Allah yang mukmin, muslim, alim, dan shalih, sebagaimana doa yang selalu dipanjatkan oleh kakek dan neneknya.

Usai menempuh pendidikan di SDN Glagah anak kedua kami melanjutkan belajar di SMP Muhammadiyah 7 Kotagede Yogyakarta, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, S1di AMIKOM Yogyakarta, dan menyelesaikan studi S2 pada Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Anak ketiga kami beri nama Muhammad Yusuf Musa. Ia lahir bertepatan dengan saat serah terima jabatan Presiden RI dari Pak Harto kepada BJ Habibie, 21 Mei 1998. Semula hendak kami beri nama Habibie, akan tetapi pakdenya sudah mengenakan nama itu, Habib Chirzin. Lalu kami ambil unsur Yusuf-nya. Ketepatan kami juga membaca buku Al-Quran wal Falsafah yang ditulis oleh Muhammad Yusuf Musa. Jadilah itu namanya. Muhammad Yusuf Musa.

Usai menempuh pendidikan di SDN Glagah anak ketiga kami melanjutkan belajar di SMP Muhammadiyah 7 Kotagede Yogyakarta, MAN 1 Yogyakarta, lalu kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.
Saat ini ia sedang menyusun skripsi. Ia ingin menempuh studi S2 di Belanda. Semoga.

Tugas orang tua, sebagaimana guru dan pendidik, adalah membantu anak-anak menemukan rencana Tuhan untuk dirinya.

Semoga putra-putri kita menjadi generasi yang berguna bagi masyarakat, umat, agama, dan bangsa, serta negara. []

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *